Senin, 02 November 2026

Ulva sp Si Selada Hijau

 

Video 1. Wawancara dengan Ibu Penjemur Ulva di Gilimanuk. Doc. TNBB - Juli 2026

SI HIJAU SELADA AIR (ULVA SP) DARI TELUK GILIMANUK

Oleh : Isai Yusidarta dan Nanang

 

Taman Nasional adalah Kawasan Pelestarian Alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi, serta dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, penunjang budi daya, dan pemanfaatan kondisi lingkungan.

 

Berbicara tentang Teluk Gilimanuk, Taman Nasional Bali Barat (TNBB) tidak hanya ikan, kerang, mangrove, lamun dan sun rise. Alga (ganggang hijau) keberadaannya melimpah, terutama  ketika musim kemarau panjang. Tersedia bahan baku yang dapat diusahakan untuk dijual, ketika hasil pertanian dan kebun tidak optimal diusahakan. Alam perairan dangkal Teluk Gilimanuk menyediakan Ulva sp yang dapat menambah pendapatan masyarakat.

Ulva sp sering disebut dengan selada laut (dengan bentuk pipih tipis dan lebar), termasuk kelompok makro alga hijau. Di pasar Gilimanuk sering dijual ulva mentah segar yang sudah dicuci sebagai sayuran dari laut. Masyarakat Gilimanuk sering memanfaatkan ulva untuk sayur urap yang dapat dimakan mentah setelah dicuci dengan menambahkan sambal kelapa dan kemudian dicampur. Selanjutnya dimakan dengan nasi dan dilengkapi dengan lauk berupa ikan asin. Ulva juga sering dimasak tumis oleh masyarakat Gilimanuk

Gambar 1. Pakaging rengginang dan stick ulva. Doc. TNBB - Oktober 2026

Klasifikasi Ulva sp

Berdasarkan kajian ilmiah (Scientific base) taksonomi Ulva sp dapat digambarkan dengan urutan seabgai berikut :

·      Kingdom/Regnum: Plantae (atau Protista/Chromista dalam beberapa taksonomi modern)

·      Divisi/Filum : Chlorophyta (Ganggang hijau)

·      Kelas/Class: Ulvophyceae

·      Ordo/Order: Ulvales

·      Famili/Keluarga: Ulvaceae

·      Marga: Ulva

·      Spesies: Ulva sp. (salah satu spesies yang paling umum adalah Ulva Lactuca)

Hasil penelitian (febriyanti., dkk, 2026) Ulva di perairan Pulau Kalong adalah talus berbentuk pipih, bermembran, seperti selaput tipis, mudah robek/rapuh, transparan, tidak memiliki gerigi pada tepiannya. Ukuran panjang dan lebar talus 100-300 cm. Warna hijau pucat hingga terang. Warga lokal sering menyebutnya dengan Ulva seprei atau Ulva gorden. Ulva ini hidup menempel pada pasir padat atau batu karang dengan talus yang melayang-layang. Pulau Kalong merupakan daratan berupa hutan mangrove dan cukup jauh dari area pemukiman ataupun aktivitas warga sehari - hari. Hasil pengecekan kualitas air, mendapatkan hasil kandungan oksigen terlarut cukup tinggi yaitu 10,2-11,4 mg/l. Sementara kandungan oksigen terlarut ideal pertumbuhan makroalga yaitu 6,1 – 8,0 mg/l.

Di Takad Burung, Teluk Gilimanuk dan Selat Bali, TNBB, diketemukan Ulva dengan talus pipih, kaku, berbuku-buku atau berumpun, tepian talus sedikit bergerigi atau bergelombang. dan berwarna hijau metalik yang kuat keperakan (glossy) dengan ukuran panjang dan lebar talus 10 – 25 cm. Kandungan oksigen terlarut di Takad Burung yaitu 7,7-7,8 mg/l.

Gambar 2. Ulva yang dipanen dari Perairan Pulau kalong dan Takad Burung. Doc. TNBB - Juli 2026

Lokasi Tumbuh Ulva di Teluk Gilimanuk

Jenis substrat di Takad Burung adalah pasir berbatu (pecahan karang) sedang di Pulau Kalong adalah pasir. Pada umumnya di perairan substrat berpasir, berbatu dan berbatu karang merupakan lokasi pertumbuhan ulva yang cocok. Rhizoma dari Ulva memerlukan substrat keras untuk menempel dan kemudian berkembang menumbuhkan rhizoma yang baru.

Lokasi Pulau Kalong merupakan kawasan Taman Nasional Bali Barat di dalam sistem zonasi taman nasional termasuk ke dalam zona tradisonal. Sedangkan Takad Burung terletak di pintu masuk Teluk Gilimanuk merupakan area lalu lintas perahu nelayan dan berdampingan (dekat) dengan aktivitas Pelabuhan GIlimanuk dan penambatan kapal nelayan di Waterbe dan base camp kelompok nelayan Teluk Asri.

Perkembangan Ulva di Teluk Gilimanuk sangat bergantung pada musim. Musim kemarau Ulva tersedia melimpah untuk dipanen nelayan. Setelah musim hujan berhenti, Ulva yang berkembang di perairan Pulau Kalong dan Takad (Gosong) Burung, Teluk Gilimanuk mulai dipanen oleh masyarakat. Masyarakat mulai memanen ulva pada bulan Mei walaupun masih terbatas dan berakhir mulai datangnya musim hujan di bulan Oktober bahkan jika kemarau panjang bisa mencapai bulan Nopember. Masyarakat mengatakan bahwa ketika air hujan (tawar masuk ke perairan Gilimanuk, maka ulva tidak dapat tumbuh optimal dan pada musim hujan puncak berarti ulva tidak dapat diketemukan di Teluk Gilimanuk.

Pemanfaatan Ulva Sebagai Bahan Mentah

Masyarakat yang menetap di Gilimanuk dan masyarakat transit memanen ulva dari wilayah Teluk Gilimanuk, TNBB terutama di titik Pulau Kalong dan Takad Burung (Gosong Pulau Burung). Memanen ulva sangat mudah. Masyarakt memanen ulva dengan peralatan sederhana yaitu serok jaring dan perahu jukung. Mengapa perahu jukung? Memudahkan mencapai lokasi di perairan dangkal.

Gambar 3. Nelayan memanen ulva menggunakan perahu kecil dan serok. Doc. TNBB - September 2026

Nelayan memanen ulva sebanyak 1 – 2 kali sehari. Ada sepasang suami isteri yang ulet yang saya saksikan. Pagi hari si isteri menjemur ulva yang diambil kemarin sore. Pagi ini si suami pergi ke Pulau Kalong untuk memanen ulva. Sehingga dari 2 kali pemanenan, maka bia mendapatkan hasil. Keterangan masyarakat sekali mengambil ulva basah, mereka dapat menaikkan ke jukung sebanyak 1 – 2 ton. Waktu yang diperlukan hanya beberapa jam.

