SI HIJAU SELADA
AIR (ULVA SP) DARI TELUK GILIMANUK
Oleh : Isai
Yusidarta dan Nanang
Taman Nasional adalah Kawasan Pelestarian Alam yang mempunyai
ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi, serta dimanfaatkan untuk tujuan
penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, penunjang budi daya, dan pemanfaatan
kondisi lingkungan.
Berbicara
tentang Teluk Gilimanuk, Taman Nasional Bali Barat (TNBB) tidak hanya ikan,
kerang, mangrove, lamun dan sun rise. Alga (ganggang hijau) keberadaannya
melimpah, terutama ketika musim kemarau
panjang. Tersedia bahan baku yang dapat diusahakan untuk dijual, ketika hasil
pertanian dan kebun tidak optimal diusahakan. Alam perairan dangkal Teluk
Gilimanuk menyediakan Ulva sp yang dapat menambah pendapatan masyarakat.
Ulva sp
sering disebut dengan selada laut (dengan bentuk pipih tipis dan lebar),
termasuk kelompok makro alga hijau. Di pasar Gilimanuk sering dijual ulva
mentah segar yang sudah dicuci sebagai sayuran dari laut. Masyarakat Gilimanuk
sering memanfaatkan ulva untuk sayur urap yang dapat dimakan mentah setelah
dicuci dengan menambahkan sambal kelapa dan kemudian dicampur. Selanjutnya
dimakan dengan nasi dan dilengkapi dengan lauk berupa ikan asin. Ulva juga
sering dimasak tumis oleh masyarakat Gilimanuk
Gambar 1. Pakaging rengginang dan stick ulva. Doc. TNBB - Oktober 2026
Klasifikasi Ulva sp
Berdasarkan
kajian ilmiah (Scientific base) taksonomi Ulva sp dapat
digambarkan dengan urutan seabgai berikut :
·
Kingdom/Regnum: Plantae (atau Protista/Chromista dalam
beberapa taksonomi modern)
·
Divisi/Filum
: Chlorophyta (Ganggang
hijau)
·
Kelas/Class: Ulvophyceae
·
Ordo/Order: Ulvales
·
Famili/Keluarga: Ulvaceae
·
Marga: Ulva
·
Spesies:
Ulva sp. (salah satu spesies yang paling umum
adalah Ulva Lactuca)
Hasil penelitian (febriyanti., dkk, 2026) Ulva di
perairan Pulau Kalong adalah talus berbentuk pipih, bermembran, seperti selaput
tipis, mudah robek/rapuh, transparan, tidak memiliki gerigi pada tepiannya.
Ukuran panjang dan lebar talus 100-300 cm. Warna hijau pucat hingga terang.
Warga lokal sering menyebutnya dengan Ulva seprei atau Ulva gorden.
Ulva ini hidup menempel pada pasir padat atau batu karang dengan talus yang
melayang-layang. Pulau Kalong merupakan daratan berupa hutan mangrove dan cukup
jauh dari area pemukiman ataupun aktivitas warga sehari - hari. Hasil
pengecekan kualitas air, mendapatkan hasil kandungan oksigen terlarut cukup
tinggi yaitu 10,2-11,4 mg/l. Sementara kandungan oksigen terlarut ideal
pertumbuhan makroalga yaitu 6,1 – 8,0 mg/l.
Di Takad Burung, Teluk Gilimanuk dan Selat Bali, TNBB, diketemukan Ulva dengan talus pipih, kaku, berbuku-buku atau berumpun, tepian talus sedikit bergerigi atau bergelombang. dan berwarna hijau metalik yang kuat keperakan (glossy) dengan ukuran panjang dan lebar talus 10 – 25 cm. Kandungan oksigen terlarut di Takad Burung yaitu 7,7-7,8 mg/l.
Gambar 2. Ulva yang dipanen dari Perairan Pulau kalong dan Takad Burung. Doc. TNBB - Juli 2026Lokasi
Tumbuh Ulva di Teluk Gilimanuk
Jenis substrat di Takad Burung adalah pasir berbatu (pecahan karang) sedang
di Pulau Kalong adalah pasir. Pada umumnya di perairan substrat berpasir,
berbatu dan berbatu karang merupakan lokasi pertumbuhan ulva yang cocok. Rhizoma
dari Ulva memerlukan substrat keras untuk menempel dan kemudian berkembang
menumbuhkan rhizoma yang baru.
Lokasi Pulau Kalong merupakan kawasan Taman Nasional Bali Barat di dalam sistem
zonasi taman nasional termasuk ke dalam zona tradisonal. Sedangkan Takad Burung
terletak di pintu masuk Teluk Gilimanuk merupakan area lalu lintas perahu
nelayan dan berdampingan (dekat) dengan aktivitas Pelabuhan GIlimanuk dan
penambatan kapal nelayan di Waterbe dan base camp kelompok nelayan Teluk Asri.
Perkembangan Ulva di Teluk Gilimanuk sangat bergantung pada musim. Musim
kemarau Ulva tersedia melimpah untuk dipanen nelayan. Setelah musim hujan
berhenti, Ulva yang berkembang di perairan Pulau Kalong dan Takad (Gosong)
Burung, Teluk Gilimanuk mulai dipanen oleh masyarakat. Masyarakat mulai memanen
ulva pada bulan Mei walaupun masih terbatas dan berakhir mulai datangnya musim
hujan di bulan Oktober bahkan jika kemarau panjang bisa mencapai bulan
Nopember. Masyarakat mengatakan bahwa ketika air hujan (tawar masuk ke perairan
Gilimanuk, maka ulva tidak dapat tumbuh optimal dan pada musim hujan puncak
berarti ulva tidak dapat diketemukan di Teluk Gilimanuk.
Pemanfaatan Ulva Sebagai
Bahan Mentah
Masyarakat
yang menetap di Gilimanuk dan masyarakat transit memanen ulva dari wilayah
Teluk Gilimanuk, TNBB terutama di titik Pulau Kalong dan Takad Burung (Gosong
Pulau Burung). Memanen ulva sangat mudah. Masyarakt memanen ulva dengan
peralatan sederhana yaitu serok jaring dan perahu jukung. Mengapa perahu
jukung? Memudahkan mencapai lokasi di perairan dangkal.
Gambar 3. Nelayan memanen ulva menggunakan perahu kecil dan serok. Doc. TNBB - September 2026
Nelayan
memanen ulva sebanyak 1 – 2 kali sehari. Ada sepasang suami isteri yang ulet
yang saya saksikan. Pagi hari si isteri menjemur ulva yang diambil kemarin
sore. Pagi ini si suami pergi ke Pulau Kalong untuk memanen ulva. Sehingga dari
2 kali pemanenan, maka bia mendapatkan hasil. Keterangan masyarakat sekali
mengambil ulva basah, mereka dapat menaikkan ke jukung sebanyak 1 – 2 ton.
Waktu yang diperlukan hanya beberapa jam.
Ulva
kemudian dijemur dibawah terik matahari selama 1 siang penuh (± 10
jam). Berat basah sekitar 1 ton setelah kering menjadi 1 kuintal. Harga Ulva
kering adalah Rp 2.000,00 per kg. Jadi dengan 1 kuintal ulva kering, maka
didapatkan uang Rp 200.000,00. Jika ada yang memanen ulva pagi dan sore hari
maka akan mendapatkan hasil Rp 400.000,00. Tidak setiap hari nelayan memanen
ulva. Ada yang 3 hari memanen ulva, kemudian sehari libur. Ada yang memanen
dari Senin – Kamis, Jum’at libur dan Sabtu – Minggu memanen kembali. Bahkan ada
yang memanen Sabtu – Kamis dengan hari Jum’at libur. Rata – rata hari Jum’at
banyak yang libur memanen ulva, kemungkinan karena sebagian besar nelayan
nelayan di Teluk Gilimanuk memeluk Islam. Jadi kita ambil rata -rata bahwa
seminggu mereka mengolah ulva (panen –
kering) selama 5 hari. Maka penghasilan mereka berkisar Rp 1.000.000,00 sampai
dengan Rp 2.000.000,- per minggu. Sebulan bisa mencapai Rp 4.000.000,00 sampai
dengan Rp 8.000.000,00.
Gambar 4. Penjemuran ulva di Gilimanuk. Doc. TNBB - Juli 2026
Nelayan
yang terlibat dalam pemanenan ulva yang memegang KTP Kelurahan Gilimanuk
sekitar 20 orang. Mereka menetap di Gilimanuk dengan profesi murni nelayan.
Memanen ulva terutama pada musim kemaru sebenarnya sebagai usaha sampingan.
Pekerjaan pokok adalah meangkap ikan di Teluk Gilimanuk dan perairan Selat
Bali.
Namun ada
juga orang yang memanen Ulva tetapi
tidak berKTP Gilimanuk. Saya menjumpai seseorang yang memanen ulva dan
mengeringkan ulva, yang saya sebut sebagai nelayan transit. Orang tersebut
berasal dari Makasar dan bersuku Bugis. Menurut keterangannya, ia memanfaatkan
waktu memanen dan mengeringkan ulva sambil menunggu kapal “perintis” yang akan
mendarat di pelabuhan Gilimanuk untuk menuju ke Kalimantan atau kembali ke
Sulawesi Selatan (Makasar). Ia memang sengaja berangkat dari Makasar ke
Gilimanuk dengan kapal ”perintis” karena ia tahu di Teluk Gilimanuk bisa
mendapatkan uang dengan memanen ulva dan mengeringkannya. Di Gilimanuk, ia
menumpang tidur di rumah kerabatnya, atau tidur di sigepat sekitar tempat
mengeringkan ulva jika tidak mempunyai atau sungkan tidur di saudara. Ia
mengenal pula pengepul yang akan mengambil ulva kering miliknya. Ketika musim
hujam tiba ia sudah kembali ke Makasar di rumah tempat tinggalnya untuk
menjalankan profesi nelayan.
Nelayan Ulva Sebagai
Buruh Pekerja
Menurut
keterangan nelayan, Ulva kering sehari akan diambil oleh pengepul di Gilimanuk.
Oleh pengepul akan dikirimkan ke pedagang besar (exportir) Surabaya. Oleh
pedagang besar pada umunya akan di ekxpor ke Tiongkok dan Taiwan. Jika dilihat
dari upah yang diterima masyarakat maka, masyarakat bisa disandingkan sebagai
buruh kerja. Mengapa? Masyarakat tidak perlu mengeluarkan effort untuk menanam,
dan memelihara ulva. Masyarakat hanya memanen dan mengeringkan ulva serta
mengemas kedalam kantong – kantong pengepakan. Artinya nelayan tidak
memproduksi ulva apalagi mengolah ulva menjadi barang jadi. Nelayan hanya
mengeluarkan tenaga dan bahan bakar untuk memanen ulva dan mengeringkan. Upah
Rp 200.000,- hanya lebih sedikit dibandingkan upah pekerja tukang bangunan di
Gilimanuk.
Pemanfaatan Ulva Sebagai
Hasil Olahan
Beberapa
masyarakat yang tergabung dalam kelompok Srikandi dibawah arahan penyuluh Seksi
Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Jembrana, Balai TNBB dengan
supporting dari manajemen Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) Gilimanuk
melakukan pengolahan ulva menjadi produk jadi siap makan. Produk jadi tersebut
berupa stick ulva dan rengginang ulva.
Pemasaran
produk ini baru pada pemenuhan event – event pameran, pemesanan yang sudah
pasti diambil (dibayar) dan souvenir camping di Karangsewu. Belum berani
memproduksi dalam skala produk edar memenuhi dan bersaing dengan pasar produk
yang sama tetapi bahan baku lain. Sekali memproduksi rengginang ulva hanya
menghasilkan dibawah 100 kg rengginang kering. Sedangkan stick ulva sekali
produksi masih dibawah 25 kg. Kondisi ini mengingat bahan baku lainnya seperti
beras ketan dan tepung lebih dominan, sedangkan ulva digunakan sebagai pembeda
dari produk rengginang dan stick sejenis. Bumbu dan rempah – rempah lainnya
sama dengan produk yang sejenis.
Harga yang
ditawarkan masih terjangkau sebagai makanan camilan yaitu Rp 10.000,00
perbungkus dengan berat @250 gram. Kelompok pengolah ulva yaitu Srikandi
beranggotakan wanita yang merupakan isteri nelayan di Teluk Gilimanuk.
PEKERJAAN RUMAH
PENGELOLAAN ULVA
Hasil
berbagai penilitian menunjukkan bahwa ulva mempunyai banyak manfaat di bidang
kesehatan, pangan, kosmetik, bioremediator, energi terbarukan dan industri
pertanian dan perikanan. Secara lebih
rinci ulva di Teluk Gilimanuk berpotensi sebagai antihipertensi, pembentuk
antibodi, sumber energi, mencegah penyakit kardiovaskular, anti obesitas, anti
hiperlipidemia, kekebalan tubuh, antioksidan, antimikrobia, antirematik, anti
virus, suplemen, antiinflamasi, antikanker, industri kosmetik, antiaging dan
moisturizing, pupuk organik, biostimulan tanaman, pakan segar hewan akutik, dan
bioenergi.
Pemanfaatan
Ulva sp. di Teluk Gilimanuk an Pulau Bali pada umumnya masih sangat minim.
Ketersediaan Ulva sp. yang sangat bergantung musim yaitu musim kemarau.
Kemampuan pengetahuan serta keterampilan masyarakat dalam melakukan pemanfaatan
Ulva sp. menjadi penyebab masih belum optimalnya pemanfaatan Ulva secara
ekonomis. Masyarakat tidak memiliki akses pasar untuk menjual langsung ke
industri dan eksportir. Penentuan harga jual Ulva sepenuhnya ditentukan oleh
tengkulak sehingga tergambar nelayan hanya sebagai tenaga kerja.
Upaya
pemerintah dalam hal ini KKP bersama introsea pernah memberikan pelatihan pengelolaan
dan pengolahan hasil panen Ulva kepada nelayan di Gilimanuk. Hasilnya berupa
pengolahan ulva menjadi stick ulva dan rengginang ulva. Juga memberikan bantuan
berupa peralatan untuk memisahkan butiran pasir yang masih menempel di ulva.
Dengan peralatan ini maka berat murni hanya ulva dan bisa meningkatkan harga
menjadi Rp 5.000,00 per kilogram ulva kering. Namun hanya digunakan beberapa
kali. Masyarakat lebih memilih tahapan memanen, mengeringkan dan mengepak ke
karaung tanpa memisahkan butiran pasir dengan ulva. Saya pernah mendengar dari
suara beberapa orang bahwa lebih simpel begini dan tidak nambah kegiatan dengan
memisahkan butiran pasir yang menempel di ulva.
Pemanfaatan
ulva hanya sebatas digunakan sebagai sayur urap, pembuatan stick ulva dan
rengginang ulva. Belum dimanfaatkan sebagai bahan campuran seperti mie ulva
yang kemungkinan dengan manajemen yang baik akan menjadi bahan makanan favorit
mengingat potensi kandungan ulva yang samat banyak, bahkan menjadi
bioprospecting unggulan berdasarkan hasil penelitian
Gambar 6. Pembuatan stick ulva oleh kelompok Srikandi. Doc. TNBB - Juli 2026
PEKERJAAN RUMAH BAGI BTNBB
Selada air
atau ulva yang bernilai tinggi tumbuh dan berkembang di perairan Teluk
Gilimanuk dan terletak di zona tradisional terutama Pulau Kalong, menjadi
kekayaan keanekaragaman hayati yang bisa langsung dimanfaatkan masyarakat bahkan
menjadi bahan baku bioprospecting, maka TNBB dapat mencoba mengambil langkah –
langkah sebagai berikut :
1.
Melaksanakan
survei potensi lestari keberadaan ulva di lawasan Teluk Gilimanuk baik dilaksanakan
sendiri maupun menggandeng pihak akademisi terdekat dibidang biologi laut bidang
seaweed. Potensi lestari ini penting mengingat ulva sudah menjadi
matapencaharian penduduk gilimanuk terutama pada musim kemarau.
2.
Membuka
komunikasi dengan introsea (yang peran masuk dan memberikan pendampingan,
bantuan dan pelatihan kepada masyarakat) dan UPT Kementerian Kelautan dan
Perikanan (KKP) terutama BPSPL (Balai Pengelolaan Sumberdaya Perairan Laut) Denpasar
untuk tukar informasi terkait pemanfaatan Ulva dan melakukan penyuluhan bersama
penyuluh SPTN Wilayah I Jembrana, BTNBB untuk meningkatkan nilai ulva dalam
pengolahan oleh masyarakat.















