Selasa, 15 September 2026

WILD LIFE WATERING HOLE - WEST BALI NATIONAL PARK (Part 1)

 

KUBANGAN SATWA LIAR

Isai Yusidarta, Hery Kusumanegara, Ketut Widiantara, Putu Mertameyasa, Kukuh Damai dan Maman


Kubangan di kawasan TNBB merupakan tempat survival life utama pada musim kemarau. Tempat ini adalah surga bagi satwa liar yang hidup di dalam hutan konservasi. Pengawasan, pengamanan dan perlindungan lokasi ini merupakan target utama dari personil TNBB


Musin kemarau identik dengan udara yang panas. Udara sejuk pada musim penghujan telah hilang. Warna daun mulai menguning, mendominasi vegetasi hutan. Daun gugur di tanah berwarna coklat, lalu kering menutupi tanah. Bagi vegetasi pohon di hutan konservasi Taman Nasional Bali Barat (TNBB) itu merupakan silkus musim yang wajar.

Terpaan udara sejuk menuju udara panas, membuat tutupan riap daun pada hutan lebih terbuka. Sinar matahari mampu menembus tanah secara langsung. Tanah menjadi kering bahkan retak – retak pada tanah dengan tekstur tanah liat. Pada tanah pasir, membuat butiran pasir berterbangan.

Pohon tetap tegak berdiri. Daun tetap terlihat, walaupun di permukaan tanah. Aliran udara lebih panas, bisa dirasakan. Siang dan malam masih silih berganti datang di Kawasan hutan.

Sepertinya ada yang hilang?

 Apa yang hilang?

Jawabannya adalah kubangan air aktif (air tawar atau freshwater).

Benarkah?

Musim kemarau membuat air di kawasan Hutan Taman Nasional Bali Barat (TNBB) mulai berkurang bahkan menghilang pada titik – titik tertentu. Kubangan air mengering. Tanah dasar kubangan tampak retak – retak karena mengering. Tidak ada lagi aliran air permukaan yang mengisi kubangan. Tidak ada lagi air hujan yang dapat ditampung oleh kubangan. Artinya tidak ada lagi penambahan volume air di kubangan sebelum musim penghujan turun. Tidak tampak jejak satwa liar yang biasanya terlihat disekitar kubangan, seperti ketika masih terdapat air.

Gambar 1.  Kubangan kecil pada ketiggian diatas 100 meter di Grid M6 yang sudah tidak terisi air. Foto 11 Juni 2028 – Dokumen TNBB

Dimana kubangan berada?

Kawasan pelestarian alam Taman Nasional Bali Barat (TNBB) terdapat banyak kubangan. Apakah seluruh kubangan di kawasan TNBB telah mengering pada musim kemarau? Kubangan yang kering total adalah kubangan kecil. Ukurannya kurang dari 10 meter persegi dan berada di ketinggian yaitu di atas 50 meter. Kubangan ukuran ini, menampung air dari aliran air permukaan yang bukan utama. Kedalaman pada saat air penuh biasanya hanya kisaran 20 cm.

Gambar 2. Foto-foto di kubangan besar masih tersimpan air di cekungan utama maupun cekungan kecil-kecil disekitarnya. Rumput juga masih hijau. Foto 11 Agustus 2026 – Dokumen TNBB.

Smart Patrol 10 – 14 Agustus 2026 masih menjumpai kubangan air tawar di dataran rendah sekitar Cekik dengan ukuran lebih dari 100 meter persegi. Jika musim hujan kubangan ini bisa berukuran 500 meter persegi dengan kedalaman terdalam 100 cm. Saat ini, kondisi cekungan kubangan, tidak terisi air tawar penuh. Atau menunjukkan volume air telah berkurang. Tanah - tanah kubangan sekitar air masih lembab dan basah. Jejak satwa seperti babi (Sus scrofa), rusa (Rusa timorensis), kijang (Muntiacus muntjak) bahkan ayam hutan (Gallus sp), tercetak dengan jelas. Pohon – pohon besar dengan riap daunnya yang lebat, menaungi. Kubangan terhindar dari paparan langsung sinar matahari. Hal ini mengurangi evaporasi. Tutupan pohon beringin (Ficus sp), buta – buta (Excoecaria agallocha) dan gebang (Corypha utan) mendominasi area ini. Rumput (Gramine) masih menghijau di sekitar kubangan.

Kubangan di Tegalbunder (gambar 1) merupakan kubangan dengan ketinggian beberapa cm diatas permukaan laut saat pasang tertinggi yang masih aktif pada musim kemarau (Agustus 2026). Padang savana masih menghijau. Area cekungan Teluk Gilimanuk (Grid J7) yang berbatasan dengan mangrove, rumput pun menghijau dan tumbuh subur (Gambar 2). Di area ini pada bagian lumpur mangrove, diketemukan jejak monyet (Macaca fascicularis), babi hutan hingga rusa. Bahkan pada cekungan lumpur di area mangrove juga menjadi kubangan babi dan tempat ngasin rusa.

Gambar 3. Kubangan air di savana Tegalbunder. Foto diambil 13 Agustus 2026 - Dokumen TNBB.

Siapa pengguna kubangan?

Pemakai kubangan di kawasan TNBB adalah satwa liar. Mulai dari serangga hingga mamalia besar. Serangga yang sering ditemui adalah kupu-kupu (ordo Lepidoptera), capung (ordo Odonanta), dan lebah (Apis sp). biawak (Varanus sp), kadal (Sub-ordo Lacertillia atau Sauria) dan ular (Sub-ordo Serpentes) merupakan perwakilan dari reptil yang sering berada disekitar kubangan. Semua aves baik burung dan ayam hutan, berkumpul di area sekitar kubangan. Aves seringkali menjadikan pohon di area kubangan sebagai tempat “hinggap” bahkan tempat tinggal/ bersarang (nesting).

Pemanfaat utama kubangan di kawasan TNBB adalah mamalia besar seperti Babi, Rusa, Kijang, Jelarang (Ratufa bicolor), Tupai (Ordo Scandentia), Monyet Ekor Panjang (MEP), Lutung (Trachypithecus auratus). Mereka meninggalkan jejak berupa print food (jejak kaki) ketika memanfaatkan kubangan.

Catatan khusus. Pemanfaat kubangan di kawasan TNBB bukan hanya satwa liar. Satwa domestikasi seperti sapi (Bos domesticus), dijumpai digembalakan di savana yang terdapat kubangan. Mengapa ini bisa terjadi? Akan dibahas pada kesempatan lain.

Mengapa kubangan?

Satwa liar memanfaatkan kubangan di dalam kawasan TNBB untuk : 1). Minum. Selain dipenuhi dari air yang terkandung dalam material makanan yang dimakan, satwa memerlukan asupan air langsung ke dalam tubuhnya. Menghindari dehidrasi, mengingat tubuh mahluk biologi sebagian besar terdiri dari air.; 2) Mendinginkan suhu tubuh satwa. Burung pun membenamkan (berendam) di kubangan air. Mamalia seperti babi suka membenamkan dirinya di kubangan. Membenamkan sementara waktu di air berfungsi menurunkan suhu tubuh satwa.; 3) Lumpur kubangan dapat berfungsi sebagai skin care terutama satwa tidak berbulu hingga berbulu jarang, seperti babi. Tujuannya mencegah kulit pecah - pecah.; 4) Mengusir serangga atau parasit. Saya belum pernah melihat rusa berendam di kubangan kecuali minum. Untuk mencapai air di kubangan, kaki rusa sering harus masuk kubangan. Bahkan sampai tercetak jejak kaki. Bagian telapak kaki akan tertutup lumpur kubangan. Hal ini diduga menghindarkan dari parasit dan penyakit kuku. Mirip fungsi seperti skin care; 5) Kamuflase. Tubuh babi hutan yang ditutupi lumpur kering membantu menyamarkan dari predator seperti Ular Phyton.; 6) Relaksasi. Berendam di kubangan sama dengan Rusa timorensis menyeberang Pulau Menjangan ke Brumbun dan sebaliknya yaitu membuat otot rileks.; 6) Ngasin. Untuk memenuhi kebutuhan mineral garam (alkali) pada tubuh, Rusa timorensis terlihat mendatangi kubangan air payau disekitar mangrove.

Kubangan adalah lahan basah mini

Kubangan di dalam kawasan TNBB merupakan lahan basah. Lahan basah kubangan tersebut sangat dipengaruhi oleh musim. Musim penghujan, kubangan penuh air. Musim kemarau, air kubangan berkurang bahkan mengering. Material air tawar (fresh water) merupakan ciri khas kubangan yang murni terestrial.

 Kubangan di area mangrove sangat di pengaruhi pasang surut. Kubangan di mangrove dapat terlihat ketika air surut. Cekungan air seringkali tercetak dibagian pinggir mangrove mendekati daratan. Artinya kubangan hanya terisi waktu pasang tertinggi. Kubangan ini sangat produktif (dipakai) pada saat kemarau. Ketika kubangan di daratan mengering. Materaialnya pun berupa air payau hingga air asin (salin water).

Gambar 4. Memperlihatkan peran dari kubangan untuk tetap mempertahankan permukaan tanah dengan dominasi rumput yang tetap menghijau. Keberadaan rumput ini merupakan bukti bahwa tanah di savana ini tetap basah oleh keberadaan air tawar.  Air tawa rada berkumpul di kubangan, ada juga yang tetap terikat erat dengan tanah yang dimanfaatkan oleh rumput untuk tetap hidup.

Gambar 4. Lahan basah mini di Grid J7 Tegalbunder – TNBB. Foto 13 Agustus 2026 – Dokumen TNBB



Patroli TNBB untuk perlindungan kawasan TNBB




Tidak ada komentar: