Senin, 06 Maret 2017

ISOLASI DAN KARAKTERISASI SENYAWA ANTIOKSIDAN ALKALOID DARI SPONGE PERAIRAN KUPANG, NUSA TENGGARA TIMUR

History dari Teluk Kupang

ISOLASI DAN KARAKTERISASI
SENYAWA ANTIOKSIDAN ALKALOID
DARI SPONGE PERAIRAN KUPANG, NUSA TENGGARA TIMUR
Andi Setiawan,1 Peni Ahmadi,1 dan Isai Yusidarta.2

Jurusan Kimia FMIPA Universitas Lampung, Bandar Lampung
2 Balai Besar KSDA NTT, Kelapa Lima, Kupang.

ABSTRAK
Telah dilakukan skrining senyawa antioksidan pada lima jenis sponge A01, A08, C21, K70 dan K72 yang diperoleh dari perairan Taman Wisata Laut (TWL) Teluk Kupang. Hasil uji aktivitas antioksidan menggunakan pereaksi DPPH 0,1 mM terhadap ke lima ekstrak metanol sampel secara berturut-turut menunjukkan persen inhibisi radikal bebas A01 4,3%, A08 6,85, K70 7,4%, C21 22,7% dan K72 25,25%. Analisis lanjut ektrak metanol sampel C21 setelah melalui beberapa tahapan kromatografi diperoleh isolat senyawa PN10 dengan aktifitas persen inhibisi sebesar 65,69%. Karakterisasi isolat PN10 menggunakan pereaksi spesifik Dragendrof dan ninhidrin pada kromatografi lapis tipis (KLT) menunjukkan bahwa senyawa PN10 merupakan senyawa alkaloid tersier. Hasil intepretasi spektrum IR isolat PN10 yang diukur menggunakan teknik FTIR-ATR memperlihatkan karakteristik serapan bilangan gelombang pada daerah 1326,52 cm-1 untuk C=N-C-, kemudian 1429,10 cm-1 untuk vibrasi tekuk C-N, dan 1020 cm-1 untuk vibrasi ulur ikatan -C-N-. Berdasarkan hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa isolat PN10 dari sponge C21 merupakan senyawa alkaloid tersier yang memiliki potensi sebagai  senyawa antioksidan dengan persen inhibisi radikal bebas sebesar 65,69 % pada konsentrasi 25 ppm.
Kata Kunci: Antioksidan, Alkaloid, Sponge, DPPH.
PENDAHULUAN
Perairan TWL Teluk Kupang, Nusa Tenggara Timur merupakan salah satu kawasan Indonesia yang memiliki potensi yang kaya akan keanekaragaman biota laut. Berbagai jenis biota laut seperti soft coraltunicate, dan sponge dapat dijumpai dengan mudah di perairan Kupang pada kedalaman 3 sampai 30 meter. Kondisi ini tidak saja berpotensi untuk tujuan pengembangan pariwisata dan budidaya laut tetapi juga dapat dijadiakan sebagai sumber kajian ilmiah berkaitan dengan sumber senyawa bioaktif baru dari biota laut guna pengembangan industri farmasi.
Hingga saat ini, studi mengenai pemanfaatan potensi senyawa bioaktif yang bersumber dari biota laut untuk pengembangan industri farmasi masih terus dilakukan. Sponge merupakan salah satu target biota laut yang secara  intensif di kaji guna mendapatkan berbagai informasi mengenai senyawa bioaktif baru. Berdasarkan hasil kajian yang telah di lakukan dalam satu dekade terakhir ini khususnya di perairan Indonesia menunjukkan bahwa sponge memiliki keragaman struktur kimia dengan bioaktifitas yang berbeda-beda. Beberapa jenis senyawa bioaktif yang berhasil diisoalsi antara lain Agosterol A, senyawa polihidroksi sterol asetat, dengan aktivitas sebagai reversal agent terhadap sel tumor yang telah resisten terhadap senyawa anti kanker (Aoki S., et al., 1999), senyawa manadomanzamine A dan B yang memiliki aktivitas sebagai antimikobakteria dan HIV-1 (Peng J., et al., 2003), senyawa fenolik eter terbrominasi dengan aktifitas sebagai antibakteria (Hanif N., et al., 2007), serta
senyawa sesquiterpen aminoquinone, dysideamine, dengan aktivitas menghambat pertumbuhan spesies senyawa yang sangat reaktif terhadap oksigen (Suna H., et al., 2009).
Dalam menindak lanjuti kajian kami untuk mendapatkan senyawa-senyawa bioaktif dari laut khususnya sponge, maka dalam penelitian ini telah dilakukan upaya untuk mengisolasi, mengkarakterisasi dan penapisan senyawa antioksidan dari lima jenis sponge yang diperoleh dari perairan TWL Teluk Kupang, Nusa Tenggara Timur.
Pengujian terhadap ekstrak sponge dan hasil isolat senyawa antioksidan dilakukan secara in vitro menggunakan pereaksi DPPH dengan standar pembanding vitamin C.
METODOLOGI PENELITIAN
SURVEY DAN SAMPLING
Delapan puluh empat sampel biota laut diambil secara acak dengan menggunakan teknik scuba di perairan TWL Teluk Kupang NTT pada tanggal 8 sampai 15 Agustus 2009.
EKSTRAKSI SENYAWA ALKALOID
Untuk mendapatkan ektrak alkaloid, sampel spnge yang telah diperoleh dipotong kecil-kecil dan dikering anginkan, kemudian di rendam dengan metanol lalu disaring untuk memisahkan filtrat dengan residu sponge. Filtrat yang diperoleh dipekatkan dengan mesin pemutar vakum BUCHI R210 pada temperatur 380C, kemudian ekstrak metanol yang diperoleh dipartisi dengan menggunakan pelarut dikloro metan (DCM) dengan air (1:1). Fraksi polar selanjutnya dipisakan dan dipekatkan kembali dengan pemutar vakum. Hasil
pemekatan yang diperoleh kemudian dilarutkan kembali dalam pelarut metanol sebagai ektrak metanol.
PENAPISAN AWAL SENYAWA ANTIOKSIDAN ALKALOID
