Sabtu, 26 September 2026

WISATA PENYU DI TAMAN NASIONAL BALI BARAT (BAGIAN 1) - Turtle Tourism in West Bali National Park (Part 1)

 



PENYU MASIH ADA DI TAMAN NASIONAL BALI BARAT (Bagian 1)

Isai Yusidarta, A. Triyono, A. Kusdyana, W. Arfianto, Sugiarto, dan Jun. Wy

Mandat Penetapan Taman Nasional Bali Barat


Pemberitaan media sosial, mulut ke mulut, dari guide, dan wisatawan bertautan dengan keberadaan penyu di perairan Taman Nasional Bali Barat (TNBB), menjadi obyek menarik follower. Tidak ketinggalan menjadi obyek marketing bagi agen (biro) wisata. Janji snorkling dan diving bertemu penyu menjadi pengikat naiknya dollar yang diterima.


Gambar 1.    Wisatawan snorkler bertemu penyu di perairan  dangkal (terumbu karang) Pulau Menjangan dan diposting oleh guidenya di satus WA


Mengapa penyu?

Bagi penyelam permukaan (snorkler) dan penyelam (driver), menikmati kolom perairan asin bukan hanya terumbu karang dan ikan hias. Mereka akan berteriak-teriak ketika bertemu penyu, lumba-lumba, dugong, paus, pari manta, gerombolan ikan (schooling fish) bahkan hiu. Tapi terikan itu nanti ketika sudah di kapal atau di darat. Apalagi kalau punya bukti berupa foto atau video hasil karya sendiri. Pasang di medsos pribadi merupakan wooooow. Reptil dan mamalia laut punya nilai gaya sendiri.

Penyu merupakan reptil yang memanfaatkan perairan sebagai rumah hidupnya. Mendarat, ketika mau bertelur. Di darat ketika ditelurkan induknya hingga menetas. Selesai menetas langsung pergi ke laut.

Status hukum penyu di Indonesia adalah satwa dilindungi sesuai Undang- Undang  Nomor 32 Tahun 2024 (perubahan atas UU Nomor 5 Tahun 1990) dan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.

Menurut Daftar Merah IUCN (International Union for Conservation of Nature), status penyu bervariasi yaitu : 1) Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata) status kritis (Critically Endangered).; 2) Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea) dan Penyu Tempayan (Caretta caretta) berstatus rentan hingga punah terganggu wilayah populasinya.; 3) Penyu hijau status risiko rendah (Least Concern).; 4) Penyu Belimbing status kritis (Critically Endangered).

Ada tuturan umum, 1000 tukik yang mentas hanya 1 yang selamat sampai dewasa untuk bertelur kembali ke lokasi tempat mereka ditelurkan dan ditetaskan di tanah yang ditimbun induknya.

Hal - hal di atas merupakan nilai kepentingan tertinggi ketika snorkler dan diver bertemu dengan penyu ketika berada di kolom perairan laut.


Gambar 2.    Penyu bertelur dan jejaknya di pesisir pantai : A) Teluk Terima dan B) Cekik. Foto Februari dan Juli 2026 – Dokumen TNBB


Mengapa penyu punya nilai tinggi bagi diver dan snorkler?

Setiap diver dan snorkler pasti punya media sosial dan relasi khusus atau circle. Mulai dari upload status WA, Telegram, Face Book (FB), Instragram (IG), You Tube, Twitter, Thread, Tiktok dan blog. Mereka akan memamerkan foto atau video penyu di kolom perairan laut yang mereka jumpai.

Penyu mempunyai nilai gaya sendiri bagi diver dan snorkler.

1.          Tidak mudah berjumpa penyu disetiap titik dan  kedalaman perairan laut. Walaupun sekali waktu penyu ke permukaan air laut untuk mengambil udara memenuhi paru-parunya, tetap susah di jumpai. Mengisi paru-paru dengan udara atmosfer di atas permukaan laut hanya sebentar yaitu 4 – 5 menit untuk menyelam bergerak 20 – 45 menit. Penyu adalah mahluk yang dinamis bergerak apalagi jika merasa ada gangguan. Artinya bertemu penyu memerlukan keberuntungan (lucky).

2.          Pada kondisi perairan laut saat ini, bertemu penyu paling 1 ekor di satu titik lokasi dan kedalaman, apalagi bertemu penyu sedang berpasangan (kawin) itu adalah doorprize, hadiah dari ketenangan, ketahanan dan kekuatan diver menjelajahi perairan laut. Sesuai falsafah ekowisata penyu adalah umur panjang, kebijaksanaan – kesabaran, ketahanan – kekuatan dan keseimbangan alam di laut.

3.          Bisa mendapatkan foto/video dirinya (penyelam itu sendiri) dengan penyu pada saat sama-sama menyelam dan bergerak adalah boon atau gift of God. Berarti si penyu merasa nyaman dengan penyelam dan tidak terganggu dengan penyelam. Atau diver adalah seorang profesional, dan foto atau video tersebut adalah bukti keprofesionalan dalam prinsip animal welfare.

