Kamis, 17 September 2026

Cattle in the Karangsewu Savana - West Bali National Park (Part 1)

 SAPI DAN POHON WARU SAVANA KARANGSEWU

Isai Yusidarta dan Hery Kusumanegara

 

Kawasan Taman Nasional Bali Barat (TNBB) mempunyai beberapa titik area yang langsung berbatasan dengan rumah penduduk. Tidak lagi ada jalur batas kawasan yang memisahkannya dengan area hutan konservasi. Musim kemarau ini terlihat daun yang menghijau selebar 10 meter sejajar dengan rumah penduduk, memisahkan padang savana  yang kering pada musim kemarua ini.


Posisi Savana Karangsewu

Savana Karangsewu adalah satu-satunya savana (padang rumput) TNBB yang terletak berdampingan sejajar garis batas dengan rumah penduduk. Satu-satunya savana di area perkotaan, mengingat status administrasi kepemerintahan Gilimanuk adalah kelurahan di Kabupaten Jembrana.

Ada cerita, seseorang pernah memiliki kambing sampai 100 ekor diumbar (dibiarkan bebas) di savana Karangsewu. Ada yang memelihara sapi sampai 20 ekor diikat dan dikandangkan di savana Karangsewu. Pernah adanya pelarangan penggembalaan ternak di savana Karangsewu karena berbenturan dengan tempat bermain sepakbola anak-anak.

Gambar 1. Peternak mengikat induk sapi di savan Karangsewu dekat area mangrove, dimana masih ada rumput hijau walaupun lebar beberapa meter. Foto 18 September 2026 – Dokumen TNBB.


Pintu masuk nelayan sebelum menangkap ikan di perairan Karangsewu, Teluk Gilimanuk. Tempat nelayan memarkirkan dan menyimpan kapal. Tempat kelompok nelayan Teluk Asri, Karangsewu dan Segara Mertha mendapatkan akses di zona tradisional

Savana Karangsewu sekarang menjadi tempat wisata berbasis masyarakat yang sedang berkembang dengan camping dan campervan, area outbond dan bird watching khususnya Curik Bali atau Bali Mina.

Ternak di Karangsewu

Sebagian masyarakat Gilimanuk menganggap, Savana Karangsewu adalah padang gembalaan yang disediakan oleh Tuhan Allah. Hijaunya rumput terbuka sebelum musim kemarau adalah “rupiah berdaging” melalui sapi dan kambing. Dominasi sekarang ini adalah ternak sapi.




Ternak di Karangsewu

Sebagian masyarakat Gilimanuk menganggap, Savana Karangsewu adalah padang gembalaan yang disediakan oleh Tuhan Allah. Hijaunya rumput terbuka sebelum musim kemarau adalah “rupiah berdaging” melalui sapi dan kambing. Dominasi sekarang ini adalah ternak sapi.

Melihat hal ini, masyarakat Gilimanuk yang tinggal di sekitar savana Karangsewu, mengusahakan kegiatan peternakan. Mengapa kata “mengusahakan”? Fakta di lapangan menunjukkan bahwa ternak bukan mata pencaharian pokok, tetapi sampingan. Jika diperhatikan, maka :

1.       Selama matahari bersinar tidak menggunakan waktunya 100% merawat ternak.

2.       Mereka mempunyai pekerjaan lainnya, terutama untuk memenuhi kebutuhan harian.

3.       Ternak peliharaan tidak 100% milik mereka. Ada yang memelihara ternak orang lain (sistem gaduh).

4.       Mereka tidak punya kandang ternak di lahan milik sendiri, apalagi lahan penggembalaan pribadi.

5.       Tidak memungkinkan lagi memelihara ternak dalam jumlah masif. Berbenturan dengan lokasi sebagai bagian kawasan konservasi Taman Nasional Bali Barat.

6.       Ternak untuk pemenuhan jangka menengah, atau jika ternak milik sendiri adalah untuk pemenuhan insidental (mendadak waktunya)

Gambar 2. Lokasi penanaman waru di pinggir kawasan Karangsewu TNBB yang berbatasan dengan rumah penduduk. Foto 14 September 2026 – Dokumen BTNBB.


Hijauan Ternak

Musim kemarau padang rumput Karangsewu menguning dan kering. Rumput yang dekat sepanjang pantai Karangsewu dan mangrove yang masih menghijau dengan lebar beberapa meter (mengapa?). Ada kemungkinan evaporasi pada siang hari dan mengalami kondensasi pada malam hari. Jika diperhatikan dengan seksama di pagi hari area ini lebih basah. Ketika rumput dijilat rasanya tawar.

Musim kemarau menjadi tantangan menyediakan pakan. Sapi tidak lagi merumput (grazing) untuk memamahbiak. Peternak harus mencarikan hijauan daun agar perut sapi terisi. Kambingpun tidak bisa lagi meramban (browsing), vegetasi tingkat semai dan pancang harus menunggu musim hujan untuk tumbuh dari biji yang jatuh dari pohon. Akhirnya, sapi dan kambing berebut hijaun daun dari vegetasi yang “ada” (mengapa tanda kutip?). Pilihannya adalah mencari ramban daun dari vegetasi asli pohon yang dapat dimakan ternak atau menanam pohon pakan ternak. Kalau pilihannya menanam, berarti ditanam dimana? Mereka tidak punya lahan pribadi.

 Cerita Hibiscus tilliaceus

Tanggal 11 September 2026, gotong royong dengan KEAK (Kelompok Ekowisata Alam Karangsewu) memasang pipa PVC untuk mengalirkan air olahan bekas pendingin mesin PLTG Gilimanuk untuk menyiram savana dan pembibitan, saya bertanya : “Apakah pohon waru (Hibiscus tilliaceus) ini sudah ada sejak awal rumput savana tumbuh?”.

Gambar 3. Pohon waru yang ditanam terlihat sebagian telah dipangkas untuk pakan ternak. Tampak batang dan ranting yang menjulang tanpa daun. Foto tanggal 15 September 2026 – Dokumen TNBB.

Ternyata, pohon waru itu ditanam seseorang. Sejak awal yang ada hanya padang rumput, pohon bekul dan mangrove. Waru ditanam untuk menyediakan pakan sapi dan kambing pada musim kemarau. Waru dapat menaungi sapi yang dikandangkan ketika terik matahari dan hujan. Waru memberikan warna hijau ketika musim kemarau. Waru saat ini seperti menutupi rumah penduduk ketika memandangnya dari savana Karangsewu.

Gambar 4. Peternak meramban daun waru dari pohon yang ditanam di pinggir kawasan TNBB yang berbatasan dengan rumah penduduk. Foto 14 September 2026 – Dokumen TNBB.

Politis Pohon Waru

Tujuan utama penanaman waru adalah  untuk mencegah peternak mengambil hijauan daun dari vegetasi di kawasan hutan konservasi TNBB pada musim kemarau. Bisa dibayangkan ketika peternak meramban daun di kawasan TNBB, bisa mengakibatkan kematian vegetasi dan tanah menjadi kering pecah-pecah terpapar matahari langsung. Ketika hujan turun lebat tidak ada struktur daun bertingkat yang mengurangi energi kinetik air hujan sebelum mengenai tanah. Hal ini menyebabkan tanah dihantam energi kinetik air hujan secara langsung. Akibatnya tanah mengalami terkikis – erosi dan terbawa aliran air permukaan.

Keberadaan pohon waru bisa menjadi posisi tawar antara peternak dan BTNBB yaitu penyedia hijauan ternak dan menghindari pemangkasan daun pada pohon di TNBB.

Gambar 5. Motor dengan kondisi berbeda yang sama-sama untuk mengangkut ramban di tepi kawasan TNBB. Foto 17 dan 18 September 2025 – Dokumen TNBB


Apakah sapi-kambing bisa memiliki ruang legal

di kawasan konservasi savana karangsewu?


Selasa, 15 September 2026

WILD LIFE WATERING HOLE - WEST BALI NATIONAL PARK (Part 1)

 

KUBANGAN SATWA LIAR

Isai Yusidarta, Hery Kusumanegara, Ketut Widiantara, Putu Mertameyasa, Kukuh Damai dan Maman


Kubangan di kawasan TNBB merupakan tempat survival life utama pada musim kemarau. Tempat ini adalah surga bagi satwa liar yang hidup di dalam hutan konservasi. Pengawasan, pengamanan dan perlindungan lokasi ini merupakan target utama dari personil TNBB


Musin kemarau identik dengan udara yang panas. Udara sejuk pada musim penghujan telah hilang. Warna daun mulai menguning, mendominasi vegetasi hutan. Daun gugur di tanah berwarna coklat, lalu kering menutupi tanah. Bagi vegetasi pohon di hutan konservasi Taman Nasional Bali Barat (TNBB) itu merupakan silkus musim yang wajar.

Terpaan udara sejuk menuju udara panas, membuat tutupan riap daun pada hutan lebih terbuka. Sinar matahari mampu menembus tanah secara langsung. Tanah menjadi kering bahkan retak – retak pada tanah dengan tekstur tanah liat. Pada tanah pasir, membuat butiran pasir berterbangan.

Pohon tetap tegak berdiri. Daun tetap terlihat, walaupun di permukaan tanah. Aliran udara lebih panas, bisa dirasakan. Siang dan malam masih silih berganti datang di Kawasan hutan.

Sepertinya ada yang hilang?

 Apa yang hilang?

Jawabannya adalah kubangan air aktif (air tawar atau freshwater).

Benarkah?

Musim kemarau membuat air di kawasan Hutan Taman Nasional Bali Barat (TNBB) mulai berkurang bahkan menghilang pada titik – titik tertentu. Kubangan air mengering. Tanah dasar kubangan tampak retak – retak karena mengering. Tidak ada lagi aliran air permukaan yang mengisi kubangan. Tidak ada lagi air hujan yang dapat ditampung oleh kubangan. Artinya tidak ada lagi penambahan volume air di kubangan sebelum musim penghujan turun. Tidak tampak jejak satwa liar yang biasanya terlihat disekitar kubangan, seperti ketika masih terdapat air.

Gambar 1.  Kubangan kecil pada ketiggian diatas 100 meter di Grid M6 yang sudah tidak terisi air. Foto 11 Juni 2028 – Dokumen TNBB

Dimana kubangan berada?

Kawasan pelestarian alam Taman Nasional Bali Barat (TNBB) terdapat banyak kubangan. Apakah seluruh kubangan di kawasan TNBB telah mengering pada musim kemarau? Kubangan yang kering total adalah kubangan kecil. Ukurannya kurang dari 10 meter persegi dan berada di ketinggian yaitu di atas 50 meter. Kubangan ukuran ini, menampung air dari aliran air permukaan yang bukan utama. Kedalaman pada saat air penuh biasanya hanya kisaran 20 cm.

Gambar 2. Foto-foto di kubangan besar masih tersimpan air di cekungan utama maupun cekungan kecil-kecil disekitarnya. Rumput juga masih hijau. Foto 11 Agustus 2026 – Dokumen TNBB.

Smart Patrol 10 – 14 Agustus 2026 masih menjumpai kubangan air tawar di dataran rendah sekitar Cekik dengan ukuran lebih dari 100 meter persegi. Jika musim hujan kubangan ini bisa berukuran 500 meter persegi dengan kedalaman terdalam 100 cm. Saat ini, kondisi cekungan kubangan, tidak terisi air tawar penuh. Atau menunjukkan volume air telah berkurang. Tanah - tanah kubangan sekitar air masih lembab dan basah. Jejak satwa seperti babi (Sus scrofa), rusa (Rusa timorensis), kijang (Muntiacus muntjak) bahkan ayam hutan (Gallus sp), tercetak dengan jelas. Pohon – pohon besar dengan riap daunnya yang lebat, menaungi. Kubangan terhindar dari paparan langsung sinar matahari. Hal ini mengurangi evaporasi. Tutupan pohon beringin (Ficus sp), buta – buta (Excoecaria agallocha) dan gebang (Corypha utan) mendominasi area ini. Rumput (Gramine) masih menghijau di sekitar kubangan.

Kubangan di Tegalbunder (gambar 1) merupakan kubangan dengan ketinggian beberapa cm diatas permukaan laut saat pasang tertinggi yang masih aktif pada musim kemarau (Agustus 2026). Padang savana masih menghijau. Area cekungan Teluk Gilimanuk (Grid J7) yang berbatasan dengan mangrove, rumput pun menghijau dan tumbuh subur (Gambar 2). Di area ini pada bagian lumpur mangrove, diketemukan jejak monyet (Macaca fascicularis), babi hutan hingga rusa. Bahkan pada cekungan lumpur di area mangrove juga menjadi kubangan babi dan tempat ngasin rusa.

Gambar 3. Kubangan air di savana Tegalbunder. Foto diambil 13 Agustus 2026 - Dokumen TNBB.

Siapa pengguna kubangan?

Pemakai kubangan di kawasan TNBB adalah satwa liar. Mulai dari serangga hingga mamalia besar. Serangga yang sering ditemui adalah kupu-kupu (ordo Lepidoptera), capung (ordo Odonanta), dan lebah (Apis sp). biawak (Varanus sp), kadal (Sub-ordo Lacertillia atau Sauria) dan ular (Sub-ordo Serpentes) merupakan perwakilan dari reptil yang sering berada disekitar kubangan. Semua aves baik burung dan ayam hutan, berkumpul di area sekitar kubangan. Aves seringkali menjadikan pohon di area kubangan sebagai tempat “hinggap” bahkan tempat tinggal/ bersarang (nesting).

Pemanfaat utama kubangan di kawasan TNBB adalah mamalia besar seperti Babi, Rusa, Kijang, Jelarang (Ratufa bicolor), Tupai (Ordo Scandentia), Monyet Ekor Panjang (MEP), Lutung (Trachypithecus auratus). Mereka meninggalkan jejak berupa print food (jejak kaki) ketika memanfaatkan kubangan.

Catatan khusus. Pemanfaat kubangan di kawasan TNBB bukan hanya satwa liar. Satwa domestikasi seperti sapi (Bos domesticus), dijumpai digembalakan di savana yang terdapat kubangan. Mengapa ini bisa terjadi? Akan dibahas pada kesempatan lain.

Mengapa kubangan?

Satwa liar memanfaatkan kubangan di dalam kawasan TNBB untuk : 1). Minum. Selain dipenuhi dari air yang terkandung dalam material makanan yang dimakan, satwa memerlukan asupan air langsung ke dalam tubuhnya. Menghindari dehidrasi, mengingat tubuh mahluk biologi sebagian besar terdiri dari air.; 2) Mendinginkan suhu tubuh satwa. Burung pun membenamkan (berendam) di kubangan air. Mamalia seperti babi suka membenamkan dirinya di kubangan. Membenamkan sementara waktu di air berfungsi menurunkan suhu tubuh satwa.; 3) Lumpur kubangan dapat berfungsi sebagai skin care terutama satwa tidak berbulu hingga berbulu jarang, seperti babi. Tujuannya mencegah kulit pecah - pecah.; 4) Mengusir serangga atau parasit. Saya belum pernah melihat rusa berendam di kubangan kecuali minum. Untuk mencapai air di kubangan, kaki rusa sering harus masuk kubangan. Bahkan sampai tercetak jejak kaki. Bagian telapak kaki akan tertutup lumpur kubangan. Hal ini diduga menghindarkan dari parasit dan penyakit kuku. Mirip fungsi seperti skin care; 5) Kamuflase. Tubuh babi hutan yang ditutupi lumpur kering membantu menyamarkan dari predator seperti Ular Phyton.; 6) Relaksasi. Berendam di kubangan sama dengan Rusa timorensis menyeberang Pulau Menjangan ke Brumbun dan sebaliknya yaitu membuat otot rileks.; 6) Ngasin. Untuk memenuhi kebutuhan mineral garam (alkali) pada tubuh, Rusa timorensis terlihat mendatangi kubangan air payau disekitar mangrove.

Kubangan adalah lahan basah mini

Kubangan di dalam kawasan TNBB merupakan lahan basah. Lahan basah kubangan tersebut sangat dipengaruhi oleh musim. Musim penghujan, kubangan penuh air. Musim kemarau, air kubangan berkurang bahkan mengering. Material air tawar (fresh water) merupakan ciri khas kubangan yang murni terestrial.

 Kubangan di area mangrove sangat di pengaruhi pasang surut. Kubangan di mangrove dapat terlihat ketika air surut. Cekungan air seringkali tercetak dibagian pinggir mangrove mendekati daratan. Artinya kubangan hanya terisi waktu pasang tertinggi. Kubangan ini sangat produktif (dipakai) pada saat kemarau. Ketika kubangan di daratan mengering. Materaialnya pun berupa air payau hingga air asin (salin water).

Gambar 4. Memperlihatkan peran dari kubangan untuk tetap mempertahankan permukaan tanah dengan dominasi rumput yang tetap menghijau. Keberadaan rumput ini merupakan bukti bahwa tanah di savana ini tetap basah oleh keberadaan air tawar.  Air tawa rada berkumpul di kubangan, ada juga yang tetap terikat erat dengan tanah yang dimanfaatkan oleh rumput untuk tetap hidup.

Gambar 4. Lahan basah mini di Grid J7 Tegalbunder – TNBB. Foto 13 Agustus 2026 – Dokumen TNBB



Patroli TNBB untuk perlindungan kawasan TNBB




Minggu, 13 September 2026

RUSA LESTARI DI PULAU MENJANGAN

 MENGAPA RUSA MAMPU BERTAHAN HIDUP DI PULAU MENJANGAN

Isai Yusidarta, Sugiarto dan Noorman - BTNBB

 

Keberadaan Rusa (Cervus timorensis) di Pulau Menjangan, menggambar homogenitas satwa di suatu pulau yang terletak di area khatulistiwa. Seratus delapan puluh derajat, berbeda dengan fakta bahwa di lintasan khatulistiwa terletak biodiversitas tinggi.


Rusa di Pulau Menjangan

Monitoring Rusa oleh petugas Balai Taman Nasional Bali Barat, pernah tercatat 286 ekor di Pulau Menjangan. Musim kemarau, Rusa yang minum di kolam minum buatan antara 80 – 120 ekor.


Gambar 1.  Rusa di Pulau Menjangan pada musim penghujan menikmati hijau savana. Diambil                                 Februari  2026 – Dokumen BTNBB.

Keberadaan Rusa di pulau seluas 175 hektar, merupakan mamalia herbivora satu-satunya yang merumput dan meramban. Jenis rumput yang di savana Pulau Menjangan adalah Teki (Cyperus brevifolius), Jampang (Themedia villosa), Lamuran (Cyperus sp), Jarum (Digitaria ciliaris), Duri (Bulbostylis puberula) dan Alang-Alang (Imperata cylindrica).

Daun-daun yang diramban berasal dari vegetasi Pilang, Walikukun, Kedondongan Hutan, Kalici dan Intaran. Acacia leucophloea  di Indonesia dikenal dengan nama pohon pilang atau kabesak menjadi penyelamat bagi Rusa disaat rumput mengering. Rusa memakan daun pilang baik langsung dari pohon yang masih rendah (semak) maupun dari ranting-ranting rendah yang bisa mereka jangkau. Daun ini mengandung protein kasar yang baik untuk menunjang nutrisi rusa. Spondias pinnata (yang dikenal sebagai kedondong hutan atau kecemcem) menyediakan sumber pakan dan cairan tambahan saat rumput alami di pulau berkurang. Schoutenia ovata (Walikukun atau Luhu) diramban oleh Rusa terutama pada tingkat semai atau pancang. Kalici (Caesalpinia bonduc) ramban alternatif Rusa pada tingkat semai (bibit/ anakan) dan daun-daun mudanya. Intaran (Azadirachta indica) dikenal juga sdengan nama Mimba diramban  terutama musim kemarau.

Vegetasi Pilang, Walikukun, Kedondongan Hutan, Kalici dan Intaran ketika sudah pada tingkatan pohon memberikan manfaat bagi Rusa untuk berteduh. Biji dari pohon-pohon di atas ketika jatuh di atas tanah dapat berkecambah dan tumbuh, sehingga menjadi  ramban ketika tingkat semai dan pancang bagi rusa.

Di pesisir Pulau Menjangan terdapat lamun yang seringkali dimakan oleh rusa. Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, dan Halophila ovalis, umum dijumpai sebagai tumbuhan sejati di wetland pesisir tersebut.

Kompetitor Rusa

Kompetisi memperebutkan sumber bahan makanan, selama ini belum terjadi. Rumput dan dedaunan yang dapat dijangkau hanya untuk memenuhi kebutuhan spesies Cervus timorensis.

Ruang hidup pun tidak memiliki saingan (kompetitor) sesama mamalia di daratan Pulau Menjangan. Predasi oleh karnivora tidak pernah diketemukan kasusnya. Petugas pernah menemukan beberapa ular Sanca Bodo di Pulau Menjangan dalam kegiatan monitoring satwa. Namun, belum pernah menyaksikan Rusa dimangsa Sanca. Informasi petugas, Sanca lebih memilih memangsa tikus.

Biawak merupakan predator yang dijumpai di Pulau Menjangan. Tidak pernah menjadi predator Rusa sekalipun anak rusa. Biawak menempati ruang mangrove dan pesisir pantai. Tidak pernah dijumpai di area savana terutama musim kemarau.

Warna vegetasi hijau (ketika musim kemarau) diperankan oleh daun dari mangrove yang tumbuh di beberapa area pesisir pantai Pulau Menjangan.

Ruang hidup Rusa di Pulau Menjangan dikurangi oleh bangunan tempat ibadah, perkantoran dan sarana wisata. Koridor laut menuju juga terganggu oleh lalu lalang kapal wisata, terutama setelah matahari bersinar hingga tenggelam.

Peran Rusa Timor

Cervus timorensis di Pulau Menjangan berperan sebagai pengendali tanaman permukaan dan vegetasi tumbuh di daratan savana.

Mereka meramban dedaunan sejak dari tingkat semai vegetasi yang ada. Aktivis ini, membantu mempertahankan luasan padang savana yang ada. Vegetasi yang ada dominan tingkat pohon. Keberadaan vegetasi tingkat pancang dan tiang saya sulit ditemukan, kecuali untuk kelompok mangrove.

Kotoran (feces) Rusa yang menyebar di atas permukaan tanah Pulau Menjangan dapat diduga menjadi pupuk dan membantu rumput dan vegetasi pohon untuk hidup. Rumput dan vegetasi pohon pun menjadi sumber makanan bagi Rusa.

Rantai makanan terbentuk secara sederhana dengan melibatkan Rusa, rumput-vegetasi pohon, dan dekomposer. Faktor rantai makan ini yang menjadikan rusa masih bertahan di Pulau Menjangan.

Peran Manusia

Penetapan Taman Nasional Bali Barat sebagai kawasan pelestarian alam, maka Pulau Menjangan dan perairan di sekitarnya menjadi Resor Wilayah Pulau Menjangan dengan penempatan bangunan kantor resor dan keberadaan personil (pegawai/asn). Penjagaan 24 jam di Pulau Menjangan menghilangkan gangguan perburuan rusa dan mencegah kebakaran hutan dan lahan. Ketersediaan air minum bagi rusa pada musim kemarau pun terpenuhi di tempat minum satwa, walaupun terbatas.

Penetapan zona pemanfaatan di Pulau Menjangan memberikan konsekuensi menjadi destinasi wisata. Pada musim kemarau hanya khusus musim kemarau, para guide juga membantu memberikan air tawar untuk minum rusa di bak minum satwa. Rusa menjadi bagian obyek daya tarik wisata alam di Pulau Menjangan. Wisatawan menginginkan perjumpaan rusa ketika mulai menginjakkan kaki di pesisir pantai. Pemberian air tawar memberikan rasa nyaman rusa dan salah satu faktor mencegah rusa melakukan migrasi ke daerah Brumbun.


Gambar 2.       Rusa di Pulau Menjangan pada musim kemarau minum air tawar di bak minum satwa.                              Diambil September 2026 – Dokumen BTNBB.



 Gambar 3 .        Pemberian minum untuk Rusa di Pulau Menjangan pada musim kemarau oleh                                           pemandu wisata. Foto diambil September 2026 – Dokumen BTNBB




























































Kamis, 25 Januari 2024

PERCAYAKAN WISATA SLOWCATION DI TAMAN NASIONAL KARIMUNJAWA

 

Struktur karang mati jangan diambil, ia bisa menjadi substrat bagi individu polip karang lainnya 

Pernah bertugas di Taman Nasional Karimunjawa (TNkj) 2014 – 2019 dan kembali lagi mulai Mei 2023 hingga saat ini, menyaksikan di tapak mulai terjadi perubahan cara berwisata oleh wisatawan. Perubahan ini terlihat sangat jelas ketika mengamati wisatawan asing. Wisatawan Nusantara pun juga telah melakukannya, walaupun tidak dominan. Ciri khas yang tampak pada perubahan tersebut adalah lama tinggal yang lebih panjang (sekitar 7 hari), tidak menggunakan guide, tidak bergerombol dalam jumlah massal (biasanya kurang dari 5 orang), sering memanfaatkan teknologi (membuka gadget), tidak terburu-buru, sering stay /mampir satu lokasi dalam waktu lama, berjalan kaki, bersepeda atau menggunakan kendaraan paling tinggi adalah motor bukan mobil, sering bertanya ke penduduk lokal dan melakukan transaksi sendiri akomodasi dan berbagai keperluan sehari – hari.

