KUBANGAN
SATWA LIAR
(Efek
Penurunan Volume Air di Daerah Agraris Tepi Hutan)
Isai Yusidarta, Ketut Widiyantara, Hery Kusumanegara, Putu Mertameyasa, Maman Supratman dan Kukuh Damai
Volume air yang melimpah di wilayah agraris menjadi prasyarat mutlak agar lahan bercocok tanam menumbuhkan hasil bumi yang bisa dipanen melimpah. Tetapi musim kemarau bisa memaksa pengelola lahan pertanian di pinggir kawasan hutan untuk mencari alternatif mata pencaharian. Hal ini menjadikan potensi ancaman keberadaan flora dan fauna di kawasan hutan konservasi Taman Nasional Bali Barat.
Melanjutkan penulisan sebelumnya
(bagian 1) bahwa musim kering, menyebabkan kubangan air di dalam hutan TNBB
mengering (terutama di atas ketinggian 50 meter diatas permukaan laut).
Kubangan yang volume airnya masih ada tetapi berkurang terdapat di dataran
rendah. Satwa liar menjadi terkumpul di kubangan air yang tersisa. Padahal
dataran rendah tersebut mudah diakses oleh
warga masyarakat masuk ke dalam kawasan TNBB. Kondisi ini mengancam vegetasi
dan satwa liar di dalam kawasan TNBB.
Ancaman untuk vegetasi
hutan
Volume air kubangan yang berkurang menyebabkan
luasan area yang basah menyusut. Rumput disekitar kubangan mulai mengering dan daun
vegetasi pohon berubah warna menjadi kuning dan akhirnya mengering. Bahkan
pohon dan perdu dapat mengering hingga mati kering.
Mengapa terjadi? Akar pohon tidak
mendapatkan sumber air sebagai material fotosintesis yang mendukung fungsi
pohon untuk memasak makanan sendiri. Musim kemarau tanah menjadi kering dan
suhu tanah meningkat. Hal ini dapat diduga membuat akar pohon kering dan mati.
Gugur daun, rumput dan perdu
mengering, serta batang pohon yang mati kering merupakan bahan bakar bagi api.
Ketersediaan bahan-bahan tersebut dapat berpotensi menyebabkan menyebabkan
kebakaran hutan. Selain itu kawasan hutan TNBB lebih terbuka di musim kemarau,
karean tutupan daun vegetasi hutan tidak lagi rapat akibat gugurnya daun.
Sehingga posisi satwa liarpun mudah terlihat dari jarak jauh.
Ancaman untuk satwa
Volume air yang tersisa pada musim
kemarau, menciptakan situasi dan kondisi yang beresiko terhadap satwa.
Perburuan oleh pemburu gelap (illegal hunter) adalah ancaman terdepan.
Mengapa? Semua satwa pada musim kemarau, secara naluri (insting) pasti bergerak
menuju kubangan yang tersisa sebagai sumber air. Kubangan tersisa mendadak menjadi
pusat keanekaragaman hayati satwa liar.
Pemburu pasti memusatkan perburuannya
ke : 1) Jalur masuk kubangan tersisa.;
2) Pusat kubangan tersisa.; 3) Jalur keluar dari kubangan tersisa. Ketiga jalur
perburuan tersebut akan mengarahkan satwa ke arah jerat yang telah dipasang.
Jerat satwa mamalia besar terbuat
dari material sling. Material ini bekas kabel perseneling atau rem
sepeda motor. Mudah didapatkan dari bengkel sepeda motor. Untuk unggas atau
ayam hutan materialnya adalah nylon yang biasanya digunakan untuk memancing
ikan. Sedangkan untuk burung biasanya menggunakan pulut, bisa juga jaring kabut
untuk mendapatkan burung dalam jumlah banyak.
Perangkap jerat untuk mamalia besar
menggunakan teknik lontar. Sling digabungkan dengan batang pohon hidup yang
dipilih kuat tapi lentur diperkirakan sesuai dengan ukuran dan berat satwa.
Ketika satwa terkena perangkap pada bagian kaki maka pohon akan melenting dan
sling akan mengikat kuat pada bagian kaki satwa. Tetapi sebelumnya jalur satwa
dibuat mengarah ke letak perangkap jerat. Hal yang sama dilakukan untuk jerat
ayam hutan berbahan nylon, hanya memerlukan pohon hidup yang kecil tapi lentur
dan kuat bisa menahan berat ayamnya.
Gambar 1. Pemasangan perangkap jerat di jalur satwa lewat yang telah dikondisikan. Foto Juli 2026 – Dokumen TNBB.
Mengapa
Penurunan Volume Air Menjadi Ancaman?
Penurunan volume air menjadi
ancaman kawasan hutan (tempat pohon dan satwa liar) terkait dengan mata
pencaharian yang berkurang di musim kemarau, yaitu kegiatan bertani dan
bercocok tanam (agraris). Masyarakat Gilimanuk, Sumberklampok, Teluk Terima,
Melaya, Palasari, Ekasari dan Blimbingsari sebagian besar adalah masyarakat
agraris. Luas kepemilikan tanah agraris pun selain milik sendiri ditambah
dengan adanya program perhutanan sosial (pemberian akses atas kemitraan pengelolaan
hutan yang berada di dalam kawasan hutan negara dalam kurun waktu tertentu
tanpa menjadi pemilik sah atas tanah tersebut).
Pertanian di Kecamatan Melaya adalah jenis irigasi semi teknis. Sistem irigasi pertanian yang belum mampu mengukur dan mengatur pemanfaatan air dengan baik, walapaun sudah mempunyai bangunan sadap permanen maupun semi permanen. Kondisi ini dan musim kemarau dapat diduga kegiatan agraris berkurang bahkan berhenti. Pada musim kemarau dengan ketersediaan air terbatas maka kegiatan pengolahan tanah terbatas oleh masyarakat yang mempunyai sumur untuk penyiraman.
Gambar 2. Pemburu
lebah madu klanceng untuk mendapatkan madu dengan menebang pohon. Foto Juli
(kanan) dan Agustus (kiri) 2026 – Dokumen TNBB.
Langkah – Langkah Petugas
TNBB
Taman Nasional Bali Barat telah melaksanakan
mitigasi – antisipasi - adaptasi terkait berkurangnya volume air di kubangan
alami :
1.
Pengisian
kubangan alami yang mendekati prinsip kaidah konservasi. Contoh kubangan alami
di Pura Prapat Agung yang airnya berkurang disi dengan mengambil air dari sumur
yang dibuat.
2.
Penyediaan
air minum melalui kubangan buatan (tempat air minum) di area kawasan TNBB yang
mudah pengisian air dan pengawasan oleh petugas TNBB.
3.
Pemantauan
terhadap pengisian air di kubangan buatan
(tempat air minum) di wilayah perijinan PBPSWA (Perijinan Berusaha
Pengusahaan Sarana Wisata Alam) di Nusa Bay dan Plataran.
4.
Melaksanakan
penebalan patroli rutin di titik – titik akses masuk kawasan dan membersihkan jerat satwa yang dipasang
oleh pemburu ilegal di titik-titik lokasi hasil smart patrol.
5.
Manggala
Agni TNBB juga melaksanakan penebalan patroli pencegahan kebakaran hutan. Personil
dengan peralatan pemadaman kebakaran siap siaga 24 jam untuk melakukan
pemadaman.
6.
Pemasangan
rambu peringatan bahaya kebakaran hutan. Pembuatan sekat bakar untuk
melokalisir lokasi dan mencegah meluasnya kebakaran hutan.
Video 1. Pembersihan jerat oleh petugas TNBB pada saat patroli