Gambar 3.    Diver bertemu penyu di perairan Banyuwedang. Sekali lagi “Don’t touch”. Foto September 2026 – Dokumen TNBB


Resume Monitoring Penyu di TNBB

Taman Nasional Bali Barat melaksanakan kegiatan monitoring penyu dari tanggal 16 – 21 September 2026. Penyu merupakan salah satu mandat penetapan TNBB yang didasarkan pada 3 pilar yaitu perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan. Penyu menjadi satwa obyek daya tarik wisata kawasan perairan TNBB. Di perairan Pulau Menjangan menjadi satwa laut yang menarik kedatangan diver dan snorkler. Para diver sering bertemu dengan penyu ketika menyelam. Snorkler pun sering mendapatkan foto penyu ketika berenang diperiran dangkal terumbu karang.

Monitoring dilaksanakan di pesisir pantai yang menjadi lokasi pendaratan penyu betina untuk bertelur dan tukik menetas dengan teknik nglalar penyu menyusuri pantai pada malam hari untuk mencari dan menemukan penyu yang sedang mendarat atau sarang tempatnya bertelur. Menyelam pada titik-titik informasi tempat diver guide bertemu penyu ketika memandu wisatawan. Wawancarai nelayan dan masyarakat yang beraktivitas di pesisir pantai.

Terangkum hasil identifikasi bahwa perairan TNBB merupakan habitat 3 jenis penyu, yaitu Penyu Hijau, Penyu Sisik dan Penyu Lekang. Pada pesisir pantai diketemukan sarang penyu yang bertelur. Sarang ada yang dirusak dan telor kemungkinan telah dimangsa predator (diketemukan jejak kaki dan ekor  biawak).


Gambar  4.      Wisatawan dan guide diving di Pulau Menjangan di kedalam 25 meter. Pada saat foto ini saya ambil, mereka bertemu penyu yang juga saya lihat dan saya video dan foto penyu tersebut. Sebagian video, saya tampilkan di blog ini. Foto September 2026 – Dokumen TNBB.




Bagian ke-2 PENYU MASIH ADA DI TAMAN NASIONAL BALI BARAT akan bercerita identifikasi penyu hasil monitoring.

Bagian ke-3 PENYU MASIH ADA DI TAMAN NASIONAL BALI BARAT akan bercerita mengapa penyu mudah dijumpai di Pulau Menjangan.

 

Selasa, 22 September 2026

WILD LIFE WATERING HOLE - WEST BALI NATIONAL PARK (Part 2)

KUBANGAN SATWA LIAR

(Efek Penurunan Volume Air di Daerah Agraris Tepi Hutan)

Isai Yusidarta, Ketut Widiyantara, Hery Kusumanegara, Putu Mertameyasa, Maman Supratman dan Kukuh Damai

 

Volume air yang melimpah di wilayah agraris menjadi prasyarat mutlak agar lahan bercocok tanam menumbuhkan hasil bumi yang bisa dipanen melimpah. Tetapi musim kemarau bisa memaksa pengelola lahan pertanian di pinggir kawasan hutan untuk mencari alternatif mata pencaharian. Hal ini menjadikan potensi ancaman keberadaan flora dan fauna di kawasan hutan konservasi Taman Nasional Bali Barat.

Melanjutkan penulisan sebelumnya (bagian 1) bahwa musim kering, menyebabkan kubangan air di dalam hutan TNBB mengering (terutama di atas ketinggian 50 meter diatas permukaan laut). Kubangan yang volume airnya masih ada tetapi berkurang terdapat di dataran rendah. Satwa liar menjadi terkumpul di kubangan air yang tersisa. Padahal dataran rendah tersebut  mudah diakses oleh warga masyarakat masuk ke dalam kawasan TNBB. Kondisi ini mengancam vegetasi dan satwa liar di dalam kawasan TNBB.

Ancaman untuk vegetasi hutan

Volume air kubangan yang berkurang menyebabkan luasan area yang basah menyusut. Rumput disekitar kubangan mulai mengering dan daun vegetasi pohon berubah warna menjadi kuning dan akhirnya mengering. Bahkan pohon dan perdu dapat mengering hingga mati kering.

Mengapa terjadi? Akar pohon tidak mendapatkan sumber air sebagai material fotosintesis yang mendukung fungsi pohon untuk memasak makanan sendiri. Musim kemarau tanah menjadi kering dan suhu tanah meningkat. Hal ini dapat diduga membuat akar pohon kering dan mati.

Gugur daun, rumput dan perdu mengering, serta batang pohon yang mati kering merupakan bahan bakar bagi api. Ketersediaan bahan-bahan tersebut dapat berpotensi menyebabkan menyebabkan kebakaran hutan. Selain itu kawasan hutan TNBB lebih terbuka di musim kemarau, karean tutupan daun vegetasi hutan tidak lagi rapat akibat gugurnya daun. Sehingga posisi satwa liarpun mudah terlihat dari jarak jauh.

