PENYU MASIH ADA
DI TAMAN NASIONAL BALI BARAT (Bagian 3)
Isai Yusidarta, A. Triyono, A. Kusdyana, W.
Arfianto, Sugiarto, Jun. Wy
Mandat Penetapan Taman Nasional Bali Barat
Berdasarkan mandat Penetapan Taman Nasional Bali Barat (TMBB) di aatas bahwa perairan TNBB yang terdiri dari terumbu karang (Coral Reef), ikan di terumbu karang, dan penyu disertai hiu menjadi tolok ukur keberhasilan 3 pilar konservasi yaitu perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan. Penekanan penting bagi kawasan perairan TNBB adalah dapat dikembangkan sebagai obyek wisata bahari, penelitian, ilmu pengetahuan dan pendidikan.
Sebaran Penyu di TNBB.
Hasil
monitoring sebaran penyu di kawasan TNBB menunjukkan bahwa : 1) Seluruh
perairan konservasi menjadi habitat penyu.: dan 2) Pesisir pantai berpasir
menjadi lokasi bersarang (telor) dan menetasnya tukik untuk secepatnya menuju
ke laut. Mulai perairan Selat Bali (Cekik) – Prapat Agung – Banyuwedang –
Banyumandi – Pulau Menjangan beserta pasir laut di pesisirnya merupakan daerah
jelajah penyu.
Monitoring
dilaksanakan pada tanggal 16 – 21 September 2026. Metoda yang digunakan : 1) Wawancara
kepada stakeholder pengguna langsung kawasan perairan (nelayan, guide dan
wisatawan diver -snorkler) dan pengelola wisata di pesisir pantai.; 2) Nglalar yaitu
jelajah pesisir pantai pagi dan malam hari.; dan 3) Penyelaman di lokasi yang
dilaporkan terjadi perjumpaan penyu dengan guide dan wisatawan.
Perjumpaan
langsung penyu tertinggi di perairan terjadi Perairan Pulau Menjangan.
Perjumpaan langsung sarang penyu tertinggi di pesisir Kotal (Nusa Bay).
Sedangkan di pesisir selat Bali (Cekik ke arah selatan) juga terjadi pelaporan
adanya pendaratan penyu bahkan ada resort wisata yang melakukan penetasan semi
alami. Pesisir Teluk Terima melaporkan adanya penemuan sarang telur penyu
disertai foto penyu bertelur.
Pulau Menjangan
Pusat wisata
perairan di TNBB adalah perairan Pulau Menjangan. Jualan obyek daya tarik
wisata alam (ODTWA) tertinggi adalah Pulau Menjangan. Kunjungan tertinggi wisatawan
adalah perairan Pulau Menjangan. Mengapa? Karena perairannya ideal untuk wisata
bahari. Karena banyak yang bisa disaksikan termasuk Rusa timorensis di
savana Pulau Panjang. Karena banyak yang bisa dilakukan yaitu snorkling,
diving, tracking savana dan wisata religi. Artinya banyak yang bisa dinikmati. Secara
rapid asessment harus diakui bahwa perairan Pulau Menjangan layak untuk
pengembangan wisata bahari.
Bagaimana
penghuni perairannya? Terumbu karang dan ikan tersedia sebagai ODTWA yang lebih
settlement (lebih bisa menetap). Walaupun lebih motion (bergerak),
penyu sebagai ODTWA mahkota wisata mudah dijumpai. Guide sering melaporkan
perjumpaan dengan penyu melalui media sosial masing-masing. Tentunya dibagi
dengan wisatawan diver maupun snorkler yang passti akan memasang status di
media sosial masing-masing.
Belum dan
sampai saat ini bukti dan laporan resmi penyu mendarat dan bertelur di pesisir
Pulau Menjangan, belum ada. Walaupun di bagian belakang (utara) terdapat pasir
putih di pesisir pantainya, dan