Ulva kemudian dijemur dibawah terik matahari selama 1 siang penuh (± 10 jam). Berat basah sekitar 1 ton setelah kering menjadi 1 kuintal. Harga Ulva kering adalah Rp 2.000,00 per kg. Jadi dengan 1 kuintal ulva kering, maka didapatkan uang Rp 200.000,00. Jika ada yang memanen ulva pagi dan sore hari maka akan mendapatkan hasil Rp 400.000,00. Tidak setiap hari nelayan memanen ulva. Ada yang 3 hari memanen ulva, kemudian sehari libur. Ada yang memanen dari Senin – Kamis, Jum’at libur dan Sabtu – Minggu memanen kembali. Bahkan ada yang memanen Sabtu – Kamis dengan hari Jum’at libur. Rata – rata hari Jum’at banyak yang libur memanen ulva, kemungkinan karena sebagian besar nelayan nelayan di Teluk Gilimanuk memeluk Islam. Jadi kita ambil rata -rata bahwa seminggu mereka mengolah  ulva (panen – kering) selama 5 hari. Maka penghasilan mereka berkisar Rp 1.000.000,00 sampai dengan Rp 2.000.000,- per minggu. Sebulan bisa mencapai Rp 4.000.000,00 sampai dengan Rp 8.000.000,00.

Gambar 4. Penjemuran ulva di Gilimanuk. Doc. TNBB - Juli 2026

Nelayan yang terlibat dalam pemanenan ulva yang memegang KTP Kelurahan Gilimanuk sekitar 20 orang. Mereka menetap di Gilimanuk dengan profesi murni nelayan. Memanen ulva terutama pada musim kemaru sebenarnya sebagai usaha sampingan. Pekerjaan pokok adalah meangkap ikan di Teluk Gilimanuk dan perairan Selat Bali.

Namun ada juga orang yang memanen Ulva tetapi  tidak berKTP Gilimanuk. Saya menjumpai seseorang yang memanen ulva dan mengeringkan ulva, yang saya sebut sebagai nelayan transit. Orang tersebut berasal dari Makasar dan bersuku Bugis. Menurut keterangannya, ia memanfaatkan waktu memanen dan mengeringkan ulva sambil menunggu kapal “perintis” yang akan mendarat di pelabuhan Gilimanuk untuk menuju ke Kalimantan atau kembali ke Sulawesi Selatan (Makasar). Ia memang sengaja berangkat dari Makasar ke Gilimanuk dengan kapal ”perintis” karena ia tahu di Teluk Gilimanuk bisa mendapatkan uang dengan memanen ulva dan mengeringkannya. Di Gilimanuk, ia menumpang tidur di rumah kerabatnya, atau tidur di sigepat sekitar tempat mengeringkan ulva jika tidak mempunyai atau sungkan tidur di saudara. Ia mengenal pula pengepul yang akan mengambil ulva kering miliknya. Ketika musim hujam tiba ia sudah kembali ke Makasar di rumah tempat tinggalnya untuk menjalankan profesi nelayan.

Video 2. Seorang pemanen dan penjemur ulva yang berasal dari Makasar. Mengisi waktu sambil menunggu kapal perintis kembali ke Makasar. Bukan warga berKTP Gilimanuk. Doc. TNBB - September 2026.

Nelayan Ulva Sebagai Buruh Pekerja

Menurut keterangan nelayan, Ulva kering sehari akan diambil oleh pengepul di Gilimanuk. Oleh pengepul akan dikirimkan ke pedagang besar (exportir) Surabaya. Oleh pedagang besar pada umunya akan di ekxpor ke Tiongkok dan Taiwan. Jika dilihat dari upah yang diterima masyarakat maka, masyarakat bisa disandingkan sebagai buruh kerja. Mengapa? Masyarakat tidak perlu mengeluarkan effort untuk menanam, dan memelihara ulva. Masyarakat hanya memanen dan mengeringkan ulva serta mengemas kedalam kantong – kantong pengepakan. Artinya nelayan tidak memproduksi ulva apalagi mengolah ulva menjadi barang jadi. Nelayan hanya mengeluarkan tenaga dan bahan bakar untuk memanen ulva dan mengeringkan. Upah Rp 200.000,- hanya lebih sedikit dibandingkan upah pekerja tukang bangunan di Gilimanuk.

Pemanfaatan Ulva Sebagai Hasil Olahan

Beberapa masyarakat yang tergabung dalam kelompok Srikandi dibawah arahan penyuluh Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Jembrana, Balai TNBB dengan supporting dari manajemen Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) Gilimanuk melakukan pengolahan ulva menjadi produk jadi siap makan. Produk jadi tersebut berupa stick ulva dan rengginang ulva.

Pemasaran produk ini baru pada pemenuhan event – event pameran, pemesanan yang sudah pasti diambil (dibayar) dan souvenir camping di Karangsewu. Belum berani memproduksi dalam skala produk edar memenuhi dan bersaing dengan pasar produk yang sama tetapi bahan baku lain. Sekali memproduksi rengginang ulva hanya menghasilkan dibawah 100 kg rengginang kering. Sedangkan stick ulva sekali produksi masih dibawah 25 kg. Kondisi ini mengingat bahan baku lainnya seperti beras ketan dan tepung lebih dominan, sedangkan ulva digunakan sebagai pembeda dari produk rengginang dan stick sejenis. Bumbu dan rempah – rempah lainnya sama dengan produk yang sejenis.

Harga yang ditawarkan masih terjangkau sebagai makanan camilan yaitu Rp 10.000,00 perbungkus dengan berat @250 gram. Kelompok pengolah ulva yaitu Srikandi beranggotakan wanita yang merupakan isteri nelayan di Teluk Gilimanuk.

Gambar 5. Pembuatan rengginang ulava oleh kelompok Srikandi. Doc. TNBB - Juli 2026

PEKERJAAN RUMAH PENGELOLAAN ULVA

Hasil berbagai penilitian menunjukkan bahwa ulva mempunyai banyak manfaat di bidang kesehatan, pangan, kosmetik, bioremediator, energi terbarukan dan industri pertanian dan perikanan. Secara  lebih rinci ulva di Teluk Gilimanuk berpotensi sebagai antihipertensi, pembentuk antibodi, sumber energi, mencegah penyakit kardiovaskular, anti obesitas, anti hiperlipidemia, kekebalan tubuh, antioksidan, antimikrobia, antirematik, anti virus, suplemen, antiinflamasi, antikanker, industri kosmetik, antiaging dan moisturizing, pupuk organik, biostimulan tanaman, pakan segar hewan akutik, dan bioenergi.