Ancaman untuk satwa

Volume air yang tersisa pada musim kemarau, menciptakan situasi dan kondisi yang beresiko terhadap satwa. Perburuan oleh pemburu gelap (illegal hunter) adalah ancaman terdepan. Mengapa? Semua satwa pada musim kemarau, secara naluri (insting) pasti bergerak menuju kubangan yang tersisa sebagai sumber air. Kubangan tersisa mendadak menjadi pusat keanekaragaman hayati satwa liar.

Pemburu pasti memusatkan perburuannya ke : 1) Jalur  masuk kubangan tersisa.; 2) Pusat kubangan tersisa.; 3) Jalur keluar dari kubangan tersisa. Ketiga jalur perburuan tersebut akan mengarahkan satwa ke arah jerat yang telah dipasang.

Jerat satwa mamalia besar terbuat dari material sling. Material ini bekas kabel perseneling atau rem sepeda motor. Mudah didapatkan dari bengkel sepeda motor. Untuk unggas atau ayam hutan materialnya adalah nylon yang biasanya digunakan untuk memancing ikan. Sedangkan untuk burung biasanya menggunakan pulut, bisa juga jaring kabut untuk mendapatkan burung dalam jumlah banyak.

Perangkap jerat untuk mamalia besar menggunakan teknik lontar. Sling digabungkan dengan batang pohon hidup yang dipilih kuat tapi lentur diperkirakan sesuai dengan ukuran dan berat satwa. Ketika satwa terkena perangkap pada bagian kaki maka pohon akan melenting dan sling akan mengikat kuat pada bagian kaki satwa. Tetapi sebelumnya jalur satwa dibuat mengarah ke letak perangkap jerat. Hal yang sama dilakukan untuk jerat ayam hutan berbahan nylon, hanya memerlukan pohon hidup yang kecil tapi lentur dan kuat bisa menahan berat ayamnya.

Gambar 1. Pemasangan perangkap jerat di jalur satwa lewat yang telah dikondisikan. Foto Juli 2026 – Dokumen TNBB.

 

Mengapa Penurunan Volume Air Menjadi Ancaman?

Penurunan volume air menjadi ancaman kawasan hutan (tempat pohon dan satwa liar) terkait dengan mata pencaharian yang berkurang di musim kemarau, yaitu kegiatan bertani dan bercocok tanam (agraris). Masyarakat Gilimanuk, Sumberklampok, Teluk Terima, Melaya, Palasari, Ekasari dan Blimbingsari sebagian besar adalah masyarakat agraris. Luas kepemilikan tanah agraris pun selain milik sendiri ditambah dengan adanya program perhutanan sosial (pemberian akses atas kemitraan pengelolaan hutan yang berada di dalam kawasan hutan negara dalam kurun waktu tertentu tanpa menjadi pemilik sah atas tanah tersebut).

Pertanian di Kecamatan Melaya adalah jenis irigasi semi teknis. Sistem irigasi pertanian yang belum mampu mengukur dan mengatur pemanfaatan air dengan baik, walapaun sudah mempunyai bangunan sadap permanen maupun semi permanen. Kondisi ini dan musim kemarau dapat diduga kegiatan agraris berkurang bahkan berhenti. Pada musim kemarau dengan ketersediaan air terbatas maka kegiatan pengolahan tanah terbatas oleh masyarakat yang mempunyai sumur untuk penyiraman.

Gambar 2.    Pemburu lebah madu klanceng untuk mendapatkan madu dengan menebang pohon. Foto Juli (kanan) dan Agustus (kiri) 2026 – Dokumen TNBB.

Kegiatan agraris boleh berhenti, tapi periuk nasi di dapur harus tersedia. Mau tidak mau warga yang mengandalkan agraris akan mencari alternatif pengganti sementara. Mencari kayu bakar di dalam hutan dengan memanfaatkan kayu tumbang yang sudah kering. Berburu satwa dengan memasang jerat. Mencari hijauan – daun pakan ternak seringkali memangkas cabang pohon. Berburu lebah madu di kawasan TNBB, terutama klanceng sering kali menebang pohon hidup. Mereka menjadi lebih tahu kebiasaan satwa liar pada saat musim kemarau yaitu mendatangi kubangan air yang tersisa. Warga jadi tahu kubangan air di lokasi yang didatangi satwa untuk minum dan berkubang. Semakin banyak orang masuk ke kawasan hutan konservasi TNBB, menimbulkan resiko ancaman pada flora dan faunanya.

Langkah – Langkah Petugas TNBB

Taman Nasional Bali Barat telah melaksanakan mitigasi – antisipasi - adaptasi terkait berkurangnya volume air di kubangan alami :

1.       Pengisian kubangan alami yang mendekati prinsip kaidah konservasi. Contoh kubangan alami di Pura Prapat Agung yang airnya berkurang disi dengan mengambil air dari sumur yang dibuat.

2.       Penyediaan air minum melalui kubangan buatan (tempat air minum) di area kawasan TNBB yang mudah pengisian air dan pengawasan oleh petugas TNBB.

3.       Pemantauan terhadap pengisian air di kubangan buatan  (tempat air minum) di wilayah perijinan PBPSWA (Perijinan Berusaha Pengusahaan Sarana Wisata Alam) di Nusa Bay dan Plataran.

4.       Melaksanakan penebalan patroli rutin di titik – titik akses masuk kawasan  dan membersihkan jerat satwa yang dipasang oleh pemburu ilegal di titik-titik lokasi hasil smart patrol.

5.       Manggala Agni TNBB juga melaksanakan penebalan patroli pencegahan kebakaran hutan. Personil dengan peralatan pemadaman kebakaran siap siaga 24 jam untuk melakukan pemadaman.

6.       Pemasangan rambu peringatan bahaya kebakaran hutan. Pembuatan sekat bakar untuk melokalisir lokasi dan mencegah meluasnya kebakaran hutan.

 


 Video 1. Pembersihan jerat oleh petugas TNBB pada saat patroli



 


WILD LIFE WATERING HOLE - WEST BALI NATIONAL PARK (Part 1) - English Translation

 WILDLIFE WALLOWS

Hery Kusumanegara, Ketut Widiantara, Putu Mertameyasa, Kukuh Damai and Maman

Translator : Amien Rais (Former IPB Student)


The dry season is synonymous with hot air. The cool air of the rainy season has disappeared. The color of leaves begins to turn yellow, dominating the forest vegetation. Fallen leaves on the ground are brown, then dry covering the soil. For tree vegetation in the conservation forest of West Bali National Park (TNBB) this is a normal seasonal cycle.

The blast of cool air turning into hot air makes the leaf canopy cover in the forest more open. Sunlight is able to penetrate directly to the ground. The soil becomes dry and even cracked on soils with clay texture. On sandy soils, it makes sand grains fly around.

Trees remain standing upright. Leaves are still visible, even on the ground surface. Hotter air currents can be felt. Day and night still alternate in the Forest Area.

It seems something is missing?

What is missing?  

The answer is active water wallows (freshwater).  

Is that true? 

The dry season causes water in the West Bali National Park (TNBB) Forest area to begin to decrease and even disappear at certain points. Water wallows dry up. The bottom soil of the wallows appears cracked due to drying. There is no longer any surface water flow filling the wallows. There is no more rainwater that can be collected by the wallows. It means there is no more addition of water volume in the wallows before the rainy season arrives. No wildlife tracks, which are usually seen around the wallows when water is present wallows are visible.


Figure 1.         A small wallow at an elevation above 100 meters in Grid M6 that is no longer filled with water. Photo: June 11, 2028 – TNBB Document.

Where are the wallows located?

In the West Bali National Park (TNBB) nature conservation area there are many wallows. Have all wallows in the TNBB area dried up in the dry season? The totally dry wallows are small wallows. Their size is less than 10 square meters and they are located at altitude, namely above 50 meters. Wallows of this size hold water from surface water flows that are not main flows. The depth when fully filled with water is usually only around 20 cm.


Figure 2. Photos at the large wallows show water still retained in the main basin as well as small surrounding basins. The grass also remains green. Photo: August 11, 2026 – BTNBB Document.


Smart Patrol August 10 – 14, 2026 still found freshwater wallows in the lowlands around Cekik with a size of more than 100 square meters. In the rainy season, this wallow can be 500 square meters in size with a maximum depth of 100 cm. Currently, the condition of the wallow basin is not fully filled with freshwater. Or it shows that the water volume has decreased. The wallow soils around the water are still moist and wet. Animal tracks such as wild boar (Sus scrofa), deer (Rusa timorensis), barking deer (Muntiacus muntjak) and even jungle fowl (Gallus sp), are clearly imprinted. Large trees with their dense leaf canopies provide shade. The wallow is protected from direct exposure to sunlight. This reduces evaporation. The cover of banyan trees (Ficus sp), buta-buta (Excoecaria agallocha) and gebang (Corypha utan) dominates this area. Grass (Gramineae) is still green around the wallow.

 The wallow in Tegalbunder (Figure 1) is a wallow with an elevation of several cm above sea level at the highest tide that is still active in the dry season (August 2026). The savanna field is still green. The basin area of Gilimanuk Bay (Grid J7) bordering the mangrove, the grass is also green and growing lush (Figure 2). In this area on the mangrove mud section, tracks of monkeys (Macaca fascicularis), wild boar to deer were found. Even in the mud basins in the mangrove area also become wallows for boars and salt-licking places for deer.

Figure 3. A water wallow in the Tegalbunder savanna. Photo taken on August 13, 2026 – TNBB Document.


Who are the users of the wallows?

The users of wallows in the TNBB area are wildlife. Ranging from insects to large mammals. Insects that are often encountered are butterflies (order Lepidoptera), dragonflies (order Odonata), and bees (Apis sp). Monitor lizards (Varanus sp), lizards (Suborder Lacertilia or Sauria) and snakes (Suborder Serpentes) represent reptiles that are often found around wallows. All aves, both birds and jungle fowl, gather in the area around wallows. Aves often use trees in the wallow area as a place to "perch" and even as a place to live/nest.

The main users of wallows in the TNBB area are large mammals such as Wild Boar, Deer, Barking Deer, Giant Squirrel (Ratufa bicolor), Treeshrew (Order Scandentia), Long-tailed Macaque (MEP), and Langur (Trachypithecus auratus). They leave traces in the form of footprints when utilizing the wallows.

Special note. The users of wallows in the TNBB area are not only wildlife. Domesticated animals such as cattle (Bos domesticus) are found grazing in the savanna where there are wallows. Why does this happen? It will be discussed on another occasion.

Why wallows?

Wildlife utilize wallows in the TNBB area for: 1). Drinking. In addition to being fulfilled from the water contained in the food material eaten, wildlife requires direct water intake into its body. To avoid dehydration, considering that the body of biological creatures mostly consists of water.; 2) Cooling the body temperature of wildlife. Birds also submerge (soak) in the wallow water. Mammals such as pigs like to submerge themselves in wallows. Submerging temporarily in water functions to lower the body temperature of wildlife.; 3) Wallow mud can function as skin care especially for animals with no fur to sparse fur, such as pigs. The purpose is to prevent cracked skin.; 4) Repelling insects or parasites. I have never seen deer wallowing in wallows except to drink. To reach the water in the wallow, deer's legs often have to enter the wallow. Even to the point of leaving footprints. The soles of the feet will be covered with wallow mud. This is suspected to prevent parasites and hoof disease. Similar function as skin care; 5) Camouflage. The body of wild boar covered with dried mud helps to disguise it from predators such as Python Snakes.; 6) Relaxation. Soaking in a wallow is the same as Rusa timorensis crossing from Menjangan Island to Brumbun and vice versa, which is to make muscles relax.; 6) Salt licking. To meet the need for salt minerals (alkali) in the body, Rusa timorensis are seen visiting brackish water wallows around the mangrove.

Wallows are mini wetlands

The wallows inside the West Bali National Park (TNBB) area are wetlands. These wallow wetlands are highly influenced by the season. In the rainy season, the wallows are full of water. In the dry season, the water in the wallows decreases and even dries up. Freshwater material is a characteristic feature of purely terrestrial wallows. 

        The wallows in the mangrove area are highly influenced by the tides. The wallows in the mangrove can be seen during low tide. Water basins are often imprinted on the edge of the mangrove near the mainland. This means the wallows are only filled during the highest tide. These wallows are very productive (used) during the dry season, when the wallows on land dry up. The material is brackish to saline water.

Figure 4. Shows the role of the wallows in maintaining the ground surface with a dominance of grass that remains green. The presence of this grass is evidence that the soil in this savanna remains moist due to the presence of freshwater. Freshwater gathers in the wallows, and some of it remains tightly bound to the soil which is utilized by the grass to stay alive.

Figure 4. Mini wetland in Grid J7 Tegalbunder – West Bali National Park. Photo August 13, 2026 – TNBB Document.







Kamis, 17 September 2026

Cattle in the Karangsewu Savana - West Bali National Park (Part 1)

 SAPI DAN POHON WARU SAVANA KARANGSEWU

Isai Yusidarta dan Hery Kusumanegara

 

Kawasan Taman Nasional Bali Barat (TNBB) mempunyai beberapa titik area yang langsung berbatasan dengan rumah penduduk. Tidak lagi ada jalur batas kawasan yang memisahkannya dengan area hutan konservasi. Musim kemarau ini terlihat daun yang menghijau selebar 10 meter sejajar dengan rumah penduduk, memisahkan padang savana  yang kering pada musim kemarua ini.


Posisi Savana Karangsewu

Savana Karangsewu adalah satu-satunya savana (padang rumput) TNBB yang terletak berdampingan sejajar garis batas dengan rumah penduduk. Satu-satunya savana di area perkotaan, mengingat status administrasi kepemerintahan Gilimanuk adalah kelurahan di Kabupaten Jembrana.

Ada cerita, seseorang pernah memiliki kambing sampai 100 ekor diumbar (dibiarkan bebas) di savana Karangsewu. Ada yang memelihara sapi sampai 20 ekor diikat dan dikandangkan di savana Karangsewu. Pernah adanya pelarangan penggembalaan ternak di savana Karangsewu karena berbenturan dengan tempat bermain sepakbola anak-anak.

Gambar 1. Peternak mengikat induk sapi di savan Karangsewu dekat area mangrove, dimana masih ada rumput hijau walaupun lebar beberapa meter. Foto 18 September 2026 – Dokumen TNBB.


Pintu masuk nelayan sebelum menangkap ikan di perairan Karangsewu, Teluk Gilimanuk. Tempat nelayan memarkirkan dan menyimpan kapal. Tempat kelompok nelayan Teluk Asri, Karangsewu dan Segara Mertha mendapatkan akses di zona tradisional

Savana Karangsewu sekarang menjadi tempat wisata berbasis masyarakat yang sedang berkembang dengan camping dan campervan, area outbond dan bird watching khususnya Curik Bali atau Bali Mina.

Ternak di Karangsewu

Sebagian masyarakat Gilimanuk menganggap, Savana Karangsewu adalah padang gembalaan yang disediakan oleh Tuhan Allah. Hijaunya rumput terbuka sebelum musim kemarau adalah “rupiah berdaging” melalui sapi dan kambing. Dominasi sekarang ini adalah ternak sapi.




Ternak di Karangsewu

Sebagian masyarakat Gilimanuk menganggap, Savana Karangsewu adalah padang gembalaan yang disediakan oleh Tuhan Allah. Hijaunya rumput terbuka sebelum musim kemarau adalah “rupiah berdaging” melalui sapi dan kambing. Dominasi sekarang ini adalah ternak sapi.

Melihat hal ini, masyarakat Gilimanuk yang tinggal di sekitar savana Karangsewu, mengusahakan kegiatan peternakan. Mengapa kata “mengusahakan”? Fakta di lapangan menunjukkan bahwa ternak bukan mata pencaharian pokok, tetapi sampingan. Jika diperhatikan, maka :

1.       Selama matahari bersinar tidak menggunakan waktunya 100% merawat ternak.

2.       Mereka mempunyai pekerjaan lainnya, terutama untuk memenuhi kebutuhan harian.

3.       Ternak peliharaan tidak 100% milik mereka. Ada yang memelihara ternak orang lain (sistem gaduh).

4.       Mereka tidak punya kandang ternak di lahan milik sendiri, apalagi lahan penggembalaan pribadi.

5.       Tidak memungkinkan lagi memelihara ternak dalam jumlah masif. Berbenturan dengan lokasi sebagai bagian kawasan konservasi Taman Nasional Bali Barat.

6.       Ternak untuk pemenuhan jangka menengah, atau jika ternak milik sendiri adalah untuk pemenuhan insidental (mendadak waktunya)

Gambar 2. Lokasi penanaman waru di pinggir kawasan Karangsewu TNBB yang berbatasan dengan rumah penduduk. Foto 14 September 2026 – Dokumen BTNBB.


Hijauan Ternak

Musim kemarau padang rumput Karangsewu menguning dan kering. Rumput yang dekat sepanjang pantai Karangsewu dan mangrove yang masih menghijau dengan lebar beberapa meter (mengapa?). Ada kemungkinan evaporasi pada siang hari dan mengalami kondensasi pada malam hari. Jika diperhatikan dengan seksama di pagi hari area ini lebih basah. Ketika rumput dijilat rasanya tawar.

Musim kemarau menjadi tantangan menyediakan pakan. Sapi tidak lagi merumput (grazing) untuk memamahbiak. Peternak harus mencarikan hijauan daun agar perut sapi terisi. Kambingpun tidak bisa lagi meramban (browsing), vegetasi tingkat semai dan pancang harus menunggu musim hujan untuk tumbuh dari biji yang jatuh dari pohon. Akhirnya, sapi dan kambing berebut hijaun daun dari vegetasi yang “ada” (mengapa tanda kutip?). Pilihannya adalah mencari ramban daun dari vegetasi asli pohon yang dapat dimakan ternak atau menanam pohon pakan ternak. Kalau pilihannya menanam, berarti ditanam dimana? Mereka tidak punya lahan pribadi.

 Cerita Hibiscus tilliaceus

Tanggal 11 September 2026, gotong royong dengan KEAK (Kelompok Ekowisata Alam Karangsewu) memasang pipa PVC untuk mengalirkan air olahan bekas pendingin mesin PLTG Gilimanuk untuk menyiram savana dan pembibitan, saya bertanya : “Apakah pohon waru (Hibiscus tilliaceus) ini sudah ada sejak awal rumput savana tumbuh?”.

Gambar 3. Pohon waru yang ditanam terlihat sebagian telah dipangkas untuk pakan ternak. Tampak batang dan ranting yang menjulang tanpa daun. Foto tanggal 15 September 2026 – Dokumen TNBB.

Ternyata, pohon waru itu ditanam seseorang. Sejak awal yang ada hanya padang rumput, pohon bekul dan mangrove. Waru ditanam untuk menyediakan pakan sapi dan kambing pada musim kemarau. Waru dapat menaungi sapi yang dikandangkan ketika terik matahari dan hujan. Waru memberikan warna hijau ketika musim kemarau. Waru saat ini seperti menutupi rumah penduduk ketika memandangnya dari savana Karangsewu.

Gambar 4. Peternak meramban daun waru dari pohon yang ditanam di pinggir kawasan TNBB yang berbatasan dengan rumah penduduk. Foto 14 September 2026 – Dokumen TNBB.

Politis Pohon Waru

Tujuan utama penanaman waru adalah  untuk mencegah peternak mengambil hijauan daun dari vegetasi di kawasan hutan konservasi TNBB pada musim kemarau. Bisa dibayangkan ketika peternak meramban daun di kawasan TNBB, bisa mengakibatkan kematian vegetasi dan tanah menjadi kering pecah-pecah terpapar matahari langsung. Ketika hujan turun lebat tidak ada struktur daun bertingkat yang mengurangi energi kinetik air hujan sebelum mengenai tanah. Hal ini menyebabkan tanah dihantam energi kinetik air hujan secara langsung. Akibatnya tanah mengalami terkikis – erosi dan terbawa aliran air permukaan.

Keberadaan pohon waru bisa menjadi posisi tawar antara peternak dan BTNBB yaitu penyedia hijauan ternak dan menghindari pemangkasan daun pada pohon di TNBB.

