Video 1. Pemabakaran terkendali terhadap hasil pembabatan kerinyuh dan krasi di hutan Cekik, TNBB. Kerinyuh dan krasi ditumpuk dalam tumpukan dan ada sekat dengan tumpukan lainnya, baru kemudian di bakar terkendali dalam pengawasan petugas sehingga tidak membakar tegakan pohon utama yang dipertahankan. Dokumentasi TNBB - Oktober 2026
PEMBAKARAN TERKENDALI UNTUK PEMULIHAN EKOSISTEMPADANG RUMPUT DI HUTAN CEKIK, TAMAN NASIONAL BALI BARAT
Isai Yusidarta
Taman nasional adalah Kawasan Pelestarian Alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi, serta dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, penunjang budi daya, dan pemanfaatan kondisi lingkungan.
Fenomena
kebakaran hutan dan lahan (karhutla) saat ini sepertinya menjadi salah satu bahan
material utama di media sosial. Bahkan kebakaran hutan, cepat menaikkan rating pemilik
media sosial. Kebakaran lahan di lahan milik sendiri (perorangan) kurang
mendapat respon netizen, kecuali kebakaran lahan gambut (baik milik sendiri
atau korporasi). Postingan tentang karhutla cepat mendapat respon netizen. Tidak
jarang si pemosting di media sosial, tidak menggali informasi terlebih dahulu.
Langsung posting kebakaran hutan begitu mendapatkan kiriman foto dan video
areal hutan bekas terbakar.
Memposting
kebakaran hutan harus cari informasi mendalam, agar dapat mengetahui bahwa
hutan itu dibakar tanpa tujuan, atau pembakaran terkendali dengan tujuan
memulihkan ekosistem asli dari hutan tersebut.
Ekosistem Asli Hutan
Cekik
Hutan
Cekik di kawasan Taman Nasional Bali Barat (TNBB), aslinya adalah padang savana
(padang rumput). Ciri khas padang savana di TNBB adalah hamparan rumbut di
permukaan tanah dengan diselingi pohon gewang atau gebang (Corypha utan),
atau jika di padang savana Karangsewu di selingi oleh pohon bekul (Ziziphus
mauritiana).
Rusa (Rusa
timorensis) dan Kijang (Muntiacus muncak) dalam catatan konservasi
menjadikan hutan Cekik sebagai habitat (tempat tinggal). Bahkan Banteng Bali
pun tercatat merumput di hutan Cekik. Aves sering mendarat di atas permukaan rumput
di padang savana Cekik (seperti terlihat di Savana Karangsewu). Burung sering
memakan jangkrik dan binatang kecil yang berada di permukaan tanah. Ayam hutan
juga mencari dan memakan serangga di permukaan dan di dalam tanah dengan
menggali tanah menggunakan kakinya.
Hutan
Cekik semakin mengalami tekanan ketika dibelah oleh 2 jalan nasional yaitu
jalan Gilimanuk – Denpasar dan Gilimanuk – Singaraja. Sampah hasil buangan
pengguna transportasi memberikan tekanan berat. Sampah sudah dibuang dan
terbawa hingga tengah hutan. Kerinyuh dan krasi yang merupakan tanaman asing,
entah bagaimana bisa berkembang menjadi tanaman yang mendominasi hutan Cekik di
bagian bawah vegetasi pada saat ini.
Bagian
padang rumput (savana) hutan Cekik yang tersisa dapat dilihat di sekitar kantor
BTNBB dan SPTN Wilayah I Jembrana yang dikenal dengan Bumi Perkemahan Cekik.
Dipersilahkan membandingkan kondisi bagian hutan Cekik di Bumi Perkemahan berupa
padang rumput dan di pertigaan Cekik (bagian kiri pertigaan Cekik jalan
Gilimanuk – Denpasar) berupa kerinyu dan krasi.
Spesies Asing Invasif
(SAI)
Fungsi
kawasan hutan tidak berjalannya sebagaimana mestinya juga dapat disebabkan oleh
adanya spesies asing dan invasif. Spesies asing dan invasif adalah jenis
tanaman, pohon dan satwa yang bukan asli hutan setempat, tetapi berasal dari
luar kawasan hutan setempat, SAI bisa berasal dari luar negeri ataupun lokal
Indonesia. Di hutan Cekik, tanaman kerinyuh dan krasi merupakan SAI karena
bukan tanaman asli.
SAI
menyebabkan tanaman, pohon, dan satwa hutan asli (native species) setempat
tidak mampu bersaing bahkan punah tergantikan olehnya. Spesies tanaman, pohon
dan spesies asli kalah bersaing pada nice
(relung) kehidupan yang sama dengan kerinyuh - krasi, yang dapat
mengakibatkan terputusnya rantai makanan. Sehingga SAI menggantikan posisi nice
spesies asli. Kerinyuh dan krasi dapat menggantikan posisi nice yang
dulu ditempati padang rumput.
Mengapa
SAI bisa mendominasi bahkan menggantikan posisi nice sepsies asli?
Biasanya SAI mempunyai senyawa allelopati. Senyawa allelopati adalah senyawa
beracun yang dapat membunuh spesies asli. Kondisi hutan Cekik sekarang ini
ditutupi oleh spesies asing invasif yaitu kerinyuh (Chromolaena odorata)
dan krasi (Lantana camara).
Efek Keberadaan SAI di
Hutan Cekik
Kerinyuh
dam krasi merupakan gulma berbentuk semak berkayu yang dapat berkembang dengan
cepat sehingga sulit dikendalikan. Tumbuhan ini merupakan gulma padang rumput
yang sangat merugikan dan memiliki allelopati.
Bahkan allelopati tersebut menyebabkan keracunan pada satwa mamalia yang
memakannya. Keberadaan kerinyuh menyebabkan rumput tidak dapat tumbuh.
Keberadaan padang rumput tergeser (mati – tidak ada lagi) dan kerinyuh
mendominasi.
Kerinyuh
dan krasi sering disebut sebagai tanaman penutup tanah (cover crop).
Pada musim hujan tanaman ini cepat berkembang dan termasuk tanaman cepat
tumbuh. Tidak memberi ruang bagai semai pohon asli (native species)
hutan Cekik di tanah yang tertutup kerinyuh dan krasi. Sehingga anakan pohon
asli sulit, jarang bahkan tidak tumbuh di bawah tanah yang sudah didominasi
kerinyuh dan krasi. Biji pohon asli tidak dapat berkecambah dan tumbuh dengan
cepat pada kesempatan musim penghujan karena sinar matahari tertutup oleh
kerinyuh dan krasi sehingga tidak bisa membuka kulit biji dan berfotosintesis
ketika semai mulau tumbuh daun.
Mamalia
besar seperti rusa dan kijang tidak dapat merumput (grazing) di hutan
Cekik lagi karena ketiadaan padang rumput akibat ditutupi kerinyuh dan kerasi. Monyet juga terpengaruh dengan ketiadaan yang
sering mencabut rumput dan memakan bagian pangkal rumput muda, tidak dapat
menikmati lagi keberadaan rumput.
Kerinyu
dan krasi juga menutup jalur koridor bagi rusa dan kijang untuk berpindah
tempat dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Apalagi tanaman krasi di hutan Cekik
itu berduri pada bagian batangnya. Kondisi ini seringkali dimanfaatkan oleh
pemburu untuk membuat jalur perangkap, sehingga rusa dan kijang melewali jalur
tersebut. Pada bagian tertentu dari jalur, pasti akan dibuatkan jerat satwa.
Keberadaan
kerinyuh dan krasi juga menutup kesempatan aves (burung) seperti berbagai jenis
jalak dan ayam hutan untuk mencari serangga yang berada di permukaan dan
beberapa sentimeter di bawah permukaan tanah. Mengapa? Karena cabang dan
ranting kerasi saling menutup rapat yang tidak memungkinkan aves melewatinya
untuk mencapai permukaan tanah.
Tindakan TNBB
Konsep
pembinaan habitat melalui pemulihan ekosistem telah dijalankan oleh TNBB.
Pemulihan ekosistem dilakukan dengan menghilangkan SAI. Artinya, tanaman
kerinyuh dan krasi harus dimatikan. Hilangnya kerinyuh dan krasi, memungkinkan
pemulihan ekosistem dengan mendatangkan kembali (reintroduksi) rumput padang
savana untuk membentuk ekosistem padang rumput (savana) baru di hutan Cekik.
Tindakan mengembalikan
ekosistem padang rumput (savana) di hutan Cekik ini sesuai dengan definisi taman
nasional menurut Undang – Undang Nomor 32 tahun 2024 tentang Perubahan Atas
Undang - Undang Nomor 5 Tahun I990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati
Dan Ekosistemnya. Taman nasional adalah Kawasan Pelestarian Alam yang mempunyai
ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi, serta dimanfaatkan untuk tujuan penelitian,
ilmu pengetahuan, pendidikan, penunjang budi daya, dan pemanfaatan kondisi lingkungan.
Ekosistem padang rumput (savana) adalah ekosistem asli di hutan Cekik.
Pemulihan
ekosistem asli hutan Cekik, TNBB dilakukan telah, sedang dan akan dengan langkah
– langkah sebagai berikut :
1.
Pembabatan
tanaman kerinyuh dan krasi secara manual menggunakan tenaga dari masyarakat
sekitar hutan. Peralatan yang digunakan berupa sabit, gergaji manual, dan
tongkat. Pembabatan ini memerlukan waktu 8 hari untuk luasan 5 hektar. Setiap
hari menggunakan 15 – 20 orang perhari sebagai buruh harian.
2.
Pembabatan
kerinyuh dan krasi kemudian ditumpuk kecil – kecil. Antar tumpukan diberikan
jarak yang cukup. Agar ketika dilakukan pembakaran terkendali tidak bersamaan
terbakarnya.
Gambar 1. Tanaman kerinyu dan krasi dikumpulkan dan ditumpuk oleh pekerja dari masyarakat sekitar hutan, jauh dari pohon utama. Tampak di lokasi kerinyu dan krasi, tanah kosong tidak ada rumput yang tumbuh. Dokumen TNBB - Oktober 2026
3.
Pelaksanaan
pembakaran terkendali dilakukan dengan cara setiap tumpukan dibakar terpisah (diberi
sekat bakar) dan tidak bersamaan waktunya serta dijaga oleh tenaga manusia
hingga api padam. Ketika api sudah padam bisa beralih ke tumpukan berikutnya. Pembakaran
terkendali ini dilakukan agar biji kerinyuh dan krasi ikut terbakar baik yang
sudah jatuh ke tanah maupun yang masih menempel di tanaman. Karena jika tidak
dibakar maka biji yang telah jatuh ke permukaan tanah akan bertunas dan tumbuh,
bonggol tanaman kerinyuh dan kerasi pun dapat bertunas kembali.
Gambar 2. Hasil pemangkasan kerinyuh dan krasi dikumpulkan dan dijauhkan dari pohon utama, agar tidak terbakar ketika dilakukan pembakaran terkendali. Dokumen TNBB - Oktober 2026
4.
Telah
disiapkan biji rumput padang savana. Pada saat musim hujan tiba, maka biji
rumput padang savana akan disebarkan ke permukaan tanah hutan Cekik.
5.
Sebagai
antisipasi pertumbuhan kerinyuh dan kerasi pada musim hujan dari biji yang
tidak terbakar dan bonggol tebangan yang dapat tumbuh kembali, maka akan
dilaksanakan penyemprotan herbisida pada tanaman kerinyuh dan krasi yang tumbuh
kembali setiap bulan.
6.
Harapan
ke depan ekosistem asli hutan Cekik berupa padang rumout (savana) dan kembali
terbentuk. Satwa mamalia seperti rusa, kijang, monyet dapat merasakan rumput
kembali. Aves dapat kembali muncul di padang rumput dan dapat dilihat dengan
mudah untuk bird watching.
Pembakaran Terkendali
Pembakaran terkendali di hutan Cekik pada kegiatan pembinaan habitat bertujuan untuk pemulihan ekosistem padang rumbut (savana). Pembakaran terkendali dilakukan menghilangkang SAI yaitu kerinyuh dan krasi yang merupakan tanaman semak pada lantai tanah hutan. Hasil pembakaran terkendali murni untuk kerinyuh dan kerasi serta tidak menyebabkan pohon – pohon utama yang hidup ikut terbakar.
Gambar 3. Foto diatas menggambarkan kondisi nyata yang dinamakan pembakaran terkendali. Kerinyu dan krasi ditumpuk berjarak. Kemudian dibakar satu per satu bergiliran setelah satunya padam. Petugas menunggu dan memastikan api tidak menjalar dan padam tidak meninggalkan bara api yang menyala sebelum pergi meninggalkan lokasi. Dokumentasi TNBB - Oktober 2026.
Pembakaran terkendali secara tidak langsung juga merupakan upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan. Di hutan Cekik, pada musim kemarau tanaman kerinyuh dan krasi itu mengering di bagian atas permukaan tanah, tetapi bonggol masih hidup (pada musim kemarau). Kerinyuh dan krasi yang kering merupakan salah satu bahan bakar api disamping daun-daun kering dilantai permukaan tanah hutan. Apalagi di hutan Cekik mulai dari pinggir jalan nasional Gilimanuk – Denpasar dan Gilimanuk – Singaraja juga terdapat sampah plastik dan strereofoam yang juga merupakan bahan bakar api. Jika ada percikan api sedikit saja (seperti putung rokok) bisa menyebabkan kebakaran tidak terkendali.
Gambar 4. Sampah plastik dan stereofoam telah masuk jauh ke dalam hutan Cekik bercaput dengan tanaman kerinyuh dan krasi. Baik kerinyuh, krasi dan sampah plastik - stereofoam adalah bahan bakar yang dapat menyebabkan kebakaran hutan tidak terkendali ketika terjadi percikan api kecil. Cara mencegah kebakaran hutan tidak terkendali adalah melakukan pembakaran terkendali yang sesuai kaidah pembersihan bahan bakar api yang dilakukan oleh petugas yang kompeten pengendalian api. Dokumen TNBB - Oktober 2026.