Terhadap ekstrak metanol sponge perairan Kupang, dilakukan penapisan awal dengan metode cepat microplatereader DPPH (1,1-Diphenyl-2-picrylhydrazyl). Metoda ini bergantung pada reduksi warna ungu DPPH menjadi kuning dari diphenyl picrylhydrazine. Perubahan warna yang terjadi diukur dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 419 nm. Larutan DPPH dibuat dengan cara melarutkan DPPH 1,3 mg dalam metanol sebanyak 2,5 mL, sehingga diperoleh konsentrasi DPPH 1,27 mM (Takao et al., 1994; Akhanovna et al., 2008). Mengingat senyawa DPPH sangat sensitif terhadap cahaya maka diupayakan agar pengaruh cahaya pada saat pengukuran sampel seminimal mungkin. Untuk identifikasi alkaloid di uji secara KLT dengan pereaksi spesifik Dragendorff dan ninhidrin.
KROMATOGRAFI KOLOM GRAVITASI LANDAIAN
Ektrak metanol sponge yang memiliki aktivitas sebagai antioksidan selanjutnnya difraksinasi melalui beberapa tahapan kolom kromatografi landaian. Pada proses kolom kromatografi fase gerak yang digunakan merupakan.campuran DCM : MeOH dan silika gel sebagai fasa diam. Hasil fraksinasi dari setiap fraksi yang diperoleh dimonitor dengan metoda KLT menggunakan pereaksi spesifik DPPH untuk mengidentifikasi senyawa antioksidan dan pereaksi Dragendrof dan ninhidrin untuk mengidentifikasi komponen alkaloid.
UJI KUALITATIF ANTIOKSIDAN
Uji aktivitas antioksidan terhadap isolat antioksidan alkaloid dilakuan dengan cara melarutkan larutan stok sampel 1 mg/mL hingga di dapat konsentrasi akhir pada saat pengukuran menjadi 5, 10, 25, 50, dan 100 ppm.
Untuk masing-masing konsentrasi diambil 100 􀀀L dan dimasukkan ke dalam plate wells kemudian ditambahkan DPPH sebanyak 100 􀀀L disetiap wells sehingga konsentrasi akhir DPPH dalam larutan adalah 0,1 mM. Perlakuan yang sama dilakukan terhadap terhadap vitamin C sebagai kontrol positif dan metanol sebagai blanko. Pengukuran sampel dilakukan dengan menggunakan microplate readerpada panjang gelombang 492 nm. Larutan DPPH 0,2 mM dibuat dengan melarutkan DPPH sebanyak 0,4 mg ke dalam 5 mL metanol (modifikasi dari metode Marxen et al., 2007).
% Inhibisi = [(C-S)/C] x 100
Keterangan :
Nilai C merupakan nilai absorbansi blanko.
Nilai S merupakan nilai absorbansi sampel.
KARAKTERISASI ISOLAT ANTIOKSIDAN ALKALOID
Senyawa alkaloid hasil isolasi ekstrak metanol dari sponge dikarakterisasi secara fisika dan kimia. Analisis gugus fungsi pada struktur alkaloid di dasarkan pada spektrum serapan IR pada daerah bilangan gelombang 4000 - 600 cm-1. Interpretasi spektrum di fokuskan pada serapan di daerah 3400-3300 cm-1 untuk vibrasi N-H dari gugus amina primer dan sekunder. Selanjutnya juga diamati untuk karakteristik gugus fungsi N primer, sekunder dan tersier pada daerah disekitar 1300-900 cm-1. Sedangkan untuk mengkonfirmasi adanya gugus amina picrylhydrazyl). Metoda ini bergantung pada reduksi warna ungu DPPH menjadi kuning dari diphenyl picrylhydrazine. Perubahan warna yang terjadi diukur dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 419 nm. Larutan DPPH dibuat dengan cara melarutkan DPPH 1,3 mg dalam metanol sebanyak 2,5 mL, sehingga diperoleh konsentrasi DPPH 1,27 mM (Takao et al., 1994; Akhanovna et al., 2008). Mengingat senyawa DPPH sangat sensitif terhadap cahaya maka diupayakan agar pengaruh cahaya pada saat pengukuran sampel seminimal mungkin. Untuk identifikasi alkaloid di uji secara KLT dengan pereaksi spesifik Dragendorff dan ninhidrin.
KARAKTERISASI SPIKULA SPONGE
Karakterisasi sampel sponge di lakukan berdasarkan pengamatan spikula terhadapsponge yang berpotensi mengandung senyawa antioksidan paling tinggi. Proses pengerjaan melalui tahapan sebagai berikut, sponge diiris kecil ± 0,5 cm3, kemudian dimasukkan dalam tabung reaksi dan ditambahkan asam nitrat pekat secukupnya. Campuran ini kemudian dipanaskan di atas pengaduk magnetik hingga terlarut sempurna, kemudian ditambahkan akuades dan diamkan selama dua jam agar spikula mengendap atau jika tidak mengendapdilakukan centrifugepada 6000 rpm selama 20 menit. Endapan yang diperoleh dicuci sebanyak 2 – 3 kali dengan alkohol absolut sebanyak 1mL untuk menghilangkan kotoran yang tersisa. Endapan diamati di bawah mikroskop Zeiss A10 dengan perbesaran 400x untuk mengetahui bentuk spikulanya (Bell et al.,2005).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Sampel sponge diambil secara acak dengan menggunakan teknik scuba pada kedalaman 3-31 meter di Perairan TWL Teluk Kupang. Dari hasil pengambilan sampel sponge di perairan Teluk Kupang diperoleh sampel sebanyak 84 sampel. Secara umum pengambilan sampel di bagi pada sembilan lokasi pengambilan sampel yang berbeda, seperti terlihat pada Tabel 1. Hasil pengamatan dari bentuk morphologi 84 sampel biota laut teridentifikasi 80 sampel sponge dan 4 tunicate.
Tabel 1. Lokasi pengambilan sampel di Kupang
No
Nama Lokasi
Koordinat
Jumlah
Sampel
Kedalaman (meter)
1.
Tabulolong
S 10º18'52.3"- T 23º28'39.7"
20
10-15
2.
Pos Polair
S 10º13'07.4"- T 23º20'36.2"
11
24
3.
Tabulolong (Barat, 300 Mtr)
S 10º13'48.5"- T 23º26'01.5"
19
8-25
4.
Tabulolong (Timur, 300 Mtr)
S 10º08'45.5"- T 123º29'18"
13
3,3-31
5.
Buluinan
S 10º08'56.6"- T 123º23'11.8"
7
25
6.
Hansini
S 10º10'16.0"- T 123º30'30.7"
6
27
7.
Sekitar Polair
S 10º13'10.9"- T 123º30'18.6"
3
30,1
8.
Tabulolong (Barat, 1Km)
S 10º13'16.0"- T 123º29'47.7"
4
30,5
9.
Sekitar Hansisi
S 10º12'21.8"- T 123º30'30.3"
1
30,6