Wisata Slowcation

Mengapa tipe wisatawan tersebut mempunyai ciri-ciri seperti di atas? Cara berwisata di atas muncul dari ide liburan santai dan penuh kesadaran. Mereka merencanakan untuk tidak membuat tubuh dan pikiran lebih lelah karena tergesa-gesa dikejar oleh waktu untuk menyelesaikan schedule time wisatanya. Jadi mereka merancang perjalanannya jauh-jauh hari dan matang banget.

Mereka menitikberatkan wisata yang tenang, reflektif dan menikmati setiap titik moment perjalanan tanpa buru-buru. Mereka ingin mendapatkan nilai lebih tanpa membuat badan capek. Mereka ingin mendalami suatu nilai yang berguna pada lokasi yang dikunjungi, daripada mengikuti aktivitas sejumlah aktivitas yang tercantum dalam itinerary yang padat. Bahkan mereka dapat menambah lama tinggal untuk menyelesaikan nilai tersebut.

Konsep mereka tentunya bertentangan dengan gaya wisata yang buru-buru, mengikuti jadwal itinerary dan kontrak wisata yang dibuat sebelum perjalanan. Kosep ini tentunya tidak sejalan dengan paket wisata konvensional yang pakem menjalankan itinerary yang disetujui. Konsep tipe ini disebut dengan wisata slowcation yang berasal dari kata slow (artinya lambat) dan vacation (liburan) atau dengan kata lain “wisata santai” serta akan menjadi tren pada tahun 2024.

Mengapa TNKj?

Melalui surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 74/Kpts-II/2001 Tanggal 15 Maret 2001 telah menetapkan Taman Nasional Karimunjawa dengan luas 111.625 Ha (daratan P. Karimunjawa : 1.285,50 Ha, daratan P. Kemujan : 222,20 Ha dan perairan laut : 110.117,30 Ha). Luasan tersebut terdiri dari 5 ekosistem yaitu hutan hujan dataran rendah, hutan pantai, hutan mangrove, lamun dan terumbu karang. Kelima ekosistem ini menyediakan pemandangan alam (scenery beauty) dan  keanekaragaman hayati (kehati). Pemandangan alam dan kehati yang banyak memberikan keanekaragaman pilihan tujuan berwisata, sehingga wisatawan tidak bosan untuk mengeksplorasi.

Tata ruang Kabupaten Jepara yang saat ini berlaku, menyatakan Karimunjawa sebagai kawasan lindung. Mmenegaskan kawasan TNKj sebagai kawasan konservasi dalam bentuk kawasan pelestarian alam yang harus dijaga melalui prinsip 3 pilar konservasi yaitu pemanfaatan yang mendukung usaha-usaha perlindungan dan pengawetan. Penetapan TNKj sebagai kawasan strategis pariwisata nasional sangat bersinergi dengan prinsip konservasi. Maka pariwisata ramah lingkungan adalah salah satu kunci pelaksanaannya.

Kehati Darat

TNKj adalah surga burung migran dari Asia maupun Australia tercatat 22 spesies. Bird watching, pengamatan burung migran memberikan sensasi yang berbeda tiap periode migrasi burung. Mendapatkan foto burung yang mempunyai tagging memberikan kado ilmiah, bukti burung bermigrasi. Macaca fascicularis Karimoendjawae merupakan monyet ekor panjang endemik yang dapat ditemui dengan mudah. Memasang camera trap pada kawasan hutan, selain memberikan kesehatan jasmani juga memberikan foto kenangan binatang nokturnal yang menjadi amanat penetapan TNKj yaitu Rusa Timor, Musang, Landak, dan Tikus Pohon Ekor Polos. Juga bisa mendapatkan anjing liar yang menjadi alien spesies. Jika datang pada saat bunga bermekaran maka bisa menemukan 23 jenis kupu-kupu, termasuk yang endemik yaitu  Euploea crameri Karimondjawaensis, Euploea Sylvester Karimondjawaensis dan Idea leuconoee Karimondjawae. Pohon utama yang wajib diamati dan dibawa bagiannya sebagai souvenir hasil kerajinan masayarakat yaitu Santigi, Kalimasada dan Dewandaru adalah oleh-oleh ikonik TNKj.

Kehati Laut

Penyu Sisik dan Penyu Hijau merupakan reptil purba yang dapat dijumpai jika beruntung pada saat penyelaman. Kalau tidak bisa datang ke PSA (Pelestarian Semi Alami) Penyu Legon Janten yaitu lokasi penetasan penyu. Jika ada stock tukik siap untuk dilepaskan, wisatawan dapat melepasliarkan tukik dengan waktu menjelang maghrib atau sebelum matahari terbit. Ketika menyelam di seluruh perairan TNKj mempunyai peluang menjumpai 64 genera karang dan 353 spesies ikan, 5 jenis kima dan 15 spesies teripang. Penyelaman berkali-kali diperlukan untuk mengekplorasi falsafah kehidupan bawah laut, memerlukan waktu tinggal yang panjang.

Wisata Pulau

Terdiri dari 18 pulau yang telah berkembang menjadi pulau resort wisata private maupun umum, dan belum dikembangkan. Sebanyak 4 pulau berpenghuni yaitu Pulau Karimunjawa, Kemujan, Parang dan Nyamuk yang garis pantainya pun sudah dan dapat menjadi destinasi wisata. Mulai dari pantai Boby, Ujung Gelam, Batu Topeng, Barakuda hingga Batu Karang Pengantin. Banyaknya pulau yang dapat dikunjungi, memberikan sensasi tersendiri ciri khas setiap pulau dan pantai yang berbeda, menimbulkan hasrat memilih dan akhirnya ingin mengunjungi semuanya. Bagi konten kreator wisata pantai di TNKj memberikan background foto dan videonya, mampu menterjemahkan keinginan yang disampaikan dan selaras dengan caption dalam media sosialnya.

Wisata Budaya

Komposisi penduduk dan perkampungan yang dihuni oleh 6 suku yaitu jawa, madura, bugis, bajo, buton dan mandar memberikan nuansa tersendiri. Suku-suku tersebut memberikan warna pada seni dan budaya yang majemuk dan tidak membosankan. Event pertunjukan seni dan budaya sering kali dipertunjukkan pada waktu-waktu tertentu. Mengunjungi tiap perkampungan berlatar suku, memberikan rasa keingintahuan tinggi mempelajari budaya dan kehidupan mereka, sehingga acapkali melupakan waktu untuk kembali ke tempat asal.

Bukan Pulau Kecil yang Krisis

TNKj sebagai tujuan wisata belum dan tidak lagi mengalami krisis yang biasa dialami wisatawan di pesisir pulau-pulau kecil yang jauh dari pulau daratan jawa yaitu air tawar, pangan, energi dan akses. Keempat krisis tersebut hingga saat ini sudah bisa diatasi walaupun belum 100%. Tidak ada lagi penggiliran nyala listrik, air tawar tersedia di hotel dan homestay, banyak warung makan dan restoran buka setiap hari dan jaringan internet pendukung komunikasi lancer. Transportasi laut dan udara siap melayani sesuai dengan kemampuan finansial wisatwan. Hal tersebut meningkatkan kenyamanan berwisata.

Suasana Kebatinan Alam

Kebatinan mendalam atas suasana dan kondisi alam TNKj memberikan nilai permenungan bagi visitor untuk meluapkan emosi kejiwaannya. Hal ini cocok untuk aktivitas wisata healing. Lambaian hijaunya pepohonan di bukit, nyanyian deburan ombak laut, terapi air laut yang biru, asupan protein ikan laut yang segar bagi tubuh dan jauhnya hiruk pikuk kota dan suasana kerja  dapat memberikan bentuk penyembuhan diri untuk mendapatkan ketenangan jiwa, perasaan, batin dan pikiran.

Kondisi - kondisi di atas yang dicari para wisatawan dan pasti berkeinginan tinggal dalam waktu yang lama. Salah satu pemilik perusahaan yang berada di kota besar di Jawa, mengendalikan pengelolaan usahanya sehari-hari dari tempat “tinggalnya” di TNKj. Menurutnya, suasana di TNKj memberikan dorongan sehat untuk mendapatkan ide mengelola perusahaan dan meredakan gejolak hati, pikiran dan batin.



Belajar transplantasi karang merupakan salah satu jalan menuju wisata slowcation


Belajar pengelolaan rumput laut dan membaca peluang bisnis pengolahannya



       Jalan sehat - santai - senyum di trakking mangrove kemujan, meningkatkan imun wisatawan



Pengamatan aktivitas kehidupan nelayan dalam mengelola hasil tangkapan dari perairan Taman Nasional Karimunjawa



Senin, 22 Januari 2024

WISATA SET JETTING TAMAN NASIONAL KARIMUNJAWA

 

Tanggal 22 Desember 2024, Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Angela Tanoesoedibjo memproyeksikan empat tren pariwisata di tahun 2024, salah satunya adalah set jetting. Taman Nasional Karimunjawa (TNKj) menyediakan jasa lingkungan berupa “set jetting”. Set jetting sebenarnya adalah lokasi – lokasi atau tempat mengambil video atau foto atau istilah padatnya adalah tempat-tempat syuting film pernah ambil oleh professional maupun amatir.

Lokasi yang bagaimana? 1. Pemandangan landscape yang cantik, biasanya ada sun-rise, sun-set, pasir putih, bebatuan besar, deburan ombak, laut biru, langit cerah – teduh, perbukitan hijau, dan sebagainya. 2. Unik seperti air terjun, aliran sungai yang jernih dan penuh ikan 3. Ikonik, satwa utama (animal flagship – contoh : gajah, komodo, penyu, hiu paus) dan pohon-pohon besar. 4. Mempunyai nilai sejarah dan budaya seperti petilasan penyebaran agama dan rumah adat. 5. Kreasi manusia yang memenuhi syarat “rasa terbaik” untuk melakukan pengambilan gambar atau video (swafoto).