Gambar 5. Motor dengan kondisi berbeda yang sama-sama untuk mengangkut ramban di tepi kawasan TNBB. Foto 17 dan 18 September 2025 – Dokumen TNBB


Apakah sapi-kambing bisa memiliki ruang legal

di kawasan konservasi savana karangsewu?


Selasa, 15 September 2026

WILD LIFE WATERING HOLE - WEST BALI NATIONAL PARK (Part 1)

 

KUBANGAN SATWA LIAR

Isai Yusidarta, Hery Kusumanegara, Ketut Widiantara, Putu Mertameyasa, Kukuh Damai dan Maman


Kubangan di kawasan TNBB merupakan tempat survival life utama pada musim kemarau. Tempat ini adalah surga bagi satwa liar yang hidup di dalam hutan konservasi. Pengawasan, pengamanan dan perlindungan lokasi ini merupakan target utama dari personil TNBB


Musin kemarau identik dengan udara yang panas. Udara sejuk pada musim penghujan telah hilang. Warna daun mulai menguning, mendominasi vegetasi hutan. Daun gugur di tanah berwarna coklat, lalu kering menutupi tanah. Bagi vegetasi pohon di hutan konservasi Taman Nasional Bali Barat (TNBB) itu merupakan silkus musim yang wajar.

Terpaan udara sejuk menuju udara panas, membuat tutupan riap daun pada hutan lebih terbuka. Sinar matahari mampu menembus tanah secara langsung. Tanah menjadi kering bahkan retak – retak pada tanah dengan tekstur tanah liat. Pada tanah pasir, membuat butiran pasir berterbangan.

Pohon tetap tegak berdiri. Daun tetap terlihat, walaupun di permukaan tanah. Aliran udara lebih panas, bisa dirasakan. Siang dan malam masih silih berganti datang di Kawasan hutan.

Sepertinya ada yang hilang?

 Apa yang hilang?

Jawabannya adalah kubangan air aktif (air tawar atau freshwater).

Benarkah?

Musim kemarau membuat air di kawasan Hutan Taman Nasional Bali Barat (TNBB) mulai berkurang bahkan menghilang pada titik – titik tertentu. Kubangan air mengering. Tanah dasar kubangan tampak retak – retak karena mengering. Tidak ada lagi aliran air permukaan yang mengisi kubangan. Tidak ada lagi air hujan yang dapat ditampung oleh kubangan. Artinya tidak ada lagi penambahan volume air di kubangan sebelum musim penghujan turun. Tidak tampak jejak satwa liar yang biasanya terlihat disekitar kubangan, seperti ketika masih terdapat air.

Gambar 1.  Kubangan kecil pada ketiggian diatas 100 meter di Grid M6 yang sudah tidak terisi air. Foto 11 Juni 2028 – Dokumen TNBB

Dimana kubangan berada?

Kawasan pelestarian alam Taman Nasional Bali Barat (TNBB) terdapat banyak kubangan. Apakah seluruh kubangan di kawasan TNBB telah mengering pada musim kemarau? Kubangan yang kering total adalah kubangan kecil. Ukurannya kurang dari 10 meter persegi dan berada di ketinggian yaitu di atas 50 meter. Kubangan ukuran ini, menampung air dari aliran air permukaan yang bukan utama. Kedalaman pada saat air penuh biasanya hanya kisaran 20 cm.

Gambar 2. Foto-foto di kubangan besar masih tersimpan air di cekungan utama maupun cekungan kecil-kecil disekitarnya. Rumput juga masih hijau. Foto 11 Agustus 2026 – Dokumen TNBB.

Smart Patrol 10 – 14 Agustus 2026 masih menjumpai kubangan air tawar di dataran rendah sekitar Cekik dengan ukuran lebih dari 100 meter persegi. Jika musim hujan kubangan ini bisa berukuran 500 meter persegi dengan kedalaman terdalam 100 cm. Saat ini, kondisi cekungan kubangan, tidak terisi air tawar penuh. Atau menunjukkan volume air telah berkurang. Tanah - tanah kubangan sekitar air masih lembab dan basah. Jejak satwa seperti babi (Sus scrofa), rusa (Rusa timorensis), kijang (Muntiacus muntjak) bahkan ayam hutan (Gallus sp), tercetak dengan jelas. Pohon – pohon besar dengan riap daunnya yang lebat, menaungi. Kubangan terhindar dari paparan langsung sinar matahari. Hal ini mengurangi evaporasi. Tutupan pohon beringin (Ficus sp), buta – buta (Excoecaria agallocha) dan gebang (Corypha utan) mendominasi area ini. Rumput (Gramine) masih menghijau di sekitar kubangan.

Kubangan di Tegalbunder (gambar 1) merupakan kubangan dengan ketinggian beberapa cm diatas permukaan laut saat pasang tertinggi yang masih aktif pada musim kemarau (Agustus 2026). Padang savana masih menghijau. Area cekungan Teluk Gilimanuk (Grid J7) yang berbatasan dengan mangrove, rumput pun menghijau dan tumbuh subur (Gambar 2). Di area ini pada bagian lumpur mangrove, diketemukan jejak monyet (Macaca fascicularis), babi hutan hingga rusa. Bahkan pada cekungan lumpur di area mangrove juga menjadi kubangan babi dan tempat ngasin rusa.

Gambar 3. Kubangan air di savana Tegalbunder. Foto diambil 13 Agustus 2026 - Dokumen TNBB.

Siapa pengguna kubangan?

Pemakai kubangan di kawasan TNBB adalah satwa liar. Mulai dari serangga hingga mamalia besar. Serangga yang sering ditemui adalah kupu-kupu (ordo Lepidoptera), capung (ordo Odonanta), dan lebah (Apis sp). biawak (Varanus sp), kadal (Sub-ordo Lacertillia atau Sauria) dan ular (Sub-ordo Serpentes) merupakan perwakilan dari reptil yang sering berada disekitar kubangan. Semua aves baik burung dan ayam hutan, berkumpul di area sekitar kubangan. Aves seringkali menjadikan pohon di area kubangan sebagai tempat “hinggap” bahkan tempat tinggal/ bersarang (nesting).

Pemanfaat utama kubangan di kawasan TNBB adalah mamalia besar seperti Babi, Rusa, Kijang, Jelarang (Ratufa bicolor), Tupai (Ordo Scandentia), Monyet Ekor Panjang (MEP), Lutung (Trachypithecus auratus). Mereka meninggalkan jejak berupa print food (jejak kaki) ketika memanfaatkan kubangan.

Catatan khusus. Pemanfaat kubangan di kawasan TNBB bukan hanya satwa liar. Satwa domestikasi seperti sapi (Bos domesticus), dijumpai digembalakan di savana yang terdapat kubangan. Mengapa ini bisa terjadi? Akan dibahas pada kesempatan lain.

Mengapa kubangan?

Satwa liar memanfaatkan kubangan di dalam kawasan TNBB untuk : 1). Minum. Selain dipenuhi dari air yang terkandung dalam material makanan yang dimakan, satwa memerlukan asupan air langsung ke dalam tubuhnya. Menghindari dehidrasi, mengingat tubuh mahluk biologi sebagian besar terdiri dari air.; 2) Mendinginkan suhu tubuh satwa. Burung pun membenamkan (berendam) di kubangan air. Mamalia seperti babi suka membenamkan dirinya di kubangan. Membenamkan sementara waktu di air berfungsi menurunkan suhu tubuh satwa.; 3) Lumpur kubangan dapat berfungsi sebagai skin care terutama satwa tidak berbulu hingga berbulu jarang, seperti babi. Tujuannya mencegah kulit pecah - pecah.; 4) Mengusir serangga atau parasit. Saya belum pernah melihat rusa berendam di kubangan kecuali minum. Untuk mencapai air di kubangan, kaki rusa sering harus masuk kubangan. Bahkan sampai tercetak jejak kaki. Bagian telapak kaki akan tertutup lumpur kubangan. Hal ini diduga menghindarkan dari parasit dan penyakit kuku. Mirip fungsi seperti skin care; 5) Kamuflase. Tubuh babi hutan yang ditutupi lumpur kering membantu menyamarkan dari predator seperti Ular Phyton.; 6) Relaksasi. Berendam di kubangan sama dengan Rusa timorensis menyeberang Pulau Menjangan ke Brumbun dan sebaliknya yaitu membuat otot rileks.; 6) Ngasin. Untuk memenuhi kebutuhan mineral garam (alkali) pada tubuh, Rusa timorensis terlihat mendatangi kubangan air payau disekitar mangrove.

Kubangan adalah lahan basah mini

Kubangan di dalam kawasan TNBB merupakan lahan basah. Lahan basah kubangan tersebut sangat dipengaruhi oleh musim. Musim penghujan, kubangan penuh air. Musim kemarau, air kubangan berkurang bahkan mengering. Material air tawar (fresh water) merupakan ciri khas kubangan yang murni terestrial.

 Kubangan di area mangrove sangat di pengaruhi pasang surut. Kubangan di mangrove dapat terlihat ketika air surut. Cekungan air seringkali tercetak dibagian pinggir mangrove mendekati daratan. Artinya kubangan hanya terisi waktu pasang tertinggi. Kubangan ini sangat produktif (dipakai) pada saat kemarau. Ketika kubangan di daratan mengering. Materaialnya pun berupa air payau hingga air asin (salin water).

Gambar 4. Memperlihatkan peran dari kubangan untuk tetap mempertahankan permukaan tanah dengan dominasi rumput yang tetap menghijau. Keberadaan rumput ini merupakan bukti bahwa tanah di savana ini tetap basah oleh keberadaan air tawar.  Air tawa rada berkumpul di kubangan, ada juga yang tetap terikat erat dengan tanah yang dimanfaatkan oleh rumput untuk tetap hidup.

Gambar 4. Lahan basah mini di Grid J7 Tegalbunder – TNBB. Foto 13 Agustus 2026 – Dokumen TNBB



Patroli TNBB untuk perlindungan kawasan TNBB