Kamis, 21 Juni 2018

MANGROVE – TAMBAK – TAMAN NASIONAL KARIMUNJAWA


Gambar peta aerial perambahan mangrove di Blok Cikmas, Resort Legon Lele, SPTN II Karimunjawa, TNKj dengan tujuan membuat tambak intensif (dokumen BTNKj)

MANGROVE – TAMBAK – TAMAN NASIONAL KARIMUNJAWA
(Isai Yusidarta, ST., M.Sc., Sutris Haryanta, S.H., Yusuf Syaifuddin S.Bio., M.A., Nugroho Dri Atmojo, SP., Mulyadi dan Agung Setiyadi)
Pulau – pulau yang menyusun Kepulauan Karimunjawa berjumlah 27 buah digolongkan menjadi pulau kecil karena luasannya kurang dari 2.000 km2. Secara teori karekteristik pulau kecil yang juga terdapat di Kepulauan Karimunjawa adalah 1).Terpisah dari pulau induk (mainland) sehingga bersifat insular; 2). Eksistensi pulau kecil dipengaruhi oleh ekosistem terumbu karang, hutan mangrove dan padang lamun: 3). Rentan terhadap perubahan lingkungan, baik oleh aktivitas manusia maupun bencana alam; dan 4). Keterbatasan sumber air tawar karena daerah tangkapan air terbatas bahkan tidak mempunyai cekungan air tawar di bawah tanah dan tidak ada kemandirian hasil tanaman pangan dari terestrial.
Berkaitan dengan eksistensi pulau kecil dipengaruhi oleh ekosistem mangrove di Kepulauan Karimunjawa dapat dilihat dari hasil penelitian Suryanti dkk, (2009) tentang perubahan luas hutan mangrove di Pulau Kemujan Taman Nasional Karimunjawa. Suryanti dkk, (2009) menyatakan bahwa luas hutan mangrove di Pulau Kemujan tercatat seluas 2,815 hektar pada tahun 1991 dan mengalami peningkatan rata-rata sebesar 0,02 hektar/tahun hingga tahun 2001. Sampai dengan tahun 2009 hutan mangrove di Pulau kemujan tercatat seluas 4,052 hektar dimana kondisi ini mengalami peningkatan rata-rata sebesar 0,14 hektar/tahun dari tahun 2001.
Arti dari angka – angka di atas adalah terdapat peluang hutan mangrove di Pulau Kemujan untuk bertambah luas. Harapan terbentuknya lahan baru juga besar mengingat vegetasi mangrove juga berperan sebagai sediment trap (perangkap sedimen) yang mengendapkan material terlarut dalam perairan  mangrove mempunyai peranan dalam membentuk lahan dan daratan baru ke arah laut. Sehingga luas Pulau Kemujan dapat bertambah.
Berkaitan dengan Re-born tambak dengan jenis udang vaname saat ini yang di budidayakan di Karimunjawa apakah perlu di larang? Apakah ekosistem mangrove di Kecamatan Karimunjawa hanya akan difungsikan untuk konservasi? Perlu kita lihat sejarah tambak udang periode 1 dan perbandingan dengan tambak di lokasi lain.
Profil Mangrove di Kemujan dan Karimunjawa
Profil mangrove di Pulau Kemujan dan Karimunjawa pada tahun 2009 dapat dilihat pada Gambar 1. Berdasarkan Gambar 1 tentang peta kelas kerapatan hutan mangrove  Karimunjawa tahun 2009, dapat diduga hal – hal sebagai berikut :
Pertama. Ekosistem mangrove di Pulau Kemujan dan Karimunjawa mempunyai ketebalan yang tipis, kecuali pada bagian selat yang memisahkan Pulau Kemujan dan Karimunjawa.
Ekosistem mangrove di kedua pulau terbesar di Karimunjawa tidak dipengaruhi oleh adanya masukan (inlet) air tawar yang berasal dari sungai secara rutin. Ekosistem mangrove tersebut telah beradaptasi dalam waktu yang lama dengan salinitas yang lebih tinggi dari tempat lain dan hempasan arus gelombang laut secara langsung. Penampakan morfologi hasil adapatasi alami yang lama dari vegetasi mangrove di bagian terluar tetap tumbuh dan berkembang normal dan tidak berbentuk perdu. Ini sangat berbalikan dengan di Taman Nasional Kepulauan Seribu (TNKS).
Di TNKS (termasuk pulau kecil dan tidak mempunyai masukkan air tawar), untuk membentuk ekosistem mangrove guna melindungi daratannya dari abrasi secara buatan menggunakan teknik gerombol (satu titik penanaman bisa menggunakan 10 - 20 batang pohon dan jarak antar titik kurang dari 1 meter). Vegetasi mangrove yang di tanam gerombol dari genus Rhizophora tumbuh, tetapi penampakan morfologinya tidak sempurna melainkan berbentuk perdu (kerdil).
 


 Gambar 1. Peta Kelas Kerapatan Mangrove pada Tahun 2009 (Sugiarto, 2009)
  
Catatan :
Pulau Kemujan dan Karimunjawa : Masukkan air tawar biasanya terjadi pada musim hujan melalui presipitasi langsung dari hujan di langit maupun runoff dari daratan yang sudah tidak mampu menahan presipitasi di atas hutan hujan dataran rendah di Kedua Pulau, apalagi kedua pulau tidak mempunyai cekungan air tanah (CAT).
Kedua. Ekosistem mangrove di Pulau Kemujan dan Karimunjawa yang berbatasan dengan perairan pesisir dalam kategori sangat rapat dan  rapat.
Gambar 2.   Kondisi ekosistem mangrove di sekitar Rabbit and carol housed daerah Cikmas. Garis merah adalah batas terluar bekas tambak pada periode 1.
Daerah di depan garis merah ke arah laut menggambarkan kondisi vegetasi mangrove yang mempunyai kerapatan tinggi dan sangat tinggi dengan ketinggian tegakan yang sama. Citra yang ditampilkan seperti permadani yang memanjang. Interpretasi yang dapat dimunculkan dari citra tersebut adalah tegakan vegetasi mangrove pada bagian depan bibir pantai mampu memainkan peran sebagai salah satu atau keseluruhan peran yaitu 1). Meredam kekuatan dari energi gelombang laut yang dapat menyebabkan abrasi; 2). Melakukan suksesi primer ke arah laut untuk menambah luas hutan mangrove; dan 3) Daerah penyangga atau buffer antara perairan laut dan tambak sehingga tambak tidak rusak oleh energi gelombang air laut.
Ketiga. Ekosistem mangrove di Pulau Kemujan dan Karimunjawa mulai bagian tengah hingga daratan termasuk dalam kategori sedang, jarang hingga sangat jarang;
Kondisi ini dapat diduga merupakan bekas peninggalan tambak udang pada periode 1 (tahun 1990-an) yang telah mengalami restorasi alami dalam waktu yang lama. Efek merusak lingkungan dari tambak udang windu yang dikelola secara sederhana pada periode 1 tambak udang tetap tampak pada tahun 2018. Gambar 3. Foto dari satelit yang diambil dari citra goole earth yang dipakai oleh situs marine traffic menunjukkan masih adanya bekas tambak yang masih utuh dan bekas tambak yang mulai ditutupi vegetasi mangrove. Waktu lebih dari  puluhan tahun untuk restorasi alami belum mampu menutup sempurna bekas tambak periode 1.
Jadi kondisi tegakan vegetasi mangrove dibagian tengah hingga daratan yaitu sedang, jarang hingga sangat jarang bukan oleh terjadinya “susksesi sekunder”. Suksesi sekunder seringkali terjadi di bagian belakang ke arah daratan. Suksesi sekunder terbentuk ketika bagian ekosistem mangrove sudah mencapai klimaks yaitu lapisan substrat lebih tinggi atau tidak terkena waterlogged (genangan) seperti biasanya, sehingga tegakan mangrove di bagian tersebut mati. Selanjutnya substrat tersebut ditumbuhi oleh rumput perintis dan akhirnya menjadi daratan murni. Tanda – tanda dimulainya suksesi sekunder saat ini dapat dilihat pada saat jalan di trekking mangrove Kemujan setelah tempat pemungutan karcis berjalan ke laut sekitar 200 meter sebelah kiri akan diketemukan rumput perintis dalam luasan yang “cukup” diantara mangrove di sekitarnya mulai tidak normal seperti tidak subur.