Pemanfaatan Ulva sp. di Teluk Gilimanuk an Pulau Bali pada umumnya masih sangat minim. Ketersediaan Ulva sp. yang sangat bergantung musim yaitu musim kemarau. Kemampuan pengetahuan serta keterampilan masyarakat dalam melakukan pemanfaatan Ulva sp. menjadi penyebab masih belum optimalnya pemanfaatan Ulva secara ekonomis. Masyarakat tidak memiliki akses pasar untuk menjual langsung ke industri dan eksportir. Penentuan harga jual Ulva sepenuhnya ditentukan oleh tengkulak sehingga tergambar nelayan hanya sebagai tenaga kerja.

Upaya pemerintah dalam hal ini KKP bersama introsea pernah memberikan pelatihan pengelolaan dan pengolahan hasil panen Ulva kepada nelayan di Gilimanuk. Hasilnya berupa pengolahan ulva menjadi stick ulva dan rengginang ulva. Juga memberikan bantuan berupa peralatan untuk memisahkan butiran pasir yang masih menempel di ulva. Dengan peralatan ini maka berat murni hanya ulva dan bisa meningkatkan harga menjadi Rp 5.000,00 per kilogram ulva kering. Namun hanya digunakan beberapa kali. Masyarakat lebih memilih tahapan memanen, mengeringkan dan mengepak ke karaung tanpa memisahkan butiran pasir dengan ulva. Saya pernah mendengar dari suara beberapa orang bahwa lebih simpel begini dan tidak nambah kegiatan dengan memisahkan butiran pasir yang menempel di ulva.

Pemanfaatan ulva hanya sebatas digunakan sebagai sayur urap, pembuatan stick ulva dan rengginang ulva. Belum dimanfaatkan sebagai bahan campuran seperti mie ulva yang kemungkinan dengan manajemen yang baik akan menjadi bahan makanan favorit mengingat potensi kandungan ulva yang samat banyak, bahkan menjadi bioprospecting unggulan berdasarkan hasil penelitian

Gambar 6. Pembuatan stick ulva oleh kelompok Srikandi. Doc. TNBB - Juli 2026

PEKERJAAN RUMAH BAGI BTNBB

Selada air atau ulva yang bernilai tinggi tumbuh dan berkembang di perairan Teluk Gilimanuk dan terletak di zona tradisional terutama Pulau Kalong, menjadi kekayaan keanekaragaman hayati yang bisa langsung dimanfaatkan masyarakat bahkan menjadi bahan baku bioprospecting, maka TNBB dapat mencoba mengambil langkah – langkah sebagai berikut :

1.       Melaksanakan survei potensi lestari keberadaan ulva di lawasan Teluk Gilimanuk baik dilaksanakan sendiri maupun menggandeng pihak akademisi terdekat dibidang biologi laut bidang seaweed. Potensi lestari ini penting mengingat ulva sudah menjadi matapencaharian penduduk gilimanuk terutama pada musim kemarau.

2.       Membuka komunikasi dengan introsea (yang peran masuk dan memberikan pendampingan, bantuan dan pelatihan kepada masyarakat) dan UPT Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terutama BPSPL (Balai Pengelolaan Sumberdaya Perairan Laut) Denpasar untuk tukar informasi terkait pemanfaatan Ulva dan melakukan penyuluhan bersama penyuluh SPTN Wilayah I Jembrana, BTNBB untuk meningkatkan nilai ulva dalam pengolahan oleh masyarakat.

Video 2. Promosi Olahan Ulva oleh Kelompok Ekowisata Alam Karangsewu. Doc. TNBB - September 2026





Rabu, 28 Oktober 2026

Jerat Satwa Liar di Taman Nasional Bali Barat

 

JERAT SATWA DI TAMAN NASIONAL BALI BARAT

Isai Yusidarta, Ketut Widiantara, Apapanto Dwi dan Tim Smart Patrol SPTN Wilayah I Jembrana

Video 1. Tim Smart Patrol SPTN Wilayah I Jembrana menghancurkan jerat satwa. Dokementasi TNBB - Juli 2026


 Taman nasional adalah Kawasan Pelestarian Alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi, serta dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, penunjang budi daya, dan pemanfaatan kondisi lingkungan.


Berburu satwa adalah mata pencarian pada saat manusia hidup berpindah – pindah (nomaden) mengikuti ketersediaan hewan dan air, karena untuk memenuhi kebutuhan hidup. Manusia jaman batu tua mengandalkan berburu dan meramu untuk hidup adalah 100%. Senjata berburu terbuat dari batu, kayu, dan tulang binatang untuk berburu satwa dan mempertahankan diri.

Pada jaman manusia menetap saat ini, dapat diduga tujuan dari berburu 100% bukan untuk pemenuhan hidup, tetapi untuk hobi dan cenderung ada keinginan memuaskan keinginan diri sendiri. Kecenderungan menggunakan perangkat jerat satwa. Jerat satwa adalah alat untuk menangkap satwa melalui usaha tipu daya, jebakan, atau perangkap.

Alasan menjerat satwa

Penemuan jerat satwa di dalam dan di luar pinggiran (garis batas) kawasan Taman Nasional Bali Barat (TNBB) bermunculan dan semakin meningkat ketika mulai musim kemarau. Hasil smart patrol yang dilaksanakan personil TNBB menunjukkan bahwa pada saat musim penghujan sangat minim ditemukan pemasangan jerat.

Musim kemarau aktivitas pertanian musiman, perkebunan di area (desa) penyangga terganggu dengan ketersediaan air. Aliran dan sumber air berkurang hingga mengering. Hasil jagung yang melimpah pada musim penghujan, banyak ditunda penanamannya di musim kemarau. Artinya tanaman semusim tidak ditanam pada musim kemarau. Kalaupun ada yang menanam itu menggunakan sumur bor untuk mendapatkan air. Warga menjadi pengangguran tersembunyi. Ada juga yang berpindah profesi pekerjaan.

Beberapa oknum warga masyarakat mengusahakan pendapatan atau kebutuhan dapur dengan cara melakukan penangkapan satwa liar. Rusa, kijang, babi hutan, ayam hutan dan juga burung menjadi obyek yang ditangkap. Satwa yang ditangkap dijual dan ada yang dikonsumsi untuk kebutuhan rumah tangga.

Penggunaan jerat satwa juga meminimalkan, pemburu untuk tertangkap. Pemasangan jerat satwa , sangat jarang tertangkap tangan. Selain mengetahui dengan baik loasi pemasangan jerat, sudah pasti mereka tahu situasi dan kondisi area kawasan hutan sehingga memudahkan mereka memindah – mindahkan peralatan jerat satwa. Ketika mereka akan mengambil satwa hasil jerat, mereka menyamarkan diri sebagai pengambil madu hutan. Ketika bertemu petugas, mereka tidak jadi menengok jerat atau mengambil satwa hasil jerat dan ketika diperiksa hanya membawa perlengkapan berburu madu.