Lokasi Set Jetting di TNKj

Pertama, deretan pantai desa Karimunjawa dan Kemujan mulai berjejer mulai Pantai Boby, Ujung Gelam, Batu Topeng, Anora, Hadirin hingga Batulawang. Kedua, Pantai pesisir pulau kecil seperti Cemara, Cilik, Menyawakan Menjangan Besar, Menjangan Kecil, Geleyang, Burung, Nyamuk sampai Parang. Ketiga, untaian gosong pasir yang jumlahnya mencapai puluhan buah. Keempat, gugusan terumbu karang ditiap pulau dan gosong pasir. Kelima, babagan mangrove yang tersebar di keempat desa dan trakking mangrove di Desa Kemujan. Keenam, ini merupakan area wisata religi yang terdapat pada area hutan hujan dataran rendah. Ketujuh, wisata terbatas yang menyediakan scannery beauty (pemandangan landscape) ke arah laut lepas di zona rimba hutan hujan dataran rendah di Pulau Karimunjawa. Kedelapan, penetasan penyu semi alami di Legon Janten yang menyediakan animal flagship yaitu penyu.

Kedelapan bagian dari set jetting TNKj, yang paling banyak beredar pada video dan video konten Kreator adalah bagian pertama dan kedua serta kelima terutama traking mangrove. Mengapa? Berbiaya murah, tidak melibatkan banyak peralatan, dan tidak memerlukan skill tambahan (seperti snorkling dan diving) dan selalu ada tersedia.

Set jetting gosong pasir memerlukan pengetahuan terkait pasang surut air laut. Pergi ke gosong pasir tentunya pada saat air laut surut dan pengetahuan guide serta aplikasi pasang surut air laut sangat membantu. Terkait penetasan penyu semi alami, harus disesuaikan dengan keberadaan tukik (anak penyu) yang menetas. Jelajah zona rimba hutan hujan dataran rendah memerlukan ijin khusu karena terkait dengan pendidikan dan penelitian. Sedangkan wisata religi harus disesuaikan dengan kalender keagamaan. Gugusan terumbu karang dan perairan dalam memerlukan skil diving dan snorkling serta underwater photography.

Nilai Penting Set Jetting

Dunia media sosial (medsos), secara esensi memerlukan lokasi-lokasi yang mempunyai latar belakang premier. Lokasi wajib memberikan nilai tambah bagi story telling yang ingin disampaikan pada caption yang paling minimal. Tujuannya mencari dan meningkatkan followers. Memiliki followers yang banyak memberikan peluang untuk dipakai dalam mendukung menjual produk-produk yang memerlukan pertolongan konten kreator.

Biro-biro wisatapun, sudah pasti wajib menggunakan set jetting terbaik dalam memasarkan paket-paket wisata. Tujuannya memberikan keyakinan dan nilai kontrak kepada wisatawan bahwa penggambaran seperti itu yang dapat dinikmati. Media sosial biro wisata pun memposting set jetting yang pernah dikunjungi oleh kliennya, untuk menarik klien baru atau mendatangkan kembali klien lamanya dengan harapan sambil membawa new customer.

Bahkan guide professional, sering kali merahasiakan lokasi set jetting terhadap biro wisata maupun pemandu lainnya. Lokasi itu akan menjadi nilai tawar untuk melakukan pemanduan, sehingga klien pun akan bisa berulangkali memakali jasa kepemanduannya.

Calon wisatawan baru secara harafiah mempertimbangkan lokasi kunjungannya dengan melihat foto dan video pada postingan media sosial maupun penawaran paket wisatanya. Lokasi yang paling banyak dikunjungi dan digandrungi tentulah wisata set setting, karena memberikan kepastian akan kenikmatan yang tersedia dan tidak hoax.

Akhirnya, ini yang utama dari yang terutama menunjukkan adanya lokasi wisata set jetting pasti mendorong perputaran nilai mata uang untuk belanja wisata. Lokasi wisata set jetting mampu membantu menggerakkan aset potensial wisata menjadi riil wisata.

Pesan Lokasi Set Jetting

Wajib membawa kembali sampah yang diproduksinya ke daerah tempat tinggalnya dan tidak ditinggalkan di lokasi set jetting merupakan sumbangsih tidak ternilai. Tidak membawa, memindahkan atau merubah - memugar aset set jetting sesuai keinginan wisatawan pada saat pengambilan foto atau gambar adalah tindakan yang terhormat. Tidak memberikan makan pada satwa, ikan dan menangkapnya di lokasi set jetting adalah jiwa mulia menghargai hidupan liar. Membayar pendapatan negara bukan pajak, retribusi dan lain-lain adalah pancaran sejati jiwa nasionalisme Indonesia.

                   Dermaga PSA (Pelestarian Semi Alami) Penyu Sisik dan Hijau di Legon Janten 


    Pantai Bobi di antara Legon Waru dan Legon Lele (foto by Nurburhanuddin)

   Area Gosong Karang Kapal (foto by Nur Burhanuddin)