Gambar 3.   Gambar tambak di atas letakknya di sebelah timur Rabbit and carol house daerah Cikmas Karimunjawa. Tampak kondisi tutupan tegakan vegetasi mangrove secara visual sedang, jarang hingga sangat jarang.
Perbandingan Pantura Jawa Tengah
Mari kita lihat perbandingan dengan tambak yang ada di daerah Pantai Kaliwungu – Kendal, Pantai Gojoyo – Demak, Pantai Kartini – Jepara dan Pantai Sluke – Rembang. Perhatikan gambar – gambar selanjutnya di bawah ini.
Citra yang ditunjukkan oleh gambar 4 dan 5 adalah penampakan kondisi tambak di daerah pantai Kaliwungu – Kendal dan Gojoyo - Demak. Pada tambak bagian paling depan di kedua lokasi tersebut lapisan tegakan vegetasi mangrove terlihat kosong (tidak ada sama sekali). Pematang/ tanggul petak tambak terlihat langsung berhadapan dengan perairan laut terbuka. Kondisi ini menyebabkan terdapat petak tambak yang jumlah pematang atau tanggul hilang yang akhirnya tambak tersbut dapat hilang tidak berbekas.
Memang ada tegakan vegetasi mangrove pada kedua lokasi, tetapi sifatnya hanya spot – spot yang tersebar dan sangat tipis. Padahal tegakan vegetasi mangrove akan berfungsi jika rapat, sambung menyambung tanpa jarak serta mempunyai ketebalan yang cukup untuk untuk dapat memainkan peranan sebagai buffer antara tambak dengan perairan laut terbuka. Baik tambak di pantai Kaliwungu maupun di Gojoyo, lokasinya masih jauh dari pemukiman penduduk (daerah urban).
Gambar 4.   Kondisi tambak di daerah pesisir Kaliwungu Utara, Kabupaten Kendal.

Gambar 5.   Kondisi tambak di daerah Gojoyo, Kabupaten Demak.

Gambar 6.   Tambak di pesisir pantai Sluke, Kabupaten Rembang.

Gambar 7.   Tambak udang vaname di Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP), Kabupaten Jepara.
Pada gambar 6 dan 7, meunjukkan lokasi tambak di sekitar pemukiman padat penduduk, bahkan padat oleh kegiatan industri mengingat merupakan daerah yang berhimpitan dengan pelabuhan yaitu pelabuhan Tanjung Bonang di Sluke dan BBPBAP di tengah kota Jepara. Bahkan tambak di BBPBAP Jepara sudah dikelilingi oleh pemukiman padat penduduk dan berbagai kegiatan yang dapat menghasilkan berbagai macam limbah baik rumah tangga, industri usaha kecil dan menengah, limbah organik dari usaha perkayuan (ukiran) dan lain-lain. Tambak di pantai Sluke maupun di BBPAP Jepara sudah tidak memiliki ekosistem mangrove sama sekali. Tambak di BBPA Jepara inlet air laut hanya berasal dari sebuah saluran.
Tambak di Pantai Sluke masih berhubungan langsung dengan perairan laut terbuka di bagian utara, barat dan timur. Bagian selatan sudah dikelilingi oleh kegiatan rumah tangga dan industri pengeolahan hasil tangkapan ikan serta kegiatan di pelabuhan Tanjung Bonang yang menunjukkan peningkatan pendaratan kapal yang mengangkut batu bara untuk keperluan pembangkit listrik tenaga uap di Rembang.
Jadi tambak di Sluke - Rembang dan BBAP Jepara, sama – sama tidak memiliki ekoistem mangrove yang menjadi ciri khas pantai utara Jawa Tengah sebelum adanya kegiatan pertambakan.
Kondisi Usaha Tambak di Daerah Pembanding
            Berdasarkan pengamatan terhadap citra satelit yang di peroleh dan data- data yang di dapatkan dari berbagai sumber  maka dapat diuraikan bahwa lokasi tambak keempat daerah pembanding dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Perbandingan kondisi tambak di Kaliwungu, Gojoyo, Sluke dan BBAP Jepara
No.
Objek
Lokasi
Kaliwungu
Gojoyo
Sluke
BBPBAP
1
2
3
4
5
6
1.
Jenis Tambak
Sederhana
Sederhana
Intensif
Intensif
2.
Biota budidaya
Vanname dan Bandeng
Vanname dan Bandeng
Vanname
Vanname
3.
Pemilik
Investor‑1
Investor1
Investor1
Investor2
4.
Pengelola
Maslok3
Maslok3
Maslok3
Investor2
5.
Kemungkinan Ijin
TPUPI4
TPUPI4
TPUPI4
TPUPI5
6.
Ancaman saat ini
Abrasi
Abrasi
Abrasi dan Limbah pabrik
Limbah rumah tangga
7.
Ancaman yang akan datang
Limbah pabrik
Limbah pertanian
Lokasi Saturated
Beban investasi
8.
Tambak bagian depan6
Berjalan normal
Berjalan normal
Berjalan normal
-
8.
Tambak bagian belakang7
Mulai dibiarkan
Berjalan normal
Ditinggalkan
Berjalan normal
9.
Perubahan Tenurial
Pabrik (KIK)8
-
Pabrik
Perumahan & industri RT
10.
Kondisi investasi
Berjalan
Berjalan
Kolaps
Berjalan
 Catatan :
1 : investasi perorangan pembiayaan perorangan
2 : instansi pemerintah untuk pendidikan dan pelatihan budidaya perikanan dengan pembiayaan APBN
3 : masyarakat lokal
4 : ijin perorangan untuk pembudidaya ikan kecil
5 : ijin instansi yang dikecualikan untuk SIUP (Surat Ijin Usaha Perikanan)
6 : tambak yang berada di bagian tepi laut
7 : tambak yang berada di dekat daratan
8 : Kawasan Industri Kendal

            Berdasarkan tabel 1 di duga, tambak di pantai Sluke mulai kolaps ditinggalkan para investor perorangan pemegang TPUPI sesuai Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 49/Permen-KP/2014 Tentang Usaha Pembudidayaan Ikan. Kondisi ini disebabkan oleh air sebagai media tambak udang dan substrat di sekitar tambak sudah jenuh (saturated). Sudah jenuh yang dimaksud disini yaitu tercemar oleh limbah hasil buangan tambak pasca panen dan hasil sisa produksi industri yang berkembang di sekitar pelabuhan Tanjung Bonang, Sluke dan berakibat munculnya penyakit yang menyerang udang sehingga produksi gagal. Investor dan pengelola pun mengalami kerugian.
Penggunaan metoda tambak intensif merupakan pilihan terakhir, untuk mensiasati kondisi lingkungan sekitar tambak yang sudah “tidak subur”. Tidak subur dalam arti tidak terdapat kondisi ekosistem mangrove yang mampu memainkan peran sebagai buffer filter terhadap senyawa – senyawa yang tidak berguna hasil buangan dari tambak disekitarnya, dan limbah baik rumah tangga maupun industri.
Konsekuensi yang timbul dari pemilihan metoda tambak intensif adalah meningkatnya biaya produksi dibandingkan metoda tambak sederhana. Peningkatan biaya produksi, jika tidak diikuti oleh peningkatan nilai jual udang di pasar tentunya akan menghasilkanl hitungan BCR (benefit – cost ratio) menjadi kecil. Kondisi ini mengancam dan investor – pengelola tidak lagi mendapatkan keuntungan. Hal inilah yang terjadi di tambak pesisir Sluke, investor – pengelola berani me-relokasi investasinya ke Kepulauan Karimunjawa
.
Kotak 1.    Berita yang memuat perubahan tenurial kawasan tambak di Kaliwungu sebagai kawasan industry dan penawaran penjualan tambak masyarakat untuk kegiatan industri di sekitar Kawasan Industri Kendal.



Tambak di Kaliwungu merupakan tambak metoda sederhana, terdesak oleh peruntukan tata ruang yaitu perubahan tenurial untuk Kawasan Industri Kendal (KIK). Perubahan tenurial ini  dengan alasan sudah “tidak produktif”. Sesuai Tabel 1, tambak di bagian belakang mulai ditinggalkan karena perhitungan BCR dari tambak metode sederhana sudah “tidak produktif” atau keuntungan berkurang. Sedangkan untuk meningkatkan menjadi tambak intensif juga terbentur dengan permodalan dan keahlian mengelolanya yang berbeda dengan tambak sederhana. Hal ini lah yang kemudian menjadi pemikiran oleh pemerintah daerah untuk merubah tambak menjadi kawasan industri. Hal ini sudah direncanakan sejak tahun 2014 dan peresmian dilaksanakan pada 14 Nopember 2016. Pembangunannya secara bertahap. Pada tahun 2021 diharapkan lahan bekas tambak yang di sulap menjadi kawasan industri mencapai 860 hektar.
Pulau Kecil Yang Hilang di Semarang
Berkaitan dengan Re-born tambak dengan jenis udang vaname saat ini yang di budidayakan di Karimunjawa apakah perlu di larang? Apakah ekosistem mangrove di Kecamatan Karimunjawa hanya akan difungsikan untuk konservasi?
            Menjawab pertanyaan di atas, marilah kita melihat sejarah tenggelamnya Pulau Tirang di pesisir utara Kota Semarang.dari kacamata pemberitaan dari media massa elektronik dan media sosial blogger di bawah ini. Kisah Pulau Tirang ini dimuat kembali 6 bulan yang lalu melalui media elektronik JATENGTODAY.COM (lingkaran hijau). Poin –poin penting dalam pemberitaan ini, saya lingkari dengan warna merah, sebagai bahan permenungan dan pembelajaran untuk pulau kecil lainnya terutama di Kepulauan Karimunjawa. 

Box 2. Berita tentang Pulau Tirang di Pesisir Utara Kota Semarang Yang Hilang Tenggelam

            Pulau Tirang, awalnya merupakan ikon wisata hutan mangrove pulau kecil di utara kota Semarang. Berbagai jenis mangrove tumbuh dan memainkan peran ekologi, yang memberikan kehidupan berbagai keanekaragaman hayati seperti jenis – jenis burung dan biota laut yang dapat diamati oleh wisatawan yang berkunjung dengan menggunakan perahu melintasi pulau tersebut. Memberikan matapencaharian bagi penduduk sekitar melalui kegiatan wisata.
Pulau Tirang sebagai pulau kecil menghadapi tekanan seperti : 1) Penebangan sebagaian ekosistem mangrove untuk tambak udang dan bandeng; 2) Abrasi oleh gelombang air laut yang mengakibatkan badan pulau tenggelam terkikis air laut; dan 3) Kerusakan lingkungan akibat limbah dari sejumlah pabrik mengakibatkan kawasan mangrove Pulau Tirang yang tersisa (karena penggunaan sebagaian untuk tambak) teracuni dan mati.
Kondisi Pulau Tirang membuktikan bahwa eksistensi pulau kecil dipengaruhi oleh ekosistem hutan mangrove dan rentan terhadap perubahan lingkungan, baik oleh aktivitas manusia maupun alam. Habisnya hutan mangrove di Pulau Tirang akibat penggunaan sebagian ekosistem mangrove untuk lahan tambak, keberadaan buangan limbah pabrik dan abrasi telah menenggelamkannya.
Bagaimana di Kemujan dan Karimunjawa?
            Tekanan pulau Kemujan dan Karimunjawa pada periode tahun 1990-an sampai dengan 2000-an adalah 1) Penebangan tegakan vegetasi mangrove untuk lahan tambak udang windu; 2) Penebangan mangrove untuk pemukiman; 3) Limbah buangan dari tambak metoda sederhana untuk pembudidayaan udang windu; dan 4) Ancaman energi gelombang air laut (abrasi).
            Pada periode di atas, tekanan – tekanan terhadap Pulau Kemujan dan Karimunjawa di daerah pesisir masih dapat di toleransi. Ekosistem mangrove di sana telah menunjukkan daya lentingnya, walapun memerlukan periode waktu puluhan tahun atau minimal 17 tahun dari tahun 2000-an pada saat tambak udang windu mulai kolaps. Daya lenting yang diperankan oleh ekosistem hutan mangrove di Kemujan dan Karimunjawa telah mengakibatkan adanya restorasi alami pada bekas lahan tambak (lihat sub bab - Profil Mangrove di Kemujan dan Karimunjawa yang datanya didapatkan tahun 2009 dan citra google tahun 2017).
            Tekanan Pulau Kemujan dan Karimunjawa telah dimulai lagi pada tahun 2017 yang saya sebut periode Re-born tambak udang. Tekanannya berupa : 1) Penebangan tegakan vegetasi mangrove yang telah mengalami daya lenting melaluii restorasi alami; 2)Penebangan mangrove untuk sarana wisata; 3)Pembuatan tambak udang metode intensif; 3) Limbah buangan tambak udang intensif; 4) Galian C berupa tambang pasir di daerah pesisir; dan 5) Ancaman energy gelombang laut (abrasi).
            Tekanan menjadi semakin berat pada periode re-born tambak udang. Mengapa? Tambak intensif dicirikan dengan penggunaan pakan buatan yang hampir 100%, terpal plastik untuk memisahkan dengan substrat dasar, kincir air untuk meningkatkan oksigen terlarut, siphon untuk membuang lumpur dan sisa pakan yang tidak tercerna dan pencucian (saponin : pestisida organik) tambak pasca panen. Kondisi di atas akan menghasilkan akumulasi limbah buangan pasca panen yang mempunyai beban tinggi pada lingkungan.
Mengapa mempunyai beban lingkungan yang tinggi? Kuncinya penggunaan pakan buatan. Limbah tambak udang berupa sisa pakan dan feses. Sisa pakan berupa unsur organik yang dapat mengganggu keseimbangan ekosistem pantai. Akumulasi unsur organik di lingkungan perairan (ekosistem mangrove dan laut) dapat meningkatkan populasi alga (blooming algae). Blooming algae menyebabkan kondisi perairan menjadi anoksigen dapat mengganggu komunitas biota laut yang dapat menyebabkan kematian massal.
Limbah tambak udang juga memicu munculnya senyawa tereduksi seperti NH3, CH4, dan H2S yang bersifat toksik (racun) sehingga dapat membunuh semua mahluk hidup yang ada tidak terkecuali ikan, makrobentos maupun tegakan vegetasi mangrove.
            Ancaman tambak udang periode re-born kali, bukan sekedar mengancam eksistensi Pulau Kemujan dan Karimunjawa sebagai pulau kecil ataupun keutuhan ekosistem mangrove baik di dalam maupun di luar kawasan konservasi. Ancaman akhir bagi pengelolaan Taman Nasional Karimunjawa yaitu :
1.      Kolaps-nya industri wisata;
Kolaps-nya industri wisata di Karimunjawa disebabkan rusaknya obyek daya tarik wisata utama yaitu ekosistem terumbu karang terutama keindahan karang dan keanekaragaman ikan. Selain kualitas perairan sebagai media snorkeling dan diving tidak layak lagi untuk wisatawan sesuai peraturan menteri lingkungan hidup.
Kolaps-nya industri wisata di Karimunjawa bersamaan dengan hancurnya perikanan tangkap di zona tradisional yang selama ini memenuhi kebutuhan ikan tangkap untuk wisatawan dan masyarakat lokal.
2.      Hilangnya pesisir pantai hingga tenggelamnya pulau Karimunjawa dan Kemujan.
Kematian massal tegakan mangrove memperbesar peluang abrasi pada pesisir yang ada, karena tidak ada lagi kemampuan untuk meredam energi gelombang air laut dan kemampuan sediment trap.      

NH3, CH4, dan H2S

Blooming algae

Ter- reduksi

Kondisi Anaerob

Kondisi Toksik

Senyawa toksik terlarut

Perairan

Kematian massal ikan, karang, makrobentos dll

Ekosistem Terumbu Karang dan Lamun rusak

Industri Wisata Kolaps

Substrat dan perairan mangrove

Kematian massal tegakkan mangrove

Abrasi

Pesisir pantai hilang hingga lenyapnya pulau kecil

Energi gelombang air laut
 

Gambar 8. Bagan alur pengaruh tambak intensif terhadap Taman Nasional Karimunjawa.

Sedangkan bagi nelayan yang berbasis di Pantai Utara Jawa Tengah kondisi seperti yang digambarkan pada Gambar diagram alur di atas akan mengakibatkan hilangnya plasma nutfah sebagai sumber daya alam bidang perikanan tangkap. Melalui sosialisasi rutin tahunan oleh petugas Balai TNKj, masyarakat nelayan pantura Jawa Tengah telah mengetahui bahwa perairan TNKj merupakan kawasan konservasi. Stakeholder tersebut selama ini memanfaatkan spilover ikan dengan menangkap diluar kawasan TNKj. Karena di dalam TNKj untuk mengakomodasi perikanan tangkap hanya terdapat zona perikanan tradisional yang penangkapannya hanya menggunakan peralatan tradisional yang ramah lingkungan dan untuk masyarakat lokal/ setempat.

Gambar 8. Tambak intensif yang sedang dikembangkan di Pulau Karimunjawa