Berdasarkan data pada Tabel 1. terlihat bahwa keanekaragaman sponge di Kupang paling banyak berturut-turut ditemukan di Tabulolong pada kedalaman berkisar antara 10-15 meter yaitu sebanyak 20 jenis sponge, Tabulolong (300 meter kearah Barat) pada kedalaman 8-25 meter yaitu 19 jenis sponge, Tabulolong (300 meter kearah Timur) pada kedalaman 3,3-31 meter sebanyak 13 jenis sponge, Kawasan Pos Polair pada kedalaman 24 meter sebanyak 11 jenis  sponge, Daerah Buluinan pada kedalaman 25 meter sebanyak 7 jenis sponge, Tabulolong (1 Km kearah Barat) pada kedalaman 30,5 meter sebanyak 4 jenis sponge, dekat kawasan sekitar Polair pada kedalaman 30,1 meter sebanyak 3 jenis sponge, dan sekitar Hansini pada kedalaman 30,6 meter sebanyak 1 sponge.
Perbedaan keanekaragaman sponge di suatu daerah perairan dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain kejernihan air, kedalaman, intensitas sinar matahari dan arus (Bell et al., 2005). Jika dilihat dari data tersebut, jenis sponge terbanyak diperoleh di Tabulolong pada kedalaman 10-15 meter, hal ini dimungkinkan karena sponge masih mendapatkan cahaya matahari yang cukup di dukung perairan yang jernih. Sedangkan paling sedikit sponge ditemukan di daerah dekat Hansisi yaitu pada kedalaman 30,6 meter dengan kondisi dasar berlumpur dimana pada kedalaman tersebut tentunya hanya memperoleh sedikit cahaya. Dengan kata lain semakin dalam suatu perairan maka semakin sedikit cahaya yang dapat menembus sehingga berakibat pada semakin sedikitnya keragaman sponge yang dapat tumbuh. Pada kondisi tersebut hanya jenis sponge tertentu saja yang memiliki kemampuan tumbuh pada daerah yang kurang cahaya matahari.
Dari hasil 80 sampel sponge yang diperoleh dipilih 5 jenis sponge (A01, A08, C21, K70, dan K72) untuk dilakukan uji awal DPPH, dengan pertimbangan antara lain ketersediaan jumlah sampel yang memadai, ketersediaan data sebelumnya serta keunikan sponge. Spesifikasi kelima jenis sponge ini dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Spesifikasi sampel sponge A01, A08, C21, K70, dan K72
No
Kode Sampel
Kedalaman (meter)
Lokasi
Spesies
1
A01
10-15,9
Tabulolong
Stylissa carteri
2
A08
10-15,9
Tabulolong
Leucetta sp
3
C21
24,6
Pos Polair
Aaptos sp
4
K70
28
Hansisi
Belum teridentifikasi
5
K72
28
Hansisi
Ianthella basta

PENAPISAN SENYAWA ALKALOID ANTIOKSIDAN
Hasil penapisan dengan menggunakan metode microplate reader 96 wells untuk satu kali pengoperasian terhadap kelima ekstrak metanol sampel sponge secara berturut-turut menunjukkan persen inhibisi radikal bebas sebagai berikut, A01 4,3%, A08 6,85%, K70 7,4%, C21 22,7% dan K72 25,25%. Terukurnya aktivitas senyawa antioksidan di setiap ekstrak metanol sponge dapat disebabkan oleh adanya komponen-komponen sampel dari golongan flavonoid (polifenol) (Grube et al., 2007), terpenoid (Topcu et al., 2007) ataupun senyawa alkaloid yang telah berhasil diisolasi dari tanaman (Shaheen et al., 2005) dan algae (Maiza-Benabdesselam et al., 2007).
Dari kelima jenis sponge di atas, ekstrak metanol sponge K72 memiliki persen inhibisi radikal bebas paling besar (25,6%). Namun untuk kajian lebih lanjut, analisis dan isolasi selanjutnya difokuskan pada sponge C21 dengan mempertimbangkan ketersediaan sampel sponge C21 bila dibandingkan dengan ketersediaan sponge K72 yang relatif sangat terbatas. Lebihlanjut, ditinjau dari aspek aktifitas, ektrak metanol sponge C21 memperlihatkan nilai persen inhibisi (22,7%) yang relatif tidak jauh berbeda dibanding dengan ekstrak K72.
Hasil analisis menggunakan metoda KLT pada ekstrak kasar C21 dengan menggunakan pereaksi DPPH dan Dragendorf dapat dilihat pada Gambar 1. Data yang diperoleh menunjukkan bahwa ekstrak metanol dari sponge C21 memiliki komponen alkaloid terlihat dari adanya bercak berwarna jingga setelah direaksi dengan pereaksi ragendrof (Gambar 1a) dan bersifat sebagai antioksida dengan indikasi bercak berwarna putih (Gambar 1 b) pada plat KLT didaerah Rf 0,1-0,3.






Gambar 1. KLT dari ekstrak metanol sponge C21 yang dielusi dengan DCM:MeOH 9:1 dengan (a.) direaksikan dengan Dragendorf, (b.) direaksikan dengan DPPH.
ISOLASI DAN KARAKTERISASI SENYAWA ANTIOKSIDAN ALKALOID
Untuk mendapatkan komponen aktif dari ekstrak metanol C21, dilakukan fraksinasi menggunakan teknik kolom kromatografi gravitasi. Kondisi yang dipilih untuk melakukan tahapan fraksinasi menggunakan fasa diam silika gel 60 (0,063-0,200 mm) dan fase gerak campuran DCM:MeOH . Pengerjaan kolom kromatografi di lakukan melalui beberapa tahapan sehingga diperoleh isolat PN 10 seberat 3 mg. Hasil analisis dengan KLT menggunakan reaksi spesifik ninhidrin menunjukkan hasil yang negatif sedangkan dengan peraksi Dragendrof nampak bercak bercak tunggal berwana jingga. Hal ini mengindikasikan bahwa isolat PN10 merupakan senyawa alkaloid tersier.


  










Gambar 2.Spektrum IR Senyawa PN10
Analisis lebih lanjut dengan menggunakan FTIR-ATR spektrum PN10 (Gambar 2) memperlihatkan karakteristik serapan bilangan gelombang pada daerah 1326,52 cm-1 untuk C=N-C-, kemudian 1429,10 cm-1 untuk vibrasi tekuk CN, dan 1020 cm-1untuk vibrasi ulur ikatan -C-N-. Berdasarkan analisis hasil spektrum IR yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa isolat PN10 dari sponge C21 merupakan senyawa alkaloid tersier. Analisis lebih lanjut menunjukkan struktur isolat PN 10 memiliki gugus hidroksi, hal ini terlihat dengan adanya serapan di daerah 3367,32 cm-1 yang mengindikasikan vibrasi ulur dari O-H. Lebih lanjut, tidak adanya serapan yang muncul pada daerah 2940-2875 cm-1 yang signifikan untuk vibrasi C-H dari gugus metilen mengindikasikan bahwa struktur PN10 bukan senyawa alkaloid alifatis. Sedangkan adanya pita serapan pada daerah 1653,37 cm-1 sebagai vibrasi ulur C=C yang mengindikasikan struktur PN10 memiliki ikatan rangkap tak terkonyugasi.
UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN
Perbedaan % inhibisi antara vitamin C dan PN10 dapat diakibatkan oleh kemampuan masing-masing senyawa dalam memberikan elektronnya kepada DPPH, semakin banyak elektron yang diberikan kepada DPPH maka mengakibatkan penurunan nilai absorbansinya yang berarti meningkatnya % inhibisi. Dengan demikian PN10 lebih stabil bila dibandingkan dengan vitamin C. Hal ini terbukti dari nilai % inhibisi vitamin C pada konsentrasi mulai dari 10 ppm hingga 100 ppm menunjukkan nilai yang relatif sama, sedangkan pada PN10 nilai % inhibisinya menunjukkan relatif sama pada konsentrasi lebih dari 25 ppm. Hal tersebut kemungkinan terjadi karena reaksi yang terjadi adalah reaksi terbatas dimana jumlah antioksidannya lebih banyak bila dibandingkan dengan jumlah radikal DPPH, sehingga mengakibatkan donor elektron menjadi berlebih, sehingga penambahan konsentrasi senyawa PN10 tidak mempengaruh nilai % inhibisi.
Tabel. 3. Absorbansi dan % inhibisi PN10 dan Vitamin C
No.
Konsentrasi
(ppm)
Absorbansi Vit.C
% inhibisi Vit.C
Absorbansi PN 10
% inhibisi PN10
1
5
0,3913
33,41
0,5316
9,52
2
10
0,2163
63,19
0,3746
36,25
3
25
0,1783
69,66
0,2016
65,69
4
50
0,1753
70,17
0,2223
62,16
5
100
0,221
62,39
0,2416
58,87
IDENTIFIKASI SPONGE
Sampel sponge diidentifikasi berdasarkan bentuk morfologinya, yaitu berdasarkan warna, tekstur, bentuk spikula, dan ukuran sponge. Warna dan tekstur sponge dapat diamati secara konvensional, yaitu dengan cara melihat ciri-ciri fisiknya dan membandingkan langsung dengan literatur yang sudah ada (Gambar 3.)
Analisis spikula sponge C21 dilakukan dengan merendam sampel dalam larutan asam nitrat pekat, hal ini bertujuan untuk melarutkan senyawa-senyawa lain yang dapat menggangu analisis spikula (pengotor), sedangkan spikula yang berbahan dasar silika tak larut dalam asam nitrat. Setelah perendaman dalam asam nitrat, selanjutnya dibilas dengan air untuk melarutkan senyawa-senyawa lain yang dapat mengganggu pengamatan dalam analisis spikula. Pencucian lebih lanjut dilakukan dengan alkohol untuk melarutkan senyawa-senyawa yang tak larut air. Hasil pengamatan dengan menggunakan mikroskop Zeiss A 10 dengan perbesaran 400x terlihat pada Gambar 4. Sebagai catatan selama ini belum pernah dilaporkan bahwa bentuk spikula dengan bagian yang berbentuk kanal atau adanya saluran pada bagian sisi spikula secara jelas seperti pada gambar 4.c. belum pernah dilaporkan.







Gambar 3. Bentuk sponge C21 A. Nampak utuh dari luar. B. Nampak bagian dalam berwarna kuning.








Gambar 4. Bentuk Dan Ukuran Spikula Sponge C21
Dari hasil pengamatan bentuk spikula sponge C21, menunjukkan bahwa spikula pada Gambar 4a identik dengan spikula jenis toxa yang memiliki karakterisitik bentuk yang berkelok dan memiliki ukuran panjang 55-85 􀀀m, seperti ditunjukkan pada Gambar 5a. Selain itu gambar 4b. identik dengan spikula jenis smooth styles, bentuk spikula ini apabila ukurannya masih pendek bentuknya sangat lurus, biasanya ukuran dari spikula jenis ini yang ukurannya pendek berkisar antara 155-254 x 4-7 􀀀m, dan untuk ukuran panjang berkisarantara 600-1060 x 6-12 􀀀m dan lebih memiliki bentuk yang lebih lentur bila dibandingkan dengan yang pendek, gambar jenis spikula smooth styles dapat dilihat pada Gambar 5b. Pada Gambar 4c identik dengan spikula jenis long thin oxea (Gambar 5c) yaitu memiliki karakterisitik spikula berbentuk panjang berukuran sekitar 250-350 x 3-14 􀀀m, dengan bagian ujung lebih tajam (lancip)






Gambar 5. Bentuk spikula berdasarkan literatur: a. spikula toxa; b. spikula smooth styles dan c. spikula long thin oxea.
Dari analisis morfologi sponge C21 memiliki karakteristik berbentuk bulat seperti bola, bagian luar berwarna hitam, sedangkan bagian dalam berwarna kuning.Sponge C21 mudah ditemukan pada kedalaman 1-20 meter dan masih mendapatkan sinar matahari maka dapat dikelompokkan dalam sponge yang hidup pada dalam habitat terbuka (Bell et al., 2005) serta adanya bentuk spikula toxa,smooth styles dan long thin oxea memiliki kesamaan fisik dengan sponge jenisAaptos sp.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa perairan TWL Teluk Kupang kaya akan keanekaragaman biota laut khususnya sponge. Hasil identifikasi berdasarkan morphologi dan bentuk spikula menunjukkan bahwa sponge C21 adalah Aaptos sp. Isolat PN10 dari Aaptos sp. merupakan senyawa antioksidan alkaloid yang memiliki aktivitas % inhibisi radikal bebas sebesar 65,69% pada konsentrasi 25 ppm tergolong memiliki aktivitas sebagai antioksidan cukup tinggi. Lebih lanjut, isolat PN10 merupakan senyawa siklik alkaloid yang memiliki gugus hidroksil dan ikatan rangkap tak terkonjugasi.
UCAPAN TERIMAKASIH
Penulis mengucapkan terimakasih kepada 1. Kepala Balai Besar KSDA Kupang, NTT atas bantuan dan dukungan selama kegiatan survey; 2. Ketua Lembaga Penelitian Universitas Lampung, Dr. Eng. Admi Syarif atas arahan dan saran selama kegiatan penelitian ini.; Agus Trianto, Idam Hermawan, dan Eko Setyono yang telah membantu dalam pengambilan dan pendokumentasian sampel sponge.
DAFTAR PUSTAKA
Akhanovna, J., Konan, K.M., Bekro, Y.A., Gabin, M., Zomi, T.J., Mambo, V., and Boua, B.,B., 2008. Phytocompounds of the Extracts of Four Medicinal Plants of Côte D'ivoire and Assessment of their Potential Antioxidant by Thin Layer Chromatography. European Journal of Scientific Research. Vol. 24. pp. 219-228.
Aoki, S., Setiawan, A., Yoshioka, Y., Higuchi, K., Fudetani, R., Chen Z-S., Sumizawa, T.,Akiyama, S., and Kobayashi, M., 1999. Reversal of Muitidrug Resistance in Human Carcinoma Cell Line by Agosterols, Marine Spongean Sterols.Tetrahedron Vol. 55: pp. 13965-13972
Bell, J.J., and Barne, D.K.A., 2005. Effect of Disturbance on Assemblages: an Example Using Porifera. Biol. Bull. Vol. 205 : pp. 144-159.
Grube, A., Assman, M., Lichte, E., Sasse, F., Pawlik,J.R., and Ko’ck, M. 2007.Bioactive Metabolites from the Caribbean Sponge Aka coralliphagumJournal Natural Product. Vol. 70. pp. 504-509.
Hanif, N., Tanaka, J., Setiawan, A., Trianto, A., Voogd, N., Murni, A., Tanaka, C., and Higa, T., 2007. Polybrominated Diphenyl Ethers from the Indonesian SpongeLamellodysidea herbaceaJournal Natural Product. Vol. 70. pp. 432-435.
Maiza-Benabdesselam, F., Khentache, S., Bougoffa, K., Chibane, M., Adach, S., Chapeleur, Y., Max, H., and Laurain-Mattar, D. 2007. Antioxidant activities of alkaloid extracts of two Algerian species of Fumaria Fumaria capreolata andFumaria bastardiiRec. Nat. Prod. Vol.1. pp. 28-35.
Marxen, K., 2007. Determination of DPPH radical oxidation caused by Methanolic Extract of Some Microalgal Species by Linear Regression Analysis of Spectrofotometric Measurements. Full research Paper. Vol. 7. pp. 2080-2095.
Peng, J., Hu, J., Kazi, A.B., Li, Z., Avery, M., Peraud,O., Hill, R.T., Franzblau, S.G., Zhang, F., Schinazi, R.F., Wirtz, S.W., Tharnish, P., Kelly, M., Wahyuono, S., and Hamann, M.T. 2003. Manadomanzamines A and B: A Novel Alkaloid Ring System with Potent Activity against Mycobacteria and HIV-1. J. Am. Chem. Soc. Vol. 125.: pp. 13382-13386.
Shaheen, F., Ahmad, M., Khan, M.H.T., Jalil, S., Ejaz, A., Sultankhodjaev, M.N., Arfan, M., Choudhary, M.I., and Atta-ur-Rahman. 2005. Alkaloids of Aconitum laeve and their anti-inflammatory, antioxidant and tyrosinase inhibition activities.Phytochemistry. Vol. 66. pp. 935–940.
Suna, H., Arai, M., Tsubotani, Y., Hayashi, A., Setiawan, A., and Kobayashi, M. 2009. Dysideamine, a new sesquiterpene aminoquinone, protects hippocampal neuronal cells against iodoacetic acid-induced cell death. Journal Bioorganic and Medicinal Chemistry. Vol. 1. pp. 3968–3972.
Takao,T, Kitatani, F., Watanabe, N., Yagi, A., and Sakata, K. 1994. A Simple Screening method for Antioxidant and isolation of several antioxidant produce by marine bacteria from Fish and Shellfish. Bioscience Biotechnol Biochem. Vol. 58. pp.1780-1783.
Topçu, G., Ertaş, A., Kolak, U., Öztürk, M., and Ulubelen, A. 2007. Antioxidant activity tests on novel triterpenoids from Salvia macrochlamysARKIVOC. Vol. 7. pp. 195-208

DAGING MERAH : RUSA TIMOR

DAGING MERAH : RUSA TIMOR
Isai Yusidarta, ST., M.Sc.*
Meroketnya harga daging merah, membuat ibu rumah tangga kesulitan memenuhi kebutuhan protein hewani keluarga. Hasil yang didapatkan dari sentra ternak sapi yang digadang – gadang, tidak mampu memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia. Sedikit mengaplikasikan teori Malthus, terbentuk teori “laju kebutuhan daging menurut deret ukur, sedangkan pemenuhan daging menurut deret hitung”. Tidak akan ketemu kapan terpenuhinya. Kurang terus.
Daging sapi masih menjadi pilihan utama mayoritas rakyat Indonesia. Steak daging kambing, kerbau, kuda, babi (maaf : bagi non-muslim) hingga ayam masih dirasakan kalah nikmat dibandingkan ketika makan steak daging sapi. Apalagi dibandingkan dengan protein nabati berbahan kedelai yaitu tempe dan tahu, masih kurang nendang dibandingkan protein daging sapi. Lalu bagaimana jika daging Rusa Timor dibandingkan sapi? Pengalaman penulis lebih enak steak Rusa Timor yang dirasakan waktu masih tugas di Nusa Tenggara Timur.
Potensi Rusa Timur
Betina Rusa Timor umur 8 – 13 bulan sudah mengalami pubertas dan interval waktu kelahiran 13 bulan, sehingga tidak heran Rusa di Taman Rusa Timor jumlahnya menjadi 19 ekor dari awalnya 11 ekor dalam waktu 2 tahun sesuai keterangan pengelola. Kondisi ini hamper sama dengan usia perkawinan kambing betina, sehingga memungkinkan untuk ditangkarkan.
Bobot Rusa Timor dewasa dipenangkaran mampu mencapai 140 kg/ekor dibandingkan kambing ettawa  jantan dewasa hanya mencapai 65 kg/ekor. Hal ini tentunya merupakan kelebihan dari domestikasi Rusa Timor untuk memenuhi kebutuhan daging merah.
Daging rusa (venison) mempunyai persentase karkas 58 % (sapi 41 % dan domba 43 %). Komposis energi yang dihasilkan dari lemak daging pada rusa 22 % (sapi 33 % dan domba 35-47 %), energi daging mencapai 628 jouls/100 g. Kandungan protein daging 21 % (tetap dengan bertambahnya umur) dan 40 % dari bagian karkas belakang (3/4 bagian karkas belakang mempunyai harga tinggi). Komposisi ini menunjukkan daging rusa mempunyai protein tinggi.
Selain dagingnya mempunyai nilai finalsial lebih tinggi dibanding kambing, juga memiliki nilai prestisius (makan satwa dilindungi secara legal-F2). Satu ekor rusa di Alor dijual minimal Rp 3.000.000,- (tahun 2005), tidak dapat dibayangkan harga legal di Jawa.. Tanduk (ranggah) rusa juga menjadi bahan obat-obatan herbal, dapat juga dijadikan hiasan dinding.
Lokasi Pengembangan di Semarang
Propinsi NTT telah telah menggalakkan penangkaran Rusa Timor skala rumah tanggga mirip memelihara kambing dengan lokasi dan makanan yang dimodifikasi, dan berhasil. Mengapa? Karena penggunaan lahan oleh masyarakat mencerminkan pola budaya agro-pastoral yang menyandarkan sumber nafkah pada kegiatan beternak sekaligus berladang atau berkebun.
Wilayah kota Semarang berpotensi dikembangkan penangkaran Rusa Timor adalah Mijen dan Gunung Pati. Kedua kecamatan tersebut masih tersedia lahan luas dengan pohon-pohon besar dan ditumbuhi tanaman bawah seperti rumput yang menjadi makanan pokoknya. Kedua daerah tersebut sebagain besar daerah jalur hijau dan penduduknya bertani, berkebun, beternak dan berladang mencerminkan kegiatan agro-pastoral, sehingga dapat bersinergi dengan penangkaran rusa berbasis masyarakat.
Pengembangan wisata agro (pertanian dan buah-buahan) di Mijen dan Gunungpati dapat disinergikan pertunjukkan penangkaran Rusa Timor sebagai bagian satwa peragaan menjadi wisata agro-pastoral. Rusa Timor termasuk satwa liar yang dapat berinteraksi dengan manusia, anak-anak kecil dapat memberi makan dari pakan hijauan tanpa rasa takut walau hanya dipisahkan dengan sekat berupa BRC seperti terlihat di Taman Rusa Timor Undip.
Peran Stakeholder
Mencermati potensi Rusa Timor, lahan, dan kultur sosial masyarakatnya, sangatlah tepat menjadikan daerah Mijen dan Gunungpati sebagai calon daerah pengembangan penangkaran Rusa Timor khusus Kota Semarang. Jumlah penduduk yang besar di Kota Semarang menjadi tantangan penyediaan daging merah dan Rusa Timor salah satu sumber daging merah.
Fakultas Peternakan Undip sudah mempraktekkan dalam bentuk Taman Rusa, tentunya bersedia untuk menularkan pengetahuan tentang penangkaran rusa kepada masyarakat yang mempunyai budaya argo-pastoral di Mijen dan Gunungpati. Mengingat Rusa Timor adalah satwa dilindungi, tidak salah apabila mengikutsertakan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Hayati Jawa Tengah (BKSDA Jateng) untuk berperan aktif dalam pembinaan penangkar rusa di kemudian hari. Pihak PT. Perhutani dapat menyediakan bibit indukan Rusa Timor, seperti indukan di Taman Rusa Timor Undip.
Sebagai pilot proyek untuk menarik minat masyarakat menangkarkan rusa, ada baiknya pemerintah kota semarang dapat menyediakan lahan milik pemkot di Mijen dan Gunungpati sebagai lokasi penangkaran Rusa Timor.
Keberhasilan penangkaran rusa, diharapkan akan memberikan efek berupa penurunan tekanan pada kantong-kantong habitat alami Rusa Timor di hutan-hutan yang tersisa di Jawa Tengah dan juga di Pulau Karimunjawa dan Kemujan Taman Nasional Karimunjawa.
*) Pengendali Ekosistem Hutan Balai Taman Nasional Karimunajawa

Selasa, 21 Februari 2017

DAMPAK GELIAT WISATA PADA TENURIAL DI KARIMUNJAWA

DAMPAK GELIAT WISATA PADA TENURIAL DI KARIMUNJAWA
Isai Yusidarta, ST., M.Sc*
Taman Nasional Karimunjawa (TNKJ) telah didorong menjadi salah satu pusat pertumbuhan pariwisata di Jawa Tengah, yang dengan sadar mendorong sistem “Uang Harus Tumbuh” melalui industri wisata. Menggeliatnya industri wisata ditandai dengan peningkatan jumlah kunjungan wisatawan. Tahun 2011 tercatat 39.224 (wisnu 37.208 dan wisman 2.016) orang dan Tahun 2015 tercatat 92.115 (wisnu 84.536 dan wisman 7.579) orang. Jika berdasarkan tarif PNBP pada PP No.59 Tahun 1998 (sudah tidak berlaku) dan PP No. 12 Tahun 2014, terdapat potensi uang yang beredar setara Rp 133.340.000,00 (2011) – Rp 1.559.530.000,00 (2015), belum termasuk souvenir, transportasi, konsumsi dan akomodasi.
Paling mudah mengamati geliat industri wisata di Karimunjawa adalah bertambahnya sarana akomodasi homestay dan hotel. Tahun 2000 hanya terdapat 2 homesaty, 1 hotel dan 1 resort. Tahun 2015 jumlah hotel dan homestay menjadi 28 bangunan dengan 6 hotel, 3 resort dan 17 homestay. Tahun 2016 telah dibuka lagi 1 bangunan hotel bintang 3. Pertumbuhan sarana akomodasi tersebut, membutuhkan lahan dengan luasan cukup banyak.
Bukti Peralihan Lahan (Tanah)
Berkaca pemberitaan Suara Merdeka tanggal 28 Nopember 2016 dengan judul berita “Punggung Karimunjawa Kini Berbopeng”, salah satu pejabat di Karimunjawa menyatakan “pengeprasan dan pengerukan lahan itu milik perorangan yang beralamat di Solo yang sudah lama disini”. Ditulis pula bahwa luas lahan tersebut 3 hektar dan berada di bawah hutan lindung yang diatasnya. Hal ini dapat diduga telah terjadi peralihan penguasaan lahan di luar kawasan konservasi TNKJ ke pemilik di luar penduduk Kepulauan Karimunjawa.
Sepanjang jalan Karimunjawa – Kemujan dijumpai MMT dijual tanah sekian ribuan meter2 sampai 30.000 m2  atau 3 hektar. Sangat jarang penawaran tanah ukuran kavling rumah tinggal. Dapat diduga, penjualan lahan dalam ukuran besar tujuannya menyasar investor untuk berinvestasi di Karimunjawa. Hotel, homestay dan resort yang didirikan belakangan ini, kemungkinan investornya berasal dari “luar”. Berbagai keterangan yang diperoleh, sarana akomodasi tersebut ada yang dimiliki oleh “Bule”. Kita harapkan bule tersebut sudah melakukan naturalisasi kewarganegaraan menjadi warga negara Indonesia. Jika tidak, bagaimana “Bule” memiliki tanah di Kepulauan Karimunjawa? (tidak kita bahas di sini).
Upaya peralihan penguasaan lahan, juga terjadi di dalam kawasan TNKJ. Tanggal 19 Februari 2008 terjadi penerbitan sertifikat yang terdiri dari 5 bidang setara 170.027 m2 atau 17,0027 ha di bagian daratan TNKJ yang dulunya Cagar Alam Pulau Karimunjawa dan telah ditata batas temu gelang dengan keluarnya Berita Acara Tata Batas Cagar Alam Pulau Karimunjawa pada tanggal 13 Maret 1989. Pada tahun 2015, BTNKJ menghadapi gugatan perdata dari salah satu oknum masyarakat yang melakukan klaim lahan di dalam kawasan TNKJ walaupun hasil akhirnya Pengadilan Negeri Jepara membatalkan pencatatan gugatan yang diajukan penggugat oknum masyarakat.
Mengapa Terjadi Peralihan Lahan
Bruce (1998) dalam Affandi dan Harianja (2008), menyatakan bahwa dalam kajian Land tenure system kata tenure berasal dari kata dalam bahasa Latin “tenere” yang mencakup arti: memelihara, memegang, atau memiliki. Land tenure berarti sesuatu yang dipegang dalam hal ini termasuk hak dan kewajiban dari pemangku atau penguasa lahan. Land tenure adalah istilah legal untuk pemangkuan lahan, dan bukan hanya sekedar fakta pemangkuan lahan. Seseorang mungkin memangku lahan, tetapi ia tidak selalu mempunyai hak menguasai.
            Berdasarkan pengertian di atas, penguasa lahan mempunyai hak dan kewajiban atas tanah yang dikuasainya. Artinya dapat berbuat “apapun” atas lahan yang dikuasainya. Bagaimana jika masyarakat “kecil” yang menguasai lahan tersebut? Fakta di lapangan dan tidak hanya terjadi di Karimunjawa, bahwa suatu ketika akan dilepaskan penguasaan atas lahan. Alasan – alasan yang banyak diungkap dari pemegang awal lahan adalah :
1) Tidak punya “modal” untuk mengembangkan lahan sebagai modal alam. Modal dimaksud tidak hanya mencakup fisik (bangunan dan finansial) tetapi juga sumber daya manusianya (keahlian dan ketrampilan) serta modal sosial secara vertikal. ;
2)         Adanya keinginan “pemenuhan kebutuhan baru dan semakin meningkat dan banyak variasinya”. Masyarakat Karimunjawa telah mengalami transformasi gaya hidup, sejak industri wisata masuk. Perubahan gaya hidup tentunya menambah biaya hidup.
Pengendalian oleh Stakeholder dan BTNKJ
Mencegah peralihan lahan sangat sulit bahkan tidak mungkin, apalagi pada lahan hak milik. Di Kecamatan Karimunjawa, pengendalian yang bisa diterapkan ada di izin mendirikan bangunan (IMB). “Kalau luasnya di bawah 100 m2 itu otoritas kecamatan, tetapi kalau lebih lewat kabupaten,” kata salah satu pejabat di Kecamatan Karimunjawa seperti dikutip dari harian Suara Merdeka tanggal 28 Nopember 2016. Inilah peran Pemda Jepara dalam mengendalikan peruntukan lahan di luar kawasan TNKJ dan di lahan milik masyarakat. 
Balai Taman Nasional Karimunjawa (BTNKJ) melaksanakan patroli rutin, patroli fungsional, dan patroli gabungan dengan kepolisian untuk mencegah terjadi peralihan lahan di dalam kawasan TNKJ. Ini pun, masih ada upaya oknum masyarakat untuk memiliki lahan di dalam TMKJ terutama pada daerah yang berbatasan langsung dengan lahan masyarakat. Modus yang digunakan adalah perusakan sarana prasarana perlindungan hutan berupa pal batas dan penebangan pohon  untuk menambah luas lahannya. Pada tahun 2017, dengan output kegiatan menurunnya gangguan pada kawasan TNKJ telah dianggarkan Rp 1.376.687.000,00 melalui kegiatan pengamanan kawasan (baik pre-emtif, persuasif dan penegakkan hukum) dan sosialisasi peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Berkaitan hal di atas, Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) wilayah kerja Kabupaten Jepara yang menerima pensertifikatan tanah di Kecamatan Karimunjawa dan berdekatan dengan batas kawasan TNKJ, seyogyanya meminta rekomendasi BTNKJ yang berkoordinasi dengan Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH) Wilayah IX Jawa dan Madura.
Setiap tahun BTNKJ menganggarkan kegiatan pengembangan usaha ekonomi desa di desa penyangga TNKJ untuk mendukung peningkatan pendapatan masyarakat. Pada tahun 2017 dengan output kegiatan terciptanya usaha ekonomi produktif di desa sekitar taman nasional telah dianggarkan Rp 238.478.000,00. BTNKJ juga membentuk dan membina Sentra Penyuluhan Kehutanan Terpadu (SPKP) Mangga Delima yang bergerak di persewaan peralatan pesta di Desa Kemujan dan Karya Bhakti yang bergerak di bidang simpan pinjam, persewaan alat selam dan membuka kios kelontong di Desa Karimunjawa. SPKP selalu didampingi fungsonal penyuluh dan rutin melaksanakan pertemuan rutin. Hasil audit SPKP menunjukkan bahwa deviden yang dibagi kepada setiap anggota meningkat disertai peningkatan aset kelompok.
Pengembangan homestay, merupakan satu jalan mencegah peralihan lahan milik masyarakat di TNKJ. Homestay adalah “rumah dan tempat tinggal” milik warga setempat yang dikembangkan sebagai penginapan bagi wisatawan sekaligus tempat edukasi wisatawan mengenal filosofi kehidupan pemiliknya. Wisata di TNKJ dapat mengeksplorasi filosofi kehidupan masyarakat Karimunjawa. Pemda harus membuat terobosan, agar pengembangan homestay dapat diajukan dalam penganggaran pembangunan dengan aturan “mengikat dan tidak menjerat”. Pemda dapat mendorong perbankan terlibat dalam merenovasi rumah agar layak sebagai homestay dengan memberikan insentif fiskal. Juga memberikan jaminan pendampingan dan pengawasan pengelolaan homestay dengan menggerakkan penyuluh wisata yang dididik, dibiayai dan bertanggung jawab ke pemda setempat.
Peningkatan pendapatan masyarakat dan homestay dapat mencegah peralihan tenurial.


*Pengendali Ekosistem Hutan Balai Taman Nasional Karimunjawa

Senin, 20 Februari 2017

WISATA MANDIRI DI TAMAN NASIONAL KARIMUNJAWA

TREN WISATA MANDIRI DI TAMAN NASIONAL KARIMUNJAWA
Oleh ; Isai Yusidarta, ST., M.Sc.


Perjalanan wisata menjadi kebutuhan masyarakat khususnya perkotaan. Terdapat asumsi, selain asupan empat sehat lima sempurna, perjalanan wisata merupakan pelengkap untuk hidup sehat. Wisata (perpaduan olah raga dan penyegaran otak) diamini dapat membuat hidup lebih seimbang dan menjaga kebugaran.
Kemajuan peradaban manusia dalam hal teknologi telah mendorong pergeseran perjalanan wisata. Perjalanan ke pusat kota (mall, cinema dan wisata buatan) telah bergeser ke daerah yang menyediakan nuansa dan suasana alam (ekowisata). Pergeseran tujuan perjalanan dari bersenang-senang berubah menambah pengetahuan bahkan pekerjaan baru. Perjalanan massal (group, berkelompok) dengan jasa agen wisata mulai bergeser ke perjalanan mandiri.
Tribun Jateng tanggal 14 September 2016 memberitakan bahwa : 1) konsumen lebih memilih berwisata secara mandiri (pribadi); 2). minat masyarakat menggunakan biro wisata berkurang. Perjalanan wisata madiri didukung keterbuakaan informasi tentang aksesibilitas, cost/biaya yang dibutuhkan, Obyek Daya Tarik Wisata (ODTWA) yang tersedia sehingga wisatawan dapat merancang dan menghitung kebutuhannya. Dapat dikatakan bahwa orang (wisatawan) yang melakukan perjalanan wisata mandiri sebagai selfietraveller.
Taman Nasional Karimunjawa (TNKJ) menjadi tujuan perjalanan wisata di Jawa Tengah, khususnya selfietraveller. Menurut kacamata penulis, TNKJ menyediakan aksesibilitas dan amenitas yang mudah dicari dan tidak rumit, ODTWA, atraksi wisata local dan aktivitas wisata yang jarak antar lokasi hanya berada dalam satu lokasi kecamatan. Kondisi ini memudahkan si selfietraveller dalam berwisata.  

Manfaat teknologi bagi selfietraveller
Akses informasi yang murah dan mudah, memungkinkan selfietraveller melakukan perjalanan mandiri tanpa operator tour and travel (agen wisata). Berkembangnya perangkat teknologi seperti smartphone, setiap saat mampu memberikan informasi yang dibutuhkan. Informasi tentang aksesibilitas ke kawasan wisata, penginapan mulai homestay hingga hotel berbintang, kuliner yang tersedia, sewa moda transportasi bahkan tidak jarang lokasi tempat tujuan traveling yang remote dapat dengan mudah diakses.
Selfietraveller dapat menyusun sendiri anggaran perjalanannya. Posisi  tawar selftraveller menguntungkan dalam mencari dan memilih akomodasi penunjang perjalanan. Setiap penyedia jasa akomodasi, pada tingkatan dan jenis pelayanan yang sama menawarkan “harganya sama” hanya beda tipis di informasi dunia maya. Mereka mempunyai pemahaman sama “tidak menyembunyikan harga yang ditawarkan”.
Selfietraveller memegang “diskon” harga, terjadi ketika selfietraveller dan penyedia jasa akomodasi bertemu melakukan deal-deal harga dan jasa yang diberikan. Pada saat seperti ini beberapa kemungkinan dapat terjadi yaitu 1). dengan jasa sama yang tertera pada informasi akan terjadi penurunan harga; atau 2). harga deal sesuai informasi diiringi penambahan fasilitas.

Kelebihan wisata mandiri
Selfietraveller dapat menentukan timescedule perjalanannya (mau tepat waktu, molor atau merubah) tanpa sungkan mengganggu perjalanan orang lain. Ketika menemukan ODTWA yang menarik, dan dia mau menikmati dengan rileks tidak akan menemukan hambatan. Selfietraveller dengan mudah melakukan interaksi dengan ODTWA tanpa dibatasi dengan waktu kunjungan,  memanjakan dirinya dengan berfoto selfie landscape, mengamati – mempelajari – menikamati keunikannya sampai tingkatan tertentu yang memuaskan dirinya. Hal tersebut tidak mungkin diperoleh ketika diatur oleh agen wisata. Begitu juga tentang akomodasi, kuliner, moda transportasi dan atraksi wisata dan tentunya akan disesuaikan dengan “ketebalan kantong”.
Interaksi dengan stakeholder kawasan wisata dapat mudah dilakukan dan menguntungkan bagi selfietraveller dan stakeholder. Tidak jarang selfietraveller akhirnya “bekerjasama” dengan homestay, suatu ketika selfietraveller merekomendasikan dan “mengirim” selfietraveler baru.

Peran Balai TNKJ sebagai pengelola
TNKJ merupakan gugusan kepulauan di Laut Jawa yang mempunyai luas total 111.625 Ha yang ditetapkan berdasarkan SK Menhut No.78/Kpts-II/1999 tanggal 22 Februari 1999. TNKJ merupakan satu-satunya kawasan pelestarian alam perairan di Propinsi Jawa Tengah yang merepresentasikan keutuhan dan keunikan pantai utara. Balai Taman Nasional Karimunjawa (BTNKJ) hadir hingga tingkat tapak melalui seksi pengelolaa taman nasional (SPTN) hingga resort wilayah taman nasional.
Menyongsong booming selfietraveller, BTNKJ telah mempersipakan diri hingga tingkat tapak. Sebagai contoh : ODTWA Trekking Mangrove yang terletak di SPTN Kemujan telah didukung dengan terbitnya Buku Interpretasi Trekking Mangrove. Buku ini dapat memandu para selfietraveller untuk menikmati suasana hutan mangrove dan mempunyai nilai plus yaitu menambah pengetahuan tentang mangrove. Buku ini berisikan tentang : 1). gambaran sekilas hutan mangrove; 2). Pengenalan jenis mangrove; 3). peta jenis mangrove di sekitar trekking; 4). aksesibilitas ke trekking mangrove; 5). aktivitas yang dapat dilakukan; 6). sarpras trekking mangrove (papan informasi, pusat informasi,menara pandang, shelter, jalur trekking, toliet; 7). pengenalan jenis burung; 8). peta jenis burung di sekitar trekking; 8). pengenalan capung, kupu-kupu dan ular; 9). Aktivitas masyarakat sekitar trekking; 10). Tip-tip berwisata di trekking; dan 11). Tata tertib di menara pandang.

Salah satu kekurangan yang dihadapi oleh selfietraveler adalah ketiadaan pendamping (guide), BTNKJ telah menyediakan pusat informasi di Kantor Seksi Pengelolaan TamanNasional yang berada di Desa Karimunjawa dan Desa Kemujan yang mudah dicari. Pusat informasi tersebut menyediakan berbagai informasi yang dibutuhkan bahkan ketika memasuki trekking mangrove misalnya ada petugas yang dapat memberikan pemanduan. BTNKJ juga telah melatih tenaga interpreter yang berasal dari pegawai BTNKJ, kader konservasi dan masyarakat sekitar. Bahkan jika dibutuhkan informasi tentang TNKJ di Kota Semarang dapat menghubungi Kantor Balai Taman Nasional Karimunjawa, Jl. Sinar Waluyo No. 248 Semarang.