Sabtu, 03 Oktober 2026

PULAU MENJANGAN HABITAT PENYU - The Waters of Menjangan Island are a turtle habitat

Video 1. Schooling fish di dermaga pos 1 Pulau Menjangan
 

PENYU MASIH ADA DI TAMAN NASIONAL BALI BARAT (Bagian 3)

Isai Yusidarta, A. Triyono, A. Kusdyana, W. Arfianto, Sugiarto, Jun. Wy

Mandat Penetapan Taman Nasional Bali Barat


Berdasarkan mandat Penetapan Taman Nasional Bali Barat (TMBB) di aatas bahwa perairan TNBB  yang terdiri dari terumbu karang (Coral Reef), ikan di terumbu karang, dan penyu disertai hiu menjadi tolok ukur keberhasilan 3 pilar konservasi yaitu perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan. Penekanan penting bagi kawasan perairan TNBB adalah dapat dikembangkan sebagai obyek wisata bahari, penelitian, ilmu pengetahuan dan pendidikan.


Sebaran Penyu di TNBB.

Hasil monitoring sebaran penyu di kawasan TNBB menunjukkan bahwa : 1) Seluruh perairan konservasi menjadi habitat penyu.: dan 2) Pesisir pantai berpasir menjadi lokasi bersarang (telor) dan menetasnya tukik untuk secepatnya menuju ke laut. Mulai perairan Selat Bali (Cekik) – Prapat Agung – Banyuwedang – Banyumandi – Pulau Menjangan beserta pasir laut di pesisirnya merupakan daerah jelajah penyu.

Monitoring dilaksanakan pada tanggal 16 – 21 September 2026. Metoda yang digunakan : 1) Wawancara kepada stakeholder pengguna langsung kawasan perairan (nelayan, guide dan wisatawan diver -snorkler) dan pengelola wisata di pesisir pantai.; 2) Nglalar yaitu jelajah pesisir pantai pagi dan malam hari.; dan 3) Penyelaman di lokasi yang dilaporkan terjadi perjumpaan penyu dengan guide dan wisatawan.

Perjumpaan langsung penyu tertinggi di perairan terjadi Perairan Pulau Menjangan. Perjumpaan langsung sarang penyu tertinggi di pesisir Kotal (Nusa Bay). Sedangkan di pesisir selat Bali (Cekik ke arah selatan) juga terjadi pelaporan adanya pendaratan penyu bahkan ada resort wisata yang melakukan penetasan semi alami. Pesisir Teluk Terima melaporkan adanya penemuan sarang telur penyu disertai foto penyu bertelur.

Pulau Menjangan

Pusat wisata perairan di TNBB adalah perairan Pulau Menjangan. Jualan obyek daya tarik wisata alam (ODTWA) tertinggi adalah Pulau Menjangan. Kunjungan tertinggi wisatawan adalah perairan Pulau Menjangan. Mengapa? Karena perairannya ideal untuk wisata bahari. Karena banyak yang bisa disaksikan termasuk Rusa timorensis di savana Pulau Panjang. Karena banyak yang bisa dilakukan yaitu snorkling, diving, tracking savana dan wisata religi. Artinya banyak yang bisa dinikmati. Secara rapid asessment harus diakui bahwa perairan Pulau Menjangan layak untuk pengembangan wisata bahari.

Bagaimana penghuni perairannya? Terumbu karang dan ikan tersedia sebagai ODTWA yang lebih settlement (lebih bisa menetap). Walaupun lebih motion (bergerak), penyu sebagai ODTWA mahkota wisata mudah dijumpai. Guide sering melaporkan perjumpaan dengan penyu melalui media sosial masing-masing. Tentunya dibagi dengan wisatawan diver maupun snorkler yang passti akan memasang status di media sosial masing-masing.

Belum dan sampai saat ini bukti dan laporan resmi penyu mendarat dan bertelur di pesisir Pulau Menjangan, belum ada. Walaupun di bagian belakang (utara) terdapat pasir putih di pesisir pantainya, dan samar-samar ada pembicaraan memungkinkan penyu mendarat dan bertelur. Bahkan searching media sosial yang memasang penyu mendarat dan bertelur belum menghasilkan informasi valid (belum ada bukti dokementasi). Artinya dapat diduga penyu menjadikan perairan terumbu karang Pulau Menjangan sebagai tempat bermain dan tempat tinggal dan pesisir Pulau Menjangan tidak (belum)  sebagai tempat bersarang – bertelur – menetas. Tim Monitoring Sebaran Penyu tidak mendapatkan informasi, bahkan tidak menjumpai langsung penyu bertelur di pesisir Pulau Menjangan. 

Pusat Wisata Penyu.

Pendapat saya bahwa perairan Pulau Menjangan sebagai pusat wisata penyu, sebenarnya didasarkan mudahnya diver dan snorkler bertemu penyu. Saya sendiri setiap ke Pulau menjangan ketika snorkling dan diving selalu bertemu penyu tiap sesi terjun ke perairan Pulau Menjangan. Pernah saya snorkling selama 1 jam pada pukul 06.00 – 07.00 wita bertemu 5 individu penyu.

Cek dengan cermat di medsos yang bercerita perjumpaan dengan penyu. Tidak perlu di kolom perairan, di permukaan perairan rombongan wisatawan dari Banyuwangi mengabadikan sepasang penyu yang sedang kawin. Bahkan medsos Indonesia_traveler, sering menampilkan perjumpaan penyu. Mencermati akun instagram yang berkaitan lokasi Pulau Menjangan, Bali banyak yang meng-upload perjumpaan penyu.

Gambar 1. Biro perjalanan menjadikan perjumpaan wisatawan dan penyu di perairan Pulau Menjangan, TNBB sebagai branding pemasaran di media sosial.

Hasil pengamanan medsos dan monitoring dapat diduga bahwa perairan Pulau Menjangan merupakan habitat penyu khususnya penyu sisik dan penyu hijau. Ini valid karena tingkat kunjungan wisatawan terpusat di perairan Pulau Menjangan, sehingga laporan perjumpaan penyu adalah linier.

Video 2. Wisatawan asal Banyuwangi menyaksikan proses perkawinan penyu di atas boat yang mereka gunakan. Ini membuktikan bahwa perairan Pulau Menjangan menjadi tempat melangsungkan siklus perkembangbiakan hidup penyu.

Apakah Penyu Menetap?

Penyu termasuk satwa dengan daya jelajah tinggi. Mampu berkelana dengan berenang ke laut luas dan berumur panjang. Apakah penyu juga bisa menetap di area tertentu?

Pengalaman saya di perairan TN kepulauan Seribu khususnya Pulau Kelapa Dua selama 3 tahun lebih, menjumpai 1 ekor penyu yang menetap di rongga di bawah batu penunggul (karang massive besar) di sisi kanan dermaga SPTN Wilayah I Pulau Kelapa. Diving siang hari di tempat itu tidak diketemukan penyu tersebut. Night dive menemukan penyu tersebut. Hal ini terjadi berkali-kali. Selama bertugas disini, seminggu  melaksanakan night 3 dive kali dengan hari yang berbeda di sekitar area tersebut sambil sekedar mencari lauk untuk makan. Hal ini bisa dilihat di IG saya : yusidartaisai.

Keberadaan PT. Lucky Samudra dengan usaha budidaya utama Marukoban (Ikan Bawal Bintang sirip pendek), menjadi tempat perjumpaan penyu yang sangat mudah. Pagi, siang dan sore mudah menjumpai (penyu di areal budidaya tersebut. Semakin mudah ketika waktu pemberian pakan. Penyu mengelilingi karamba, dan memakan pakan yang keluar dari karamba. Pemberian pakan ini berlangsung terus menerus setiap hari (2 kali sehari).

Artinya? Penyu pun bisa menetap (settlement) pada malam hari dan berkelana di area sekitar yang dapat dijangkau pada saat matahari terbit, serta kembali untuk tinggal pada malam hari. Hal ini didukung sumber pakan yang mudah di dapatkan dan melimpah.

Apakah Penyu Menetap di Perairan Pulau Menjangan?

Pertanyaan diatas, pastinya banyak berharap dijawab secara ilmiah melalui penelitian oleh ahli, pakar, dan peneliti baik dari akademisi maupun lembaga penelitian pemerintah dan independen. Sebelum itu tersedia, saya selaku personil dari management authority (BTNBB) memberikan pertimbangan pemikiran analogi bahwa mahluk hidup mempunyai insting menuju dan menetap di suatu daerah jika kebutuhan hidupnya terpenuhi (secara keseluruhan animal welfare-nya didapatkan penyu), terutama pakan. Pun demikian, manusia jika kebutuhan hidupnya terpenuhi di suatu daerah, pasti akan menetap di daerah tersebut. Rusa di musim kemarau, mendekati area kubangan air yang tersisa dan masih menyediakan rumput (tidak harus hijau segar) atau pohon tingkat semai dan pancang yang masih bisa dijangkau daunnya.

Saya dapat memberikan keterangan bahwa ada 3 kunci pengelolaan yang dilaksanakan BTNBB yang memberikan kenyamanan penyu untuk menjadikan perairan Pulau Menjangan sebagai habitatnya dan menempatkan spesies penyu sebagai salah satu nice (relung hidup) dalam rantai makanannya di perairan Pulau Menjangan. Ketiga kunci adalah:

1.    Pengelolaan Wilayah

2.    Pengelolaan Zona

3.    Kegiatan Tapak

Pengelolan wilayah telah menempatkan Pulau Menjangan dan perairannya pada resor wilayah tersendiri dan terpisah dari daratan utama. Kajian resort konservasi yang telah disusun sebagai dokumen pengelolaan yang akan diajukan di tahun 2026 pun semakin menempatkan Pulau Menjangan dan perairannya lebih spesifik dengan mengurangi beban perairan di Teluk Banyuwedang yang terletak di pulau utama (daratan Pulau Bali). Kondisi ini menempatkan personil resor, fokus pada Pulau Menjangan dan perairannya. Pengelolaan wilayah ini menjadikan resor Pulau Menjangan berbasis tipologi resor perairan dan pulau mikro.

Gambar 2. Kantor Resor Pulau Menjangan yang sekaligus sebagai pos pengamanan kawasan perairan Pulau Menjangan yang melayani selama 24 jam per hari.

Pembagian wilayah pengelolaan ini, mendukung personil resor wilayah Pulau Menjangan untuk berkonsentrasi dalam lingkup yang terpusat pengelolaan keanekaragaman hanyati perairan dan pulau mikro dalam pilar perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan. Personil dapat memastikan pengawasan secara menyeluruh dalam jangkauan panca indera manusia (petugas) untuk memastikan kondisi resor wilayah yang dipangkunya berjalan dalam dinamika alam. Personil resor wilayah akan dengan cepat, efektif dan efisien dalam menggagalkan dan mengeliminasi intervensi manusia yang dapat merusak dinamika alam perairan Pulau Menjangan.

Pengelolaan Zona dalam sistem zonasi menempatkan perairan Pulau Menjangan sebagai zona pemanfaatan. Perairan yang berada di dalam garis pangkal daratan Pulau Menjangan di masukkan ke dalam zona pemanfaatan terkhusus wisata bahari. Perairan yang di luar dari garis pangkal Pulau Menjangan sebagai area di luar kawasan TNBB (Peta zonasi terlampir) yang hanya berjarak tempuh 5 menit dari dari Pulau Menjangan. Zona pemanfaatan terkhusus pariwisata membantu pencegahan eksploitasi sumber daya ikan dan perairan lainnya di dalam garis pangkal Pulau Menjangan. 

Membandingkan peta kawasan TNBB dengan peta kawasan Taman Nasional Karimunjawa (TNKj) dan  Peta Taman Nasional Kepulauan Seribu (TNKpS) sangat berbeda dasar pemikirannya. Peta kawasan TNBB pada kawasan perairan sepertinya menggunakan prinsip garis pangkal pulau (mirip peta Kepulauan Negara Kesatuan Republik Indonesia), sehingga menyusuri garis pangkal pulau sehingga tidak garis lurus seperti di TNKj dan TNKpS. Perairan di luar garis pangkal (di luar kawasan TNBB) pun tidak jauh dari pulau Menjangan dan tidak jauh juga dari Teluk Kotal. Rata-rata 5 menit jarak tempuh lurus dari daratan Pulau Menjangan mapun Tanjung Kotal.

Gambar 3. Posisi Pulau Menjangan dengan zona pemanfaatan (di dalam garis pangkal perarian) dan perairan di luar kawasan TNBB (diluar garis pangkal perairan)

Area perairan yang berada di luar garis pangkal Pulau Menjangan memberikan ruang nelayan masyarakat sekitar kawasan untuk dapat mengambil hasil laut tanpa harus mendekati habitat penyu di perarian Pulau Menjangan. Penangkapan hasil laut di area ini dengan menggunakan peralatan tradisional yang legal diharapkan dapat mencegah eksploitasi berlebih dan masih mampu menyediakan pendapatan bagi masyarakat sekitar kawasan TNBB. Artinya diharapakan terjadi keseimbangan kelestarian alam dan pemenuhan kebutuhan masyarakat pesisir.

Gambar 4. Patroli Resor Pulau Menjangan pada seiang hari sekaligus terus melakukan penyadartahuan terkait zonasi TNBB dan area penangkapan ikan di luar batas kawasan TNBB

Kegiatan Tapak yang dilaksanakan telah mendukung pengelolaan wilayah dan zona. Kantor Resor Wilayah di Pulau Menjangan yang sekaligus sebagai pos pengamanan telah didukung personil dalam kesiapsiagaan 24 jam. Patroli malam rutin dilakukan, mengingat aktivitas nelayan berlangsung pada malam hari. Belum pernah nelayan mendekati area habitat penyu di malam hari. Nelayan selalu terpantau dari pos pengamanan ketika mendekati zona pemanfaatan pariwisata. Patroli malam selalu berhasil melakukan penindakan secara tegas dan humanis. Nelayan diberikan penyadartahuan area tangkap yang diperbolehkan dengan peralatan tradisional yaitu di luar garis pangkal perairan Pulau Menjangan atau diluar kawasan TNBB yang hanya berjarak 5 menit lurus. Acapkali nelayan yang “sedikit” melanggar membuat surat pernyataan untuk tidak lagi menagkap hasil laut di zona pemanfaatan wisata dan biota yang dilindungi. Hasil patroli malam ini pun diintegrasikan sebagai kegiatan smart patrol. Kegiatan tapak ini sudah berjalan otomatis diantara personil Resor Wilayah Pulau Menjangan.


Gambar 5. Patroli malam secara humanis untuk penyadartahuan kepada nelayan untuk tidak menangkap cumi-cumi dan ikan di dalam zona pemanfaatan di dalam garis pangkal kawasan TNBB

Selain patroli malam, patroli pengawasan pengunjung wisatawan menjadi urat nadi kelestarian penyu. Pengunjung dihimbau untuk tidak menginjak karang, dan mengambil biota laut (menyelamatkan ikan dari tenggelam di air laut). Pengunjung hanya diperbolehkan mengambil foto/ video tanpa harus menyentuh bahkan memindahkan biota laut. Termasuk tidak boleh menyentuh penyu serta menghalangi jalan penyu menuju ke permukaan untuk mengambil udara memenuhi paru – parunya.

Penebalan kegiatan di atas merupakan reaksi dasar essensial dalam rangka menerapakan prinsip  3 pilar konservasi yaitu perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan dengan strategi pemanfaatan yang mendukung usaha-usaha perlindungan dan pengawetan alam. Mengapa?

1)     Perlindungan yang ketat memberikan ruang rantai makanan dan jaring – jaring makanan terpelihara di perairan di dalam garis pangkal Pulau Menjangan. Schooling fish masih sering terjadi bahkan menjadi tontonan dan obyek daya tarik wisatawan. Schooling fish bahkan terjadi di area dermaga pos 1. Daerah yang ketika pasang tertinggi hanya kedalaman 5 meter. Fenomena shooling fish merupakan bukti rantai makanan masih terpelihara (foto dan video di awal blog terlampir). Ubur-ubur kecil yang merupakan makanan penyu mulai dari tukik tersedia melimpah dan sering kali dapat dijumpai oleh wisatawan diving maupun snorkling.


Gambar 6. Schooling fish pun bisa menjadi background foto bawah air yang stylish di media sosial

2)     Upaya pengawetan dengan memberikan kesempatan nelayan dari masyarakat setempat untuk dapat mengambil hasil laut di luar garis pangkal (luar kawasan TNBB) perairan Pulau Menjangan yang merupakan upaya menyeimbangkan kebutuhan pendapatan masyarakat dan kelestarian di dalam garis pangkal (zona pemanfaatan pariwisata) Pulau Menjangan. Kebutuhan manusia masih terpenuhi tanpa mengganggu keseimbangan alam di dalam garis pangkal perairan Pulau Menjangan. Bahkan ikan dan biota lainnya dapat berkembang di area di dalam garis pangkal perairan Pulau Menjangan dan dapat spill over (merembet keluar) ke luar garis pangkal perairan Pulau Menjangan. Sehingga populasi dan jenis biota dalam tiap tingkatan rantai makanan dapat terjaga dengan baik. Bahkan efek negatif kegiatan wisata di dalam garis pangkal perairan Pulau Menjangan (kerusakan karang) telah dilakukan dengan melaksanakan pemulihan ekosistem terumbu karang melalui transplantasi.

Gambar 7. Ikan kuwe yang difoto bersamaan schoolong fish di Pos 1 Pulau Menjangan (Gambar 5) merupakan ikan predator yang punya daya jelajah tinggi. Menjadikan ikan schooling fish kecil sebagai buruan. Jika ikan buruannya melimpah (tidak ditangkap nelayan) di zona pemanfaatan TNBB, ikan kuwe pun akan berkembang biak dan melimpah, akhirnya bisa spill over keluar kawasan TNBB

3)     Pemanfaatan perairan di dalam garis pangkal perarian (zona pemanfaatan pariwisata) Pulau Menjangan bertujuan untuk memberikan pengetahuan, dan pendidikan kepada masyarakat (definisi taman nasional menurut UU 32 Tahun 2024 atas perubahan UU Nomor 5 Tahun 1990) melalui kegiatan wisata berbasis alam. Juga memberitahu dan membuktikan kepada masyarakat dunia bahwa salah satu titik perairan di Indonesia tetap lestari sejajar pembangunan masyarakat dan mengajak warga dunia agar dapat datang dan menyaksikan bukti yang ada. Sekaligus mendapatkan pembiayaan untuk mengerakkan upaya perlindungan dan pengawetan ibaratnya seperti menghidupkan mesin. Harus ada bahan bakar dan biaya pemeliharaan dari mesin untuk dapat terus hidup dan tidak ada kata berhenti (mati). Patroli sebagai esensi dasar perlindungan kawasan TNBB (habitat – spesies – genetik), dan pengawasan penggunaan wilayah di luar kawasan yang dapat digunakan untuk pengambilan sumber daya perikanan sekaligus penyadartahuan kepada masyarakat serta pemulihan ekosistem perarian sebagai upaya pengawetan yang dilakukan. Berhentinya upaya perlindungan dan pengawetan mengancam keberlangsungan kehidupan perairan Pulau Menjangan.  

Gambar 8. Sikap humanis dalam pelaksanaan patroli ditunjukkan dengan tetap senyum dan pengajarkan aplikasi avenza dengan peta dasar kawasan TNBB untuk menunjukkan posisi stakeholder dalam beraktivitas di perairan Pulau Menjangan.

 

Kesimpulan

Kunci utama penyu masih ada di Taman Nasional Bali Barat adalah personil dari management authority telah melaksanakan tugas pokok dan fungsi yang membuat rantai makanan di dalam garis pangkal perairan (zona pemanfaatan pariwisata) Pulau Menjangan tetap terjaga dan pemenuhan kebutuhan sumber daya perikanan untuk masyarakat di luar garis pangkal perairan Pulau Menjangan pun terpenuhi.

Bergandengan tangan dengan scientific authority (perguruan tinggi dan lembaga penelitian) yang mempunyai tugas pokok dan fungsi untuk melakukan penelitian tentang penyu di perairan Pulau Menjangan, Bali. Pencarian hasil-hasil penelitian penyu di perairan Pulau Menjangan dan Taman Nasional Bali Barat secara keseluruhan sangat minim bahkan boleh dikatakan belum pernah dilakukan. 


Minggu, 27 September 2026

Identifikasi Penyu di Taman Nasional Bali Barat - Sea Turtle Identification in West Bali National Park

 

PENYU MASIH ADA DI TAMAN NASIONAL BALI BARAT (Bagian 2)

Identifikasi Penyu Perjumpaan Langsung di Perairan TNBB

Isai Yusidarta, A. Triyono, A. Kusdyana, W. Arfianto, Sugiarto, Jun. Wy


Mandat Penetapan Taman Nasional Bali Barat



Ciri Penyu Sisik

Karapaks (tempurung) penyu sisik memiliki 2 pasang prefontal, 4 pasang lateral, 5 buah vertebral dan semuanya yang tumpang tindih (overlapping) seperti sisik dan pinggiran karapaksnya bergerigi.

Bentuk kepala yang memanjang dengan rahang yang cukup besar dan mulut meruncing menyerupai paruh burung elang, sehingga disebut hawksbill turtle dalam bahasa Inggris. Paruhnya lebih tajam dan menonjol ketimbang jenis penyu lainnya. Paruh yang tajam dan kuat cocok untuk memotong dan meremukkan sumber makanannya berupa spons, karang, krustasea, moluska. Paruh tersebut dapat meremukkan cangkang bivalvia (kerang) untuk diambil dagingnya.

Karapaks pada penyu sisik memiliki lima buah vertebral dan empat pasang lateral, dengan bagian belakang sisiik yang saling tumpang tindih (overlapping). Pinggiran belakang karapaksnya terlihat bergerigi, mirip dengan tepi gergaji atau pisau bistik. Karapaks penyu tersebut diketahui dapat mencapai panjang 75 – 88 cm dengan berat 43–75 kg.

Ciri Penyu Sisik


Kunci identifikasi penyu hijau adalah sepasang prefrontal di bagian depan kepala, 4 pasang lateral dan 5 buah vertebral. Nama Penyu hijau (Chelonia mydas) berdasarkan warna kulitnya, yang sebagian kulitnya berwarna kehijauan. Warna tersebut disebabkan oleh lapisan lemak dibawahnya. Warna karapas bisa berwarna coklat, hitam, dan abu-abu. Pada bagian perut berwarna kuning.




Panjang karapas penyu hijau dapat tumbuh mencapai 120 cm, dengan berat hingga 300 kg, kematangan seksual pada usia antara 20 hingga 50 tahun. Penyu hijau dikategorikan sebagai penyu besar setelah penyu belimbing. Tukik dan remaja penyu hijau bersifat omnivora dengan memakan ubur-ubur dan spons. Penyu hijau dewasa adalah pemakan tumbuhan (herbivora) yaitu alga, rumput laut dan lamun

jenis penyu pembuat sarang untuk bertelur pada malam hari. Menghindari keramaian dan cahaya terang disepanjang pesisir pantai. Jumlah telur penyu dalam satu sarang 100 – 2000 butir telur. Ketika telur menetas maka tukik akan secaepatnya menuju kelaut berenang menuju tempat yang aman. Telur penyu sering kali diincar oleh predator seperti biawak, babi dan anjing bahkan manusia untuk sumber protein. Fase tukik dari mulai menuju laut meninggalkan sarang di pantai, mereka diburu oleh burung, gurita, cumi, anak hiu dan ikan predator seperti groupper (kerapu), dan barakuda. Jika tukik-tukik selamat dan bertumbuh, maka hidupnya dapat mencapai umur 80 - 90 tahun.

-----------------------------------------------------------------------

 

Bagian ke-3 PENYU MASIH ADA DI TAMAN NASIONAL BALI BARAT akan bercerita mengapa penyu mudah dijumpai di Pulau Menjangan.







Sabtu, 26 September 2026

WISATA PENYU DI TAMAN NASIONAL BALI BARAT - Turtle Tourism in West Bali National Park

 



PENYU MASIH ADA DI TAMAN NASIONAL BALI BARAT (Bagian 1)

Isai Yusidarta, A. Triyono, A. Kusdyana, W. Arfianto, Sugiarto, dan Jun. Wy

Mandat Penetapan Taman Nasional Bali Barat


Pemberitaan media sosial, mulut ke mulut, dari guide, dan wisatawan bertautan dengan keberadaan penyu di perairan Taman Nasional Bali Barat (TNBB), menjadi obyek menarik follower. Tidak ketinggalan menjadi obyek marketing bagi agen (biro) wisata. Janji snorkling dan diving bertemu penyu menjadi pengikat naiknya dollar yang diterima.


Gambar 1.    Wisatawan snorkler bertemu penyu di perairan  dangkal (terumbu karang) Pulau Menjangan dan diposting oleh guidenya di satus WA


Mengapa penyu?

Bagi penyelam permukaan (snorkler) dan penyelam (driver), menikmati kolom perairan asin bukan hanya terumbu karang dan ikan hias. Mereka akan berteriak-teriak ketika bertemu penyu, lumba-lumba, dugong, paus, pari manta, gerombolan ikan (schooling fish) bahkan hiu. Tapi terikan itu nanti ketika sudah di kapal atau di darat. Apalagi kalau punya bukti berupa foto atau video hasil karya sendiri. Pasang di medsos pribadi merupakan wooooow. Reptil dan mamalia laut punya nilai gaya sendiri.

Penyu merupakan reptil yang memanfaatkan perairan sebagai rumah hidupnya. Mendarat, ketika mau bertelur. Di darat ketika ditelurkan induknya hingga menetas. Selesai menetas langsung pergi ke laut.

Status hukum penyu di Indonesia adalah satwa dilindungi sesuai Undang- Undang  Nomor 32 Tahun 2024 (perubahan atas UU Nomor 5 Tahun 1990) dan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.

Menurut Daftar Merah IUCN (International Union for Conservation of Nature), status penyu bervariasi yaitu : 1) Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata) status kritis (Critically Endangered).; 2) Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea) dan Penyu Tempayan (Caretta caretta) berstatus rentan hingga punah terganggu wilayah populasinya.; 3) Penyu hijau status risiko rendah (Least Concern).; 4) Penyu Belimbing status kritis (Critically Endangered).

Ada tuturan umum, 1000 tukik yang mentas hanya 1 yang selamat sampai dewasa untuk bertelur kembali ke lokasi tempat mereka ditelurkan dan ditetaskan di tanah yang ditimbun induknya.

Hal - hal di atas merupakan nilai kepentingan tertinggi ketika snorkler dan diver bertemu dengan penyu ketika berada di kolom perairan laut.


Gambar 2.    Penyu bertelur dan jejaknya di pesisir pantai : A) Teluk Terima dan B) Cekik. Foto Februari dan Juli 2026 – Dokumen TNBB


Mengapa penyu punya nilai tinggi bagi diver dan snorkler?

Setiap diver dan snorkler pasti punya media sosial dan relasi khusus atau circle. Mulai dari upload status WA, Telegram, Face Book (FB), Instragram (IG), You Tube, Twitter, Thread, Tiktok dan blog. Mereka akan memamerkan foto atau video penyu di kolom perairan laut yang mereka jumpai.

Penyu mempunyai nilai gaya sendiri bagi diver dan snorkler.

1.          Tidak mudah berjumpa penyu disetiap titik dan  kedalaman perairan laut. Walaupun sekali waktu penyu ke permukaan air laut untuk mengambil udara memenuhi paru-parunya, tetap susah di jumpai. Mengisi paru-paru dengan udara atmosfer di atas permukaan laut hanya sebentar yaitu 4 – 5 menit untuk menyelam bergerak 20 – 45 menit. Penyu adalah mahluk yang dinamis bergerak apalagi jika merasa ada gangguan. Artinya bertemu penyu memerlukan keberuntungan (lucky).

2.          Pada kondisi perairan laut saat ini, bertemu penyu paling 1 ekor di satu titik lokasi dan kedalaman, apalagi bertemu penyu sedang berpasangan (kawin) itu adalah doorprize, hadiah dari ketenangan, ketahanan dan kekuatan diver menjelajahi perairan laut. Sesuai falsafah ekowisata penyu adalah umur panjang, kebijaksanaan – kesabaran, ketahanan – kekuatan dan keseimbangan alam di laut.

3.          Bisa mendapatkan foto/video dirinya (penyelam itu sendiri) dengan penyu pada saat sama-sama menyelam dan bergerak adalah boon atau gift of God. Berarti si penyu merasa nyaman dengan penyelam dan tidak terganggu dengan penyelam. Atau diver adalah seorang profesional, dan foto atau video tersebut adalah bukti keprofesionalan dalam prinsip animal welfare.

Gambar 3.    Diver bertemu penyu di perairan Banyuwedang. Sekali lagi “Don’t touch”. Foto September 2026 – Dokumen TNBB


Resume Monitoring Penyu di TNBB

Taman Nasional Bali Barat melaksanakan kegiatan monitoring penyu dari tanggal 16 – 21 September 2026. Penyu merupakan salah satu mandat penetapan TNBB yang didasarkan pada 3 pilar yaitu perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan. Penyu menjadi satwa obyek daya tarik wisata kawasan perairan TNBB. Di perairan Pulau Menjangan menjadi satwa laut yang menarik kedatangan diver dan snorkler. Para diver sering bertemu dengan penyu ketika menyelam. Snorkler pun sering mendapatkan foto penyu ketika berenang diperiran dangkal terumbu karang.

Monitoring dilaksanakan di pesisir pantai yang menjadi lokasi pendaratan penyu betina untuk bertelur dan tukik menetas dengan teknik nglalar penyu menyusuri pantai pada malam hari untuk mencari dan menemukan penyu yang sedang mendarat atau sarang tempatnya bertelur. Menyelam pada titik-titik informasi tempat diver guide bertemu penyu ketika memandu wisatawan. Wawancarai nelayan dan masyarakat yang beraktivitas di pesisir pantai.

Terangkum hasil identifikasi bahwa perairan TNBB merupakan habitat 3 jenis penyu, yaitu Penyu Hijau, Penyu Sisik dan Penyu Lekang. Pada pesisir pantai diketemukan sarang penyu yang bertelur. Sarang ada yang dirusak dan telor kemungkinan telah dimangsa predator (diketemukan jejak kaki dan ekor  biawak).


Gambar  4.      Wisatawan dan guide diving di Pulau Menjangan di kedalam 25 meter. Pada saat foto ini saya ambil, mereka bertemu penyu yang juga saya lihat dan saya video dan foto penyu tersebut. Sebagian video, saya tampilkan di blog ini. Foto September 2026 – Dokumen TNBB.




Bagian ke-2 PENYU MASIH ADA DI TAMAN NASIONAL BALI BARAT akan bercerita identifikasi penyu hasil monitoring.

Bagian ke-3 PENYU MASIH ADA DI TAMAN NASIONAL BALI BARAT akan bercerita mengapa penyu mudah dijumpai di Pulau Menjangan.

 

Selasa, 22 September 2026

WILD LIFE WATERING HOLE - WEST BALI NATIONAL PARK (Part 2)

KUBANGAN SATWA LIAR

(Efek Penurunan Volume Air di Daerah Agraris Tepi Hutan)

Isai Yusidarta, Ketut Widiyantara, Hery Kusumanegara, Putu Mertameyasa, Maman Supratman dan Kukuh Damai

 

Volume air yang melimpah di wilayah agraris menjadi prasyarat mutlak agar lahan bercocok tanam menumbuhkan hasil bumi yang bisa dipanen melimpah. Tetapi musim kemarau bisa memaksa pengelola lahan pertanian di pinggir kawasan hutan untuk mencari alternatif mata pencaharian. Hal ini menjadikan potensi ancaman keberadaan flora dan fauna di kawasan hutan konservasi Taman Nasional Bali Barat.

Melanjutkan penulisan sebelumnya (bagian 1) bahwa musim kering, menyebabkan kubangan air di dalam hutan TNBB mengering (terutama di atas ketinggian 50 meter diatas permukaan laut). Kubangan yang volume airnya masih ada tetapi berkurang terdapat di dataran rendah. Satwa liar menjadi terkumpul di kubangan air yang tersisa. Padahal dataran rendah tersebut  mudah diakses oleh warga masyarakat masuk ke dalam kawasan TNBB. Kondisi ini mengancam vegetasi dan satwa liar di dalam kawasan TNBB.

Ancaman untuk vegetasi hutan

Volume air kubangan yang berkurang menyebabkan luasan area yang basah menyusut. Rumput disekitar kubangan mulai mengering dan daun vegetasi pohon berubah warna menjadi kuning dan akhirnya mengering. Bahkan pohon dan perdu dapat mengering hingga mati kering.

Mengapa terjadi? Akar pohon tidak mendapatkan sumber air sebagai material fotosintesis yang mendukung fungsi pohon untuk memasak makanan sendiri. Musim kemarau tanah menjadi kering dan suhu tanah meningkat. Hal ini dapat diduga membuat akar pohon kering dan mati.

Gugur daun, rumput dan perdu mengering, serta batang pohon yang mati kering merupakan bahan bakar bagi api. Ketersediaan bahan-bahan tersebut dapat berpotensi menyebabkan menyebabkan kebakaran hutan. Selain itu kawasan hutan TNBB lebih terbuka di musim kemarau, karean tutupan daun vegetasi hutan tidak lagi rapat akibat gugurnya daun. Sehingga posisi satwa liarpun mudah terlihat dari jarak jauh.

Ancaman untuk satwa

Volume air yang tersisa pada musim kemarau, menciptakan situasi dan kondisi yang beresiko terhadap satwa. Perburuan oleh pemburu gelap (illegal hunter) adalah ancaman terdepan. Mengapa? Semua satwa pada musim kemarau, secara naluri (insting) pasti bergerak menuju kubangan yang tersisa sebagai sumber air. Kubangan tersisa mendadak menjadi pusat keanekaragaman hayati satwa liar.

Pemburu pasti memusatkan perburuannya ke : 1) Jalur  masuk kubangan tersisa.; 2) Pusat kubangan tersisa.; 3) Jalur keluar dari kubangan tersisa. Ketiga jalur perburuan tersebut akan mengarahkan satwa ke arah jerat yang telah dipasang.

Jerat satwa mamalia besar terbuat dari material sling. Material ini bekas kabel perseneling atau rem sepeda motor. Mudah didapatkan dari bengkel sepeda motor. Untuk unggas atau ayam hutan materialnya adalah nylon yang biasanya digunakan untuk memancing ikan. Sedangkan untuk burung biasanya menggunakan pulut, bisa juga jaring kabut untuk mendapatkan burung dalam jumlah banyak.

Perangkap jerat untuk mamalia besar menggunakan teknik lontar. Sling digabungkan dengan batang pohon hidup yang dipilih kuat tapi lentur diperkirakan sesuai dengan ukuran dan berat satwa. Ketika satwa terkena perangkap pada bagian kaki maka pohon akan melenting dan sling akan mengikat kuat pada bagian kaki satwa. Tetapi sebelumnya jalur satwa dibuat mengarah ke letak perangkap jerat. Hal yang sama dilakukan untuk jerat ayam hutan berbahan nylon, hanya memerlukan pohon hidup yang kecil tapi lentur dan kuat bisa menahan berat ayamnya.

Gambar 1. Pemasangan perangkap jerat di jalur satwa lewat yang telah dikondisikan. Foto Juli 2026 – Dokumen TNBB.

 

Mengapa Penurunan Volume Air Menjadi Ancaman?

Penurunan volume air menjadi ancaman kawasan hutan (tempat pohon dan satwa liar) terkait dengan mata pencaharian yang berkurang di musim kemarau, yaitu kegiatan bertani dan bercocok tanam (agraris). Masyarakat Gilimanuk, Sumberklampok, Teluk Terima, Melaya, Palasari, Ekasari dan Blimbingsari sebagian besar adalah masyarakat agraris. Luas kepemilikan tanah agraris pun selain milik sendiri ditambah dengan adanya program perhutanan sosial (pemberian akses atas kemitraan pengelolaan hutan yang berada di dalam kawasan hutan negara dalam kurun waktu tertentu tanpa menjadi pemilik sah atas tanah tersebut).

Pertanian di Kecamatan Melaya adalah jenis irigasi semi teknis. Sistem irigasi pertanian yang belum mampu mengukur dan mengatur pemanfaatan air dengan baik, walapaun sudah mempunyai bangunan sadap permanen maupun semi permanen. Kondisi ini dan musim kemarau dapat diduga kegiatan agraris berkurang bahkan berhenti. Pada musim kemarau dengan ketersediaan air terbatas maka kegiatan pengolahan tanah terbatas oleh masyarakat yang mempunyai sumur untuk penyiraman.

Gambar 2.    Pemburu lebah madu klanceng untuk mendapatkan madu dengan menebang pohon. Foto Juli (kanan) dan Agustus (kiri) 2026 – Dokumen TNBB.

Kegiatan agraris boleh berhenti, tapi periuk nasi di dapur harus tersedia. Mau tidak mau warga yang mengandalkan agraris akan mencari alternatif pengganti sementara. Mencari kayu bakar di dalam hutan dengan memanfaatkan kayu tumbang yang sudah kering. Berburu satwa dengan memasang jerat. Mencari hijauan – daun pakan ternak seringkali memangkas cabang pohon. Berburu lebah madu di kawasan TNBB, terutama klanceng sering kali menebang pohon hidup. Mereka menjadi lebih tahu kebiasaan satwa liar pada saat musim kemarau yaitu mendatangi kubangan air yang tersisa. Warga jadi tahu kubangan air di lokasi yang didatangi satwa untuk minum dan berkubang. Semakin banyak orang masuk ke kawasan hutan konservasi TNBB, menimbulkan resiko ancaman pada flora dan faunanya.

Langkah – Langkah Petugas TNBB

Taman Nasional Bali Barat telah melaksanakan mitigasi – antisipasi - adaptasi terkait berkurangnya volume air di kubangan alami :

1.       Pengisian kubangan alami yang mendekati prinsip kaidah konservasi. Contoh kubangan alami di Pura Prapat Agung yang airnya berkurang disi dengan mengambil air dari sumur yang dibuat.

2.       Penyediaan air minum melalui kubangan buatan (tempat air minum) di area kawasan TNBB yang mudah pengisian air dan pengawasan oleh petugas TNBB.

3.       Pemantauan terhadap pengisian air di kubangan buatan  (tempat air minum) di wilayah perijinan PBPSWA (Perijinan Berusaha Pengusahaan Sarana Wisata Alam) di Nusa Bay dan Plataran.

4.       Melaksanakan penebalan patroli rutin di titik – titik akses masuk kawasan  dan membersihkan jerat satwa yang dipasang oleh pemburu ilegal di titik-titik lokasi hasil smart patrol.

5.       Manggala Agni TNBB juga melaksanakan penebalan patroli pencegahan kebakaran hutan. Personil dengan peralatan pemadaman kebakaran siap siaga 24 jam untuk melakukan pemadaman.

6.       Pemasangan rambu peringatan bahaya kebakaran hutan. Pembuatan sekat bakar untuk melokalisir lokasi dan mencegah meluasnya kebakaran hutan.

 


 Video 1. Pembersihan jerat oleh petugas TNBB pada saat patroli



 


WILDLIFE WALLOWS - WEST BALI NATIONAL PARK (Part 1)

Rangers Patrol to go to Wildlife Wallows
 

WILDLIFE WALLOWS (Part 1)

Hery Kusumanegara, Ketut Widiantara, Putu Mertameyasa, Kukuh Damai and Maman

Translator : Amien Rais (Former IPB Student)


The dry season is synonymous with hot air. The cool air of the rainy season has disappeared. The color of leaves begins to turn yellow, dominating the forest vegetation. Fallen leaves on the ground are brown, then dry covering the soil. For tree vegetation in the conservation forest of West Bali National Park (TNBB) this is a normal seasonal cycle.

The blast of cool air turning into hot air makes the leaf canopy cover in the forest more open. Sunlight is able to penetrate directly to the ground. The soil becomes dry and even cracked on soils with clay texture. On sandy soils, it makes sand grains fly around.

Trees remain standing upright. Leaves are still visible, even on the ground surface. Hotter air currents can be felt. Day and night still alternate in the Forest Area.

It seems something is missing?

What is missing?  

The answer is active water wallows (freshwater).  

Is that true? 

The dry season causes water in the West Bali National Park (TNBB) Forest area to begin to decrease and even disappear at certain points. Water wallows dry up. The bottom soil of the wallows appears cracked due to drying. There is no longer any surface water flow filling the wallows. There is no more rainwater that can be collected by the wallows. It means there is no more addition of water volume in the wallows before the rainy season arrives. No wildlife tracks, which are usually seen around the wallows when water is present wallows are visible.


Figure 1.         A small wallow at an elevation above 100 meters in Grid M6 that is no longer filled with water. Photo: June 11, 2028 – TNBB Document.

Where are the wallows located?

In the West Bali National Park (TNBB) nature conservation area there are many wallows. Have all wallows in the TNBB area dried up in the dry season? The totally dry wallows are small wallows. Their size is less than 10 square meters and they are located at altitude, namely above 50 meters. Wallows of this size hold water from surface water flows that are not main flows. The depth when fully filled with water is usually only around 20 cm.


Figure 2. Photos at the large wallows show water still retained in the main basin as well as small surrounding basins. The grass also remains green. Photo: August 11, 2026 – BTNBB Document.


Smart Patrol August 10 – 14, 2026 still found freshwater wallows in the lowlands around Cekik with a size of more than 100 square meters. In the rainy season, this wallow can be 500 square meters in size with a maximum depth of 100 cm. Currently, the condition of the wallow basin is not fully filled with freshwater. Or it shows that the water volume has decreased. The wallow soils around the water are still moist and wet. Animal tracks such as wild boar (Sus scrofa), deer (Rusa timorensis), barking deer (Muntiacus muntjak) and even jungle fowl (Gallus sp), are clearly imprinted. Large trees with their dense leaf canopies provide shade. The wallow is protected from direct exposure to sunlight. This reduces evaporation. The cover of banyan trees (Ficus sp), buta-buta (Excoecaria agallocha) and gebang (Corypha utan) dominates this area. Grass (Gramineae) is still green around the wallow.

 The wallow in Tegalbunder (Figure 1) is a wallow with an elevation of several cm above sea level at the highest tide that is still active in the dry season (August 2026). The savanna field is still green. The basin area of Gilimanuk Bay (Grid J7) bordering the mangrove, the grass is also green and growing lush (Figure 2). In this area on the mangrove mud section, tracks of monkeys (Macaca fascicularis), wild boar to deer were found. Even in the mud basins in the mangrove area also become wallows for boars and salt-licking places for deer.

Figure 3. A water wallow in the Tegalbunder savanna. Photo taken on August 13, 2026 – TNBB Document.


Who are the users of the wallows?

The users of wallows in the TNBB area are wildlife. Ranging from insects to large mammals. Insects that are often encountered are butterflies (order Lepidoptera), dragonflies (order Odonata), and bees (Apis sp). Monitor lizards (Varanus sp), lizards (Suborder Lacertilia or Sauria) and snakes (Suborder Serpentes) represent reptiles that are often found around wallows. All aves, both birds and jungle fowl, gather in the area around wallows. Aves often use trees in the wallow area as a place to "perch" and even as a place to live/nest.

The main users of wallows in the TNBB area are large mammals such as Wild Boar, Deer, Barking Deer, Giant Squirrel (Ratufa bicolor), Treeshrew (Order Scandentia), Long-tailed Macaque (MEP), and Langur (Trachypithecus auratus). They leave traces in the form of footprints when utilizing the wallows.

Special note. The users of wallows in the TNBB area are not only wildlife. Domesticated animals such as cattle (Bos domesticus) are found grazing in the savanna where there are wallows. Why does this happen? It will be discussed on another occasion.

Why wallows?

Wildlife utilize wallows in the TNBB area for: 1). Drinking. In addition to being fulfilled from the water contained in the food material eaten, wildlife requires direct water intake into its body. To avoid dehydration, considering that the body of biological creatures mostly consists of water.; 2) Cooling the body temperature of wildlife. Birds also submerge (soak) in the wallow water. Mammals such as pigs like to submerge themselves in wallows. Submerging temporarily in water functions to lower the body temperature of wildlife.; 3) Wallow mud can function as skin care especially for animals with no fur to sparse fur, such as pigs. The purpose is to prevent cracked skin.; 4) Repelling insects or parasites. I have never seen deer wallowing in wallows except to drink. To reach the water in the wallow, deer's legs often have to enter the wallow. Even to the point of leaving footprints. The soles of the feet will be covered with wallow mud. This is suspected to prevent parasites and hoof disease. Similar function as skin care; 5) Camouflage. The body of wild boar covered with dried mud helps to disguise it from predators such as Python Snakes.; 6) Relaxation. Soaking in a wallow is the same as Rusa timorensis crossing from Menjangan Island to Brumbun and vice versa, which is to make muscles relax.; 6) Salt licking. To meet the need for salt minerals (alkali) in the body, Rusa timorensis are seen visiting brackish water wallows around the mangrove.

Wallows are mini wetlands

The wallows inside the West Bali National Park (TNBB) area are wetlands. These wallow wetlands are highly influenced by the season. In the rainy season, the wallows are full of water. In the dry season, the water in the wallows decreases and even dries up. Freshwater material is a characteristic feature of purely terrestrial wallows. 

        The wallows in the mangrove area are highly influenced by the tides. The wallows in the mangrove can be seen during low tide. Water basins are often imprinted on the edge of the mangrove near the mainland. This means the wallows are only filled during the highest tide. These wallows are very productive (used) during the dry season, when the wallows on land dry up. The material is brackish to saline water.

Figure 4. Shows the role of the wallows in maintaining the ground surface with a dominance of grass that remains green. The presence of this grass is evidence that the soil in this savanna remains moist due to the presence of freshwater. Freshwater gathers in the wallows, and some of it remains tightly bound to the soil which is utilized by the grass to stay alive.

Figure 4. Mini wetland in Grid J7 Tegalbunder – West Bali National Park. Photo August 13, 2026 – TNBB Document.