Di mana memasang jerat satwa

Jerat satwa dipasang di sekitar kubangan satwa, tempat ngasin satwa (mangrove) dan dekat lahan pertanian. Beberapa alasan lokasi tersebut dipasang jerat satwa, yaitu :

1.          Kubangan satwa merupakan tempat terakhir yang kemungkinan masih ada air. Walaupun kapasitas volume air menurun. Ketika air sudah mengering total tapi tanah masih lembab, biasanya ditumbuhi rumput. satwa liar seperti rusa dan kijang memanfaatkan rumput sebagian pakan.

2.          Area pinggir mangrove biasanya menjadi tempat ngasin rusa untuk memenuhi kebutuhan mineral esensial di dalam tubuhnya. Mamalia besar memerlukan garam untuk memenuhi unsur natrium dan essensial lainnya. Mengingat daun yang dimakan mengandung kalium yang sangat tinggi tapi rendah natrium.

Gambar 1. Pemasangan jerat satwa di alur jalan satwa ngasin di mangrove. Dokumen TNBB - Juli 2026


3.          Area menuju lahan pertanian sering diketemukan jerat satwa. Pada musim kemarau ketika lahan pertanian tanaman semusim menghijau berarti dilengkapi sistem pengairan melalui sumur bor. Hal ini menarik satwa babi hutan, rusa dan kijang untuk mencoba makan.

4.          Jalan yang diduga sebagai alur koridor satwa. Jalan ini merupakan koridor satwa untuk melakukan berbagai aktivitas seperti jam – jam mencari makan, kembali ke sarang ataupun tempat bermain. Atau bagi rusa dan menjangan adalah jalan masuk – keluar ke padang savana.

Gambar 2. Pemasangan jerat satwa di alur jalan koridor satwa liar. Dokumentasi - TNBB Juli 2026


Teknik Menangkap satwa dengan jerat.

Pemburu membuat alur jalan satwa yang diarahkan ke kubangan air, mangrove dan lahan pertanian. Alur jalan satwa sering disebut dengan koridor satwa. Satwa memiliki jalur pergerakan spesifik di dalam hutan yang terbentuk berdasarkan kebiasaan untuk mencari makan, ngasin dan daerah jelajah. Pemburu pasti akan memusatkan pemasangan jerat pada alur yang paling memungkinkan dilalui satwa. Pemburu pasti berusaha memodifikasi bahkan menutup area yang jalur jalan satwa liannya, agar dapat memungkinkan peluang (prosentase) satwa terjerat semakin besar.

Pada bagian tertentu dari jalur jalan satwa dipasang jerat satwa. Pada umumnya jerat satwa dipasang pada ujung alur jalan.  Tetapi bisa juga jerat dipasang pada bagian tengah jalur satwa. Untuk memperbesar peluang satwa terjerat biasaya satu alur jalur jalan satwa bisa dipasang jerat lebih dari satu buah.

Jerat satwa terbuat dari material kawat sling dan nylonyang ditunjang kayu yang lentur tapi kuat. Kawat sling atau Sling baja merupakan material baja bekas  rem atau kopling dari kendaraan bermotor yang mudah didapatkan di bengkel-bengkel perbaikan motor.

Kawat sling diikatkan pada batang kayu yang masih hidup tapi lentur dan kuat yang mampu menahan bobot satwa mamalia besar. Batang kayu tersebut sedikit dilengkukan, agar ketika jerat kawat sling diinjak dan mengikat kaki satwa maka batang pohon kembali tegak lurus dan mengikat kuat satwa yang terjerat. Satwa tidak bisa melepaskan diri.

Tali nylon biasanya untuk mengikat unggas seperti ayam hutan. Prinsip kerjanya sama dengan jerat dari kawat sling. Satu perangkat tali nylon bisa dibuat untuk memperangkap beberapa satwa.

Tindakan Taman Nasional Bali Barat

Sejak pelaksanaan smart patrol tahun 2026 dari bulan Januari sampai sekarang, TNBB melakukan langkah – langkah antisipasi perburuan satwa dan penggunaan jerat satwa untuk menangkap satwa.

1.    Menggelar smart patrol dengan pembiayaan DIPA, PKS ataupun mandiri secara intensif untuk mendapatkan data – data khususnya fitur alam berupa kubangan dan sumber air yang tersedia, serta jalur koridor satwa liar.

2.    Mempertebal patroli pembersihan jerat satwa, terutama sekitar kubangan air, area ngasin satwa dan perbatasan lahan pertanian masyarakat.

3.    Melakukan sosialisasi melalui anjangsana ke kelompok – kelompok tani hutan yang mengelola lahan perhutanan sosial di area KPH Bali Barat dan pengelolaan hutan adat untuk membantu memberikan informasi aktivitas illegal hunting (perburuan) di dalam kawasan dan perbatasan hutan.

4.    Membentuk agen – agen (informan) terkait perencanaan dan tindakan pelaksanaan perburuan dan perangkap jerat di sekitar kawasan hutan TNBB.

5.    Selalu berusaha berkoordinasi dengan stakeholder untuk mencegah perburuan liar, apalagi sudah ada bukti penggunakan senapan angin yang sudah dimodifikasi dengan kaliber yang lebih besar dan dapat membunuh satwa mamalia besar bahkan manusia.


 
Gambar 3. Jerat satwa untuk Aves yaitu ayam hutan berbahan tali nylon. Dokumentasi TNBB - Juli 2026

Minggu, 25 Oktober 2026

PEMBAKARAN TERKENDALI HUTAN CEKIK TAMAN NASIONAL BALI BARAT

 

Video 1. Pemabakaran terkendali terhadap hasil pembabatan kerinyuh dan krasi di hutan Cekik, TNBB. Kerinyuh dan krasi ditumpuk dalam tumpukan dan ada sekat dengan tumpukan lainnya, baru kemudian di bakar terkendali dalam pengawasan petugas sehingga tidak membakar tegakan pohon utama yang dipertahankan. Dokumentasi TNBB - Oktober 2026


PEMBAKARAN TERKENDALI UNTUK PEMULIHAN EKOSISTEMPADANG RUMPUT DI HUTAN CEKIK, TAMAN NASIONAL BALI BARAT

Isai Yusidarta


Taman nasional adalah Kawasan Pelestarian Alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi, serta dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, penunjang budi daya, dan pemanfaatan kondisi lingkungan.


Fenomena kebakaran hutan dan lahan (karhutla) saat ini sepertinya menjadi salah satu bahan material utama di media sosial. Bahkan kebakaran hutan, cepat menaikkan rating pemilik media sosial. Kebakaran lahan di lahan milik sendiri (perorangan) kurang mendapat respon netizen, kecuali kebakaran lahan gambut (baik milik sendiri atau korporasi). Postingan tentang karhutla cepat mendapat respon netizen. Tidak jarang si pemosting di media sosial, tidak menggali informasi terlebih dahulu. Langsung posting kebakaran hutan begitu mendapatkan kiriman foto dan video areal hutan bekas terbakar.

Memposting kebakaran hutan harus cari informasi mendalam, agar dapat mengetahui bahwa hutan itu dibakar tanpa tujuan, atau pembakaran terkendali dengan tujuan memulihkan ekosistem asli dari hutan tersebut.

Ekosistem Asli Hutan Cekik

Hutan Cekik di kawasan Taman Nasional Bali Barat (TNBB), aslinya adalah padang savana (padang rumput). Ciri khas padang savana di TNBB adalah hamparan rumbut di permukaan tanah dengan diselingi pohon gewang atau gebang (Corypha utan), atau jika di padang savana Karangsewu di selingi oleh pohon bekul (Ziziphus mauritiana).

Rusa (Rusa timorensis) dan Kijang (Muntiacus muncak) dalam catatan konservasi menjadikan hutan Cekik sebagai habitat (tempat tinggal). Bahkan Banteng Bali pun tercatat merumput di hutan Cekik. Aves sering mendarat di atas permukaan rumput di padang savana Cekik (seperti terlihat di Savana Karangsewu). Burung sering memakan jangkrik dan binatang kecil yang berada di permukaan tanah. Ayam hutan juga mencari dan memakan serangga di permukaan dan di dalam tanah dengan menggali tanah menggunakan kakinya.

Hutan Cekik semakin mengalami tekanan ketika dibelah oleh 2 jalan nasional yaitu jalan Gilimanuk – Denpasar dan Gilimanuk – Singaraja. Sampah hasil buangan pengguna transportasi memberikan tekanan berat. Sampah sudah dibuang dan terbawa hingga tengah hutan. Kerinyuh dan krasi yang merupakan tanaman asing, entah bagaimana bisa berkembang menjadi tanaman yang mendominasi hutan Cekik di bagian bawah vegetasi pada saat ini.

Bagian padang rumput (savana) hutan Cekik yang tersisa dapat dilihat di sekitar kantor BTNBB dan SPTN Wilayah I Jembrana yang dikenal dengan Bumi Perkemahan Cekik. Dipersilahkan membandingkan kondisi bagian hutan Cekik di Bumi Perkemahan berupa padang rumput dan di pertigaan Cekik (bagian kiri pertigaan Cekik jalan Gilimanuk – Denpasar) berupa kerinyu dan krasi.

Spesies Asing Invasif (SAI)

Fungsi kawasan hutan tidak berjalannya sebagaimana mestinya juga dapat disebabkan oleh adanya spesies asing dan invasif. Spesies asing dan invasif adalah jenis tanaman, pohon dan satwa yang bukan asli hutan setempat, tetapi berasal dari luar kawasan hutan setempat, SAI bisa berasal dari luar negeri ataupun lokal Indonesia. Di hutan Cekik, tanaman kerinyuh dan krasi merupakan SAI karena bukan tanaman asli.

SAI menyebabkan tanaman, pohon, dan satwa hutan asli (native species) setempat tidak mampu bersaing bahkan punah tergantikan olehnya. Spesies tanaman, pohon dan spesies asli  kalah bersaing pada nice (relung) kehidupan yang sama dengan kerinyuh - krasi, yang dapat mengakibatkan terputusnya rantai makanan. Sehingga SAI menggantikan posisi nice spesies asli. Kerinyuh dan krasi dapat menggantikan posisi nice yang dulu ditempati padang rumput.

Mengapa SAI bisa mendominasi bahkan menggantikan posisi nice sepsies asli? Biasanya SAI mempunyai senyawa allelopati. Senyawa allelopati adalah senyawa beracun yang dapat membunuh spesies asli. Kondisi hutan Cekik sekarang ini ditutupi oleh spesies asing invasif yaitu kerinyuh (Chromolaena odorata) dan krasi (Lantana camara).

Efek Keberadaan SAI di Hutan Cekik

Kerinyuh dam krasi merupakan gulma berbentuk semak berkayu yang dapat berkembang dengan cepat sehingga sulit dikendalikan. Tumbuhan ini merupakan gulma padang rumput yang sangat merugikan dan memiliki allelopati.  Bahkan allelopati tersebut menyebabkan keracunan pada satwa mamalia yang memakannya. Keberadaan kerinyuh menyebabkan rumput tidak dapat tumbuh. Keberadaan padang rumput tergeser (mati – tidak ada lagi) dan kerinyuh mendominasi.

Kerinyuh dan krasi sering disebut sebagai tanaman penutup tanah (cover crop). Pada musim hujan tanaman ini cepat berkembang dan termasuk tanaman cepat tumbuh. Tidak memberi ruang bagai semai pohon asli (native species) hutan Cekik di tanah yang tertutup kerinyuh dan krasi. Sehingga anakan pohon asli sulit, jarang bahkan tidak tumbuh di bawah tanah yang sudah didominasi kerinyuh dan krasi. Biji pohon asli tidak dapat berkecambah dan tumbuh dengan cepat pada kesempatan musim penghujan karena sinar matahari tertutup oleh kerinyuh dan krasi sehingga tidak bisa membuka kulit biji dan berfotosintesis ketika semai mulau tumbuh daun.

Mamalia besar seperti rusa dan kijang tidak dapat merumput (grazing) di hutan Cekik lagi karena ketiadaan padang rumput akibat ditutupi kerinyuh dan kerasi.  Monyet juga terpengaruh dengan ketiadaan yang sering mencabut rumput dan memakan bagian pangkal rumput muda, tidak dapat menikmati lagi keberadaan rumput.

Kerinyu dan krasi juga menutup jalur koridor bagi rusa dan kijang untuk berpindah tempat dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Apalagi tanaman krasi di hutan Cekik itu berduri pada bagian batangnya. Kondisi ini seringkali dimanfaatkan oleh pemburu untuk membuat jalur perangkap, sehingga rusa dan kijang melewali jalur tersebut. Pada bagian tertentu dari jalur, pasti akan dibuatkan jerat satwa.

Keberadaan kerinyuh dan krasi juga menutup kesempatan aves (burung) seperti berbagai jenis jalak dan ayam hutan untuk mencari serangga yang berada di permukaan dan beberapa sentimeter di bawah permukaan tanah. Mengapa? Karena cabang dan ranting kerasi saling menutup rapat yang tidak memungkinkan aves melewatinya untuk mencapai permukaan tanah.

Tindakan TNBB

Konsep pembinaan habitat melalui pemulihan ekosistem telah dijalankan oleh TNBB. Pemulihan ekosistem dilakukan dengan menghilangkan SAI. Artinya, tanaman kerinyuh dan krasi harus dimatikan. Hilangnya kerinyuh dan krasi, memungkinkan pemulihan ekosistem dengan mendatangkan kembali (reintroduksi) rumput padang savana untuk membentuk ekosistem padang rumput (savana) baru di hutan Cekik.

Tindakan mengembalikan ekosistem padang rumput (savana) di hutan Cekik ini sesuai dengan definisi taman nasional menurut Undang – Undang Nomor 32 tahun 2024 tentang Perubahan Atas Undang - Undang Nomor 5 Tahun I990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati Dan Ekosistemnya. Taman nasional adalah Kawasan Pelestarian Alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi, serta dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, penunjang budi daya, dan pemanfaatan kondisi lingkungan. Ekosistem padang rumput (savana) adalah ekosistem asli di hutan Cekik.

Pemulihan ekosistem asli hutan Cekik, TNBB dilakukan telah, sedang dan akan dengan langkah – langkah sebagai berikut :

1.   Pembabatan tanaman kerinyuh dan krasi secara manual menggunakan tenaga dari masyarakat sekitar hutan. Peralatan yang digunakan berupa sabit, gergaji manual, dan tongkat. Pembabatan ini memerlukan waktu 8 hari untuk luasan 5 hektar. Setiap hari menggunakan 15 – 20 orang perhari sebagai buruh harian.

2.   Pembabatan kerinyuh dan krasi kemudian ditumpuk kecil – kecil. Antar tumpukan diberikan jarak yang cukup. Agar ketika dilakukan pembakaran terkendali tidak bersamaan terbakarnya.


Gambar 1. Tanaman kerinyu dan krasi dikumpulkan dan ditumpuk oleh pekerja dari masyarakat sekitar hutan, jauh dari pohon utama. Tampak di lokasi kerinyu dan krasi, tanah kosong tidak ada rumput yang tumbuh. Dokumen TNBB - Oktober 2026

3.   Pelaksanaan pembakaran terkendali dilakukan dengan cara setiap tumpukan dibakar terpisah (diberi sekat bakar) dan tidak bersamaan waktunya serta dijaga oleh tenaga manusia hingga api padam. Ketika api sudah padam bisa beralih ke tumpukan berikutnya. Pembakaran terkendali ini dilakukan agar biji kerinyuh dan krasi ikut terbakar baik yang sudah jatuh ke tanah maupun yang masih menempel di tanaman. Karena jika tidak dibakar maka biji yang telah jatuh ke permukaan tanah akan bertunas dan tumbuh, bonggol tanaman kerinyuh dan kerasi pun dapat bertunas kembali.


Gambar 2. Hasil pemangkasan kerinyuh dan krasi dikumpulkan dan dijauhkan dari pohon utama, agar tidak terbakar ketika dilakukan pembakaran terkendali. Dokumen TNBB - Oktober 2026

4.   Telah disiapkan biji rumput padang savana. Pada saat musim hujan tiba, maka biji rumput padang savana akan disebarkan ke permukaan tanah hutan Cekik.

5.   Sebagai antisipasi pertumbuhan kerinyuh dan kerasi pada musim hujan dari biji yang tidak terbakar dan bonggol tebangan yang dapat tumbuh kembali, maka akan dilaksanakan penyemprotan herbisida pada tanaman kerinyuh dan krasi yang tumbuh kembali setiap bulan.

6.   Harapan ke depan ekosistem asli hutan Cekik berupa padang rumout (savana) dan kembali terbentuk. Satwa mamalia seperti rusa, kijang, monyet dapat merasakan rumput kembali. Aves dapat kembali muncul di padang rumput dan dapat dilihat dengan mudah untuk bird watching.

Pembakaran Terkendali

Pembakaran terkendali di hutan Cekik pada kegiatan pembinaan habitat bertujuan untuk pemulihan ekosistem padang rumbut (savana). Pembakaran terkendali dilakukan menghilangkang SAI yaitu kerinyuh dan krasi yang merupakan tanaman semak pada lantai tanah hutan. Hasil pembakaran terkendali murni untuk kerinyuh dan kerasi serta tidak menyebabkan pohon – pohon utama yang hidup ikut terbakar.

Gambar 3. Foto diatas menggambarkan kondisi nyata yang dinamakan pembakaran terkendali. Kerinyu dan krasi ditumpuk berjarak. Kemudian dibakar satu per satu bergiliran setelah satunya padam. Petugas menunggu dan memastikan api tidak menjalar dan padam tidak meninggalkan bara api yang menyala sebelum pergi meninggalkan lokasi. Dokumentasi TNBB - Oktober 2026.

Pembakaran terkendali secara tidak langsung juga merupakan upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan. Di hutan Cekik, pada musim kemarau tanaman kerinyuh dan krasi itu mengering di bagian atas permukaan tanah, tetapi bonggol masih hidup (pada musim kemarau). Kerinyuh dan krasi yang kering merupakan salah satu bahan bakar api disamping daun-daun kering dilantai permukaan tanah hutan. Apalagi di hutan Cekik mulai dari pinggir jalan nasional Gilimanuk – Denpasar dan Gilimanuk – Singaraja juga terdapat sampah plastik dan strereofoam yang juga merupakan bahan bakar api. Jika ada percikan api sedikit saja (seperti putung rokok) bisa menyebabkan kebakaran tidak terkendali.


Gambar 4. Sampah plastik dan stereofoam telah masuk jauh ke dalam hutan Cekik bercaput dengan tanaman kerinyuh dan krasi. Baik kerinyuh, krasi dan sampah plastik - stereofoam adalah bahan bakar yang dapat  menyebabkan kebakaran hutan tidak terkendali ketika terjadi percikan api kecil. Cara mencegah kebakaran hutan tidak terkendali adalah melakukan pembakaran terkendali yang sesuai kaidah pembersihan bahan bakar api yang dilakukan oleh petugas yang kompeten pengendalian api. Dokumen TNBB - Oktober 2026.


Rabu, 21 Oktober 2026

Ikan Capungan Banggai (Pteropogon kaudermi) di Taman Nasional Bali barat

 CERITA IKAN CAPUNGAN BANGGAI DI TAMAN NASIONAL BALI BARAT

Isai Yusidarta


Taman Nasional adalah Kawasan Pelestarian Alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi, serta dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, penunjang budi daya, dan pemanfaatan kondisi lingkungan.




Video 1. Ikan Capungan Banggai berasosiasi dengan Bulu Babi di Teluk Gilimanuk. Dokumen TNBB Oktober 2026

Menurut penuturan dan catatan tulisan, keberadaan ikan Capungan Banggai di Taman Nasional Bali Barat (TNBB) adalah suatu kondisi kecelakaan perdagangan. Pengiriman ikan ini untuk kepentingan perdagangan ikan hias laut dari Kepulauan Banggai. Sebelum dikirim ke luar negeri, ikan disortir terlebih dulu. Ikan hasil sortiran yang tidak memenuhi syarat perdagangan yang seharusnya dimusnahkan, tetapi dibuang ke perairan laut Pulau Bali. Ternyata ikan Capungan Banggai hidup dan berkembang di perairan Teluk Gilimanuk, Teluk Terima hingga Sumber Kima.

Julukan "capungan" diberikan karena morfologi tubuhnya yang kecil, bersirip panjang, dan melayang anggun di kolom perairan laut, sehingga mengingatkan pada bentuk capung.

Apa itu Capungan Banggai?

Capungan Banggai adalah jenis ikan yang hidup dengan status endemik di perairan Kepulauan Banggai, Sulawesi Tengah. Capungan Banggai sering dikenal dengan nama Cardinal Fish  atau Capungan Ambon dengan nama ilmiah Pteropogon kaudermi.

Filum     :    Chordata

Kelas      :    Actinopterygii

Bangsa  :    Perciformes

Suku      :    Apogonidea

Marga    :    Pteropogon

Spesies  :    Pteropogon kaudermi



Gambar 1. Ikan Capungan Banggai berasosiasi dengan Bulu Babi di dasar substrat pasir Teluk Gilimanuk. Dokumen TNBB Oktober 2026

Ikan Capungan Banggai memiliki bentuk tubuh pipih dengan ciri khas totol – totol putih di sekijur tubuhnya baik ekor sirip maupun tubuh. Warna tubuh coklat muda keperakan bergaris hita. 3 buah (1 buah melewati mata) dengan dahi berwarna hitam hingga mulut dan bagian bawah kepala. Sirip punggung berjumlah dua (2) buah panjang di belakang dan lebih pendek dibagian depan. Siri dada tampak berwarna hitam agak kebiruan (ketika dikenakan cahaya lampu senter pada malam hari) dengan totol totol putih yang rapat. Sirip ekor bercabang dua panjang juga dominan warna hiatam dan totol-totol putih.

Ukuran ikan Capungan Banggai antara 1,2 – 7,9 cm. Rongga mulut pejantan lebih lebar dibandingkan dengan betina. Kemungkinan hal ini berkaitan dengan sifat mouthbreeder dengan ikan jantan membuahi telur di mulutnya.

Keberadaan Capungan Banggai di Wilayah Perairan TNBB

Keberadaan Ikan Capungan Banggai di perairan dangkal TNBB baik yang dilaporakan berada di perairan Teluk Gilimanuk, Prapat Agung, Teluk Terima dan Sumber Kima merupakan alien spesies. Ikan ini bukan merupakan jenis asli yang tinggal dan menetap, tetapi ikan yang berasal dari perairan di luar Taman Nasional Bali Barat. Diketahui bahwa ikan ini berasal dari perairan dangkal di Kepulauan Banggai, Sulawesi Tengah.

Walaupun merupakan alien species tetapi keberadaan ikan Capungan Banggai di perairan TNBB belum bersifat invasif (belum ada penelitian). Kemungkinan karena sifat ikan ini sebagai detritor food (pemakan detritus) bukan karnivora atau pemakan ikan lainnya.

Pemanfaatan Capungan Banggai di TNBB

Capungan Banggai dimanfaatkan oleh beberapa nelayan pengumpul ikan hias dengan cara menanggap menggunakan serok. Hasil tangkapan dijual ke pengepul ikan hias di sekitar Sumberklampok. Hasil tangkapan dipilih ikan yang berukuran kecil. Seorang nelayan menagkap ikan ini perhari sebanyak 600 ekor. Satu ekor ikan dihargai sebesar Rp 1.000,- sampai Rp 2.000,- per ekor. Artinya nilai transaksi ekonomi (NTE) sekali melakukan penangkapan mendapatkan Rp 600.000,- sampai dengan Rp 1.200.000,-. Ikan ini kemudian di bungkus plastik ukuran 0,5 kg dengan jumlah 5 ekor dan diberikan oksigen murni agar ikan ini tetap hidup hingga di tangan pengepul.

Gambar 2. Bersama anggota Kelompok Nelayan Teluk Asri yang memanfaatkan ikan Capungan Banggai sebagai produk ikan hias akuarium air laut. Dokumen TNBB Oktober 2026

Anak – anak kecil menangkap ikan Capungan Banggai dengan kail ukuran paling kecil dengan umpan cacing (rutus – Bali red). Hasil pancing bisa di goreng garing dan dibumbu Bali (saya pernah makanikan ini). Karena digoreng garing, rasanya renyah dan hurih ketika sudah diberikan bumbu. Ketika digoreng garing duri dirip punggung dan ekor mudah dikunyah tidak takut menusuk lidah atau dinding mulut.

Capungan Banggai di Teluk Gilimanuk dapat ditangkap karena berada di perairan dengan zona tradisional, TNBB. Penggunaan serok dan perahu ketinting mewujudkan penggunaan alat tradisional dan ramah lingkungan. Nelayan yang menangkap ikan ini di Teluk Gilimanuk merupakan anggota kelompok nelayan Teluk Asri, Karangsewu dan Segara Mertha yang mempunyai akses pengelolaan zona tradisional Teluk Gilimanuk dari Menteri Kehutanan dan telah diperpanjang sejak 2026 – 2030.

Sekelumit Cerita monitoring Capungan Banggai

Monitoring Capungan Banggai dilaksanakan pada tanggal 13 – 15 Oktober 2026 oleh Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) berlokasi di perairan Teluk Gilimanuk dan Sumber Kima. Monitoring ini sudah mendapat ijin dari Balai Taman Nasional Bali Barat dengan menerbitkan SIMKASI (Surat Ijin Masuk Kawasan Konservasi). Monitoring juga melibatkan personil dari  CV. Dinar di Gilimanuk dan Pejarakan yang merupakan perusahaan dengan usaha perdagangan ikan hias dan karang.

Kondisi Capungan Banggai di Teluk Gilimanuk dapat disampaikan sebagai berikut :

1.   Mudah dijumpai dan hidup berasosiasi dengan koloni Bulu Babi. Satu individu Bulu Babi dewasa tercatat ditempati 5 – 10 ekor ikan Capungan Banggai dewasa. Tercatat juga  mencapai 15 ekor Capungan Baggai dewasa dan kecil. Bahkan mencapai 24 ekor ikan kecil.

2.   Hidup pada ekosistem terumbu karang terutama karang bercabang. Karang bercabang berperan juga menyediakan tempat perlindungan yang aman. Jika merasa ada gangguan ikan Capungan Banggai akan bersembunyi di sela – sela karang bercabang. Tercatat diketemukan bergerombol 10 – 15 ekor Capungan Banggai.

3.   Ekosistem lamun yang rapat memberikan juga perlindungan yang aman dari arus air yang kuat dan juga predator. Di sela-sela lamun diketemukan gerombolan ikan Capungan Banggai sebanyak 5 – 10 ekor.

4.   Rongga – rongga di bagian substrat dasar terumbu karang juga dijumpai ikan Capungan Banggai. Rongga ini menyediakan rumah dan perlindungan bagi ikan ini. Sering diketemukan sekitar 5 ekor bergerombol di rongga-rongga ini.

5.   Keberadaan tempat usaha transplantasi karang juga diketemukan Capungan Banggai. Jika terancam ikan ini akan bersembunyi di bawah meja/ rak transplant karang. Jika merasa aman, ikan ini akan muncul di permukaan sekitar transplant karang. Sering diketemukan sekitar 5 - 7 ekor ikan Capungan Banggai di setiap gerombol.

6. Bahan – bahan buatan manusia yang berongga sering diketemukan ikan Capungan Banggai dalam jumlah besar tergantung ukuran bahan tersebut. Bekas bubu ikan ukuran 1 meter x 2 meter di sekitar gilimanuk tercatat dihuni lebih dari 100 ekor ikan Capungan Banggai.

Kondisi ikan Capungan Banggai di Sumber Kima pada saat monitoring berbeda dengan di Teluk Gilimanuk. Ukuran ikan, jumlah individu ikan dan kondisi bulu babi sebagai tempat asosiasi dapat digambarkan sebagai berikut :

1.   Ukuran indivdu ikan di perairan Sumber Kima lebih kecil dibandingkan di Teluk Gilimanuk. Ukuran individu ikan masih kecil-kecil (anak-anak) dan tidak diketemukan ukuran besar (indukan). Ukuran rata-rata 1 – 2 cm.

2.   Koloni bulu babi dalam satu titik minimal 20 individu, bahkan ada yang 217 individu tetapi ikan Capungan Banggai yang hidup berasosiasi dengan koloni bulu babi paling tinggi 3 ekor. Lebih sering dalam satu koloni bulu babi hanya terdapat 1 ekor Capungan Banggai kecil.

3.   Ukuran bulu babi lebih kecil dibandingkan bulu babi yang ada di Teluk Gilimanuk. Ada dugaan juga berbeda jenis bulu babi antara di perairan Sumber Kima dengan di Teluk Gilimanuk.

4.   Dalam kegiatan monitoring di perairan Sumber Kima diketemukan tidak lebih dari 50 ekor Capungan Banggai ukuran kecil. Bahkan ada pertanyaan “Dimana induknya bersembunyi?”

Hasil monitoring menunjukkan bahwa pupulasi terbesar terdapat di Teluk Gilimanuk. Ikan Capungan Banggai hidup berasosiasi di Bulu Babi. Tinggal di terumbu karang khususnya karang bercabang. Hidup juga di ekosistem lamun lamun. Menempati substrat berongga. Sering juga tinggal di area transplantasi karang bahkan benda-benda yang mempunyai rongga yang dibuang ke laut dapat menjadi tempat hidupanya.

Gambar 3. Ikan Capungan Banggai berasosiasi di dengan Bulu Babi di area padang lamun. Dokumen TNBB Oktober 2026

Kesesuaian Hukum

Keberadaan ikan Capungan Banggai di perairan dangkal TNBB berdasarkan prinsip legalitas (kepatuhan hukum) pada Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2024 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, maka merupakan spesies eksotik. Spesies eksotik adalah jenis tumbuhan, hewan, atau mikroorganisme yang berada di luar habitat alaminya akibat campur tangan manusia, baik sengaja maupun tidak.

Artinya tindakan membuang (melepaskan) ikan Capungan Banggai ke perairan TNBB adalah tindakan yang bertentangan dengan kesesuain hukum. Tindakan individu ataupun korporasi bahkan seandainya yang melakukan instansi pemerintah maka tidak sesuai dengan definisi taman nasional seperti yang tertulis di dalam Undang – Undang Nomor 32 tahun 2024. Ikan Capungan Banggai adalah ikan endemik Kepulauan Banggai, Sulawesi Tengah. Artinya seharusnya ada dan hanya terdapat di Kepulauan Banggai

Kepatuhan Hukum

Kesesuaian hukum harus selaras dengan kepatuhan hukum, artinya ikan Capungan Banggai dilarang untuk dilepaskan di habitat yang bukan aslinya. Sudah sepatutnya individu, korporasi bahkan instansi pemerintah mengetahui yang dilarang dan diperbolehkan ketika melakukan pengelolaan ikan Capungan Banggai. Ketika ikan Capungan Banggai diketahui berada di perairan TNBB, sudah pasti terdapat tindakan yang melanggar kepatuhan hukum. Wajar jika individu, korporasi bahkan instansi pemerintah yang terkena sanksi pidata pertada maupun administrasi. Ketika tidak ada individu, korporasi bahkan instansi pemerintah yang mengakui bersalah atau dihukum bersalah, maka harus ada upaya/ tindakan dari pengelola spesies ikan Capungan Banggai dan pengelola wilayah TNBB. Upaya dasar untuk memenuhi kepatuhan hukum adalah pengumpulan bahan dan keterangan. Kegiatan monitoring ikan Capungan Banggai ini merupakan bentuk dasar dari kepatuhan hukum. Secara ilmiah (scientific) kegiatan monitoring ini dapat menjadi kajian apakah ikan Capungan Banggai telah berkembang menjadi spesies asing invasif.

Keadilan Substansial

Keberadaan ikan Capungan Banggai telah lama berkembang di perairan TNBB bahkan telah menjadi sumber penghidupan kelompok nelayan ikan hias laut. Keberadaan ikan ini di perairan TNBB tidak memenuhi kesesuaian hukum dan kepatuhan hukum. Kenyataanya belum ada tindakan yang mampu memberikan kejelasan sanksi pidana, perdata maupun administratif terhadap pelanggaran ini. Artinya kesesuaian hukum dan kepatuhan hukum tidak hanya dinilai secara kaku dari teks undang-undang (hukum formal), tetapi juga harus bersendikan sebagai keadilan yang hidup di masyarakat (hukum materiil/substansial). Masyarakat tidak mengeluhkan keberadaan Capungan Banggai di perairan TNBB, bahkan sebaliknya bahwa masyarakat nelayan memanfaatkannya. Artinya produk hukum formal wajib diselaraskan agar tetap memuat nilai lokal yaitu memberikan manfaat yang positif bagi masyarakat desa penyangga kawasan TNBB. Menjadi tugas dan tanggung jawab pengelola wilayah dan pengelola spesies ikan Capungan Banggai untuk memberikan kepastian : 1) Apakah ikan Capungan Banggai memiliki sifat invasif (spesies eksotik invasif/SEI) atau tidak?; 2) Tindakan apa yang diambil terkait keputusan angka 1, jika ikan Capungan Banggai bersifat SEI, dan jika ikan Capungan Banggai tidak bersifat SEI? Keputusan atas dua langkah di atas hasil monitoring ikan Capungan Banggai di perairan TNBB akan memberikan keadilan subtansial bagi habitat, spesies dan genetik bagi ikan Capungan Banggai serta masyarakat nelayan yang memanfaatkannya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.