KUBANGAN
SATWA LIAR
Isai Yusidarta, Hery Kusumanegara, Ketut Widiantara, Putu Mertameyasa, Kukuh Damai dan Maman
Kubangan di kawasan TNBB merupakan tempat survival life utama pada musim kemarau. Tempat ini adalah surga bagi satwa liar yang hidup di dalam hutan konservasi. Pengawasan, pengamanan dan perlindungan lokasi ini merupakan target utama dari personil TNBB
Musin kemarau identik dengan udara yang panas. Udara sejuk pada musim penghujan telah hilang. Warna daun mulai menguning, mendominasi vegetasi hutan. Daun gugur di tanah berwarna coklat, lalu kering menutupi tanah. Bagi vegetasi pohon di hutan konservasi Taman Nasional Bali Barat (TNBB) itu merupakan silkus musim yang wajar.
Terpaan udara sejuk menuju udara panas, membuat tutupan riap daun pada hutan lebih terbuka. Sinar matahari mampu menembus tanah secara langsung. Tanah menjadi kering bahkan retak – retak pada tanah dengan tekstur tanah liat. Pada tanah pasir, membuat butiran pasir berterbangan.
Pohon tetap tegak berdiri. Daun tetap terlihat,
walaupun di permukaan tanah. Aliran udara lebih panas, bisa dirasakan. Siang
dan malam masih silih berganti datang di Kawasan hutan.
Sepertinya ada yang hilang?
Jawabannya adalah kubangan air aktif (air tawar atau freshwater).
Benarkah?
Musim kemarau membuat air di kawasan Hutan Taman Nasional Bali Barat (TNBB) mulai berkurang bahkan menghilang pada titik – titik tertentu. Kubangan air mengering. Tanah dasar kubangan tampak retak – retak karena mengering. Tidak ada lagi aliran air permukaan yang mengisi kubangan. Tidak ada lagi air hujan yang dapat ditampung oleh kubangan. Artinya tidak ada lagi penambahan volume air di kubangan sebelum musim penghujan turun. Tidak tampak jejak satwa liar yang biasanya terlihat disekitar kubangan, seperti ketika masih terdapat air.
Dimana kubangan berada?
Kawasan pelestarian alam Taman Nasional Bali Barat (TNBB) terdapat banyak kubangan. Apakah seluruh kubangan di kawasan TNBB telah mengering pada musim kemarau? Kubangan yang kering total adalah kubangan kecil. Ukurannya kurang dari 10 meter persegi dan berada di ketinggian yaitu di atas 50 meter. Kubangan ukuran ini, menampung air dari aliran air permukaan yang bukan utama. Kedalaman pada saat air penuh biasanya hanya kisaran 20 cm.
Smart Patrol 10 – 14 Agustus 2026 masih menjumpai kubangan air tawar di dataran rendah sekitar Cekik dengan ukuran lebih dari 100 meter persegi. Jika musim hujan kubangan ini bisa berukuran 500 meter persegi dengan kedalaman terdalam 100 cm. Saat ini, kondisi cekungan kubangan, tidak terisi air tawar penuh. Atau menunjukkan volume air telah berkurang. Tanah - tanah kubangan sekitar air masih lembab dan basah. Jejak satwa seperti babi (Sus scrofa), rusa (Rusa timorensis), kijang (Muntiacus muntjak) bahkan ayam hutan (Gallus sp), tercetak dengan jelas. Pohon – pohon besar dengan riap daunnya yang lebat, menaungi. Kubangan terhindar dari paparan langsung sinar matahari. Hal ini mengurangi evaporasi. Tutupan pohon beringin (Ficus sp), buta – buta (Excoecaria agallocha) dan gebang (Corypha utan) mendominasi area ini. Rumput (Gramine) masih menghijau di sekitar kubangan.
Kubangan di Tegalbunder (gambar 1) merupakan kubangan dengan ketinggian beberapa cm diatas permukaan laut saat pasang tertinggi yang masih aktif pada musim kemarau (Agustus 2026). Padang savana masih menghijau. Area cekungan Teluk Gilimanuk (Grid J7) yang berbatasan dengan mangrove, rumput pun menghijau dan tumbuh subur (Gambar 2). Di area ini pada bagian lumpur mangrove, diketemukan jejak monyet (Macaca fascicularis), babi hutan hingga rusa. Bahkan pada cekungan lumpur di area mangrove juga menjadi kubangan babi dan tempat ngasin rusa.
Siapa
pengguna kubangan?
Pemakai
kubangan di kawasan TNBB adalah satwa liar. Mulai dari serangga hingga mamalia
besar. Serangga yang sering ditemui adalah kupu-kupu (ordo Lepidoptera),
capung (ordo Odonanta), dan lebah (Apis sp). biawak (Varanus
sp), kadal (Sub-ordo Lacertillia atau Sauria) dan ular (Sub-ordo
Serpentes) merupakan perwakilan dari reptil yang sering berada disekitar
kubangan. Semua aves baik burung dan ayam hutan, berkumpul di area
sekitar kubangan. Aves seringkali menjadikan pohon di area kubangan sebagai
tempat “hinggap” bahkan tempat tinggal/ bersarang (nesting).
Pemanfaat
utama kubangan di kawasan TNBB adalah mamalia besar seperti Babi, Rusa, Kijang,
Jelarang (Ratufa bicolor), Tupai (Ordo Scandentia), Monyet Ekor
Panjang (MEP), Lutung (Trachypithecus auratus). Mereka meninggalkan
jejak berupa print food (jejak kaki) ketika memanfaatkan kubangan.
Catatan
khusus. Pemanfaat kubangan di kawasan TNBB bukan hanya satwa liar. Satwa
domestikasi seperti sapi (Bos domesticus), dijumpai digembalakan di
savana yang terdapat kubangan. Mengapa ini bisa terjadi? Akan dibahas pada
kesempatan lain.
Mengapa
kubangan?
Satwa
liar memanfaatkan kubangan di dalam kawasan TNBB untuk : 1). Minum. Selain
dipenuhi dari air yang terkandung dalam material makanan yang dimakan, satwa
memerlukan asupan air langsung ke dalam tubuhnya. Menghindari dehidrasi,
mengingat tubuh mahluk biologi sebagian besar terdiri dari air.; 2)
Mendinginkan suhu tubuh satwa. Burung pun membenamkan (berendam) di kubangan
air. Mamalia seperti babi suka membenamkan dirinya di kubangan. Membenamkan
sementara waktu di air berfungsi menurunkan suhu tubuh satwa.; 3) Lumpur
kubangan dapat berfungsi sebagai skin care terutama satwa tidak berbulu
hingga berbulu jarang, seperti babi. Tujuannya mencegah kulit pecah - pecah.;
4) Mengusir serangga atau parasit. Saya belum pernah melihat rusa berendam di
kubangan kecuali minum. Untuk mencapai air di kubangan, kaki rusa sering harus
masuk kubangan. Bahkan sampai tercetak jejak kaki. Bagian telapak kaki akan
tertutup lumpur kubangan. Hal ini diduga menghindarkan dari parasit dan
penyakit kuku. Mirip fungsi seperti skin care; 5) Kamuflase. Tubuh babi hutan
yang ditutupi lumpur kering membantu menyamarkan dari predator seperti Ular
Phyton.; 6) Relaksasi. Berendam di kubangan sama dengan Rusa timorensis
menyeberang Pulau Menjangan ke Brumbun dan sebaliknya yaitu membuat otot rileks.;
6) Ngasin. Untuk memenuhi kebutuhan mineral garam (alkali) pada tubuh, Rusa
timorensis terlihat mendatangi kubangan air payau disekitar mangrove.
Kubangan
adalah lahan basah mini
Kubangan
di dalam kawasan TNBB merupakan lahan basah. Lahan basah kubangan tersebut
sangat dipengaruhi oleh musim. Musim penghujan, kubangan penuh air. Musim
kemarau, air kubangan berkurang bahkan mengering. Material air tawar (fresh
water) merupakan ciri khas kubangan yang murni terestrial.
Kubangan di area mangrove sangat di pengaruhi
pasang surut. Kubangan di mangrove dapat terlihat ketika air surut. Cekungan
air seringkali tercetak dibagian pinggir mangrove mendekati daratan. Artinya
kubangan hanya terisi waktu pasang tertinggi. Kubangan ini sangat produktif
(dipakai) pada saat kemarau. Ketika kubangan di daratan mengering. Materaialnya
pun berupa air payau hingga air asin (salin water).
Gambar 4. Memperlihatkan peran dari kubangan untuk tetap mempertahankan permukaan tanah dengan dominasi rumput yang tetap menghijau. Keberadaan rumput ini merupakan bukti bahwa tanah di savana ini tetap basah oleh keberadaan air tawar. Air tawa rada berkumpul di kubangan, ada juga yang tetap terikat erat dengan tanah yang dimanfaatkan oleh rumput untuk tetap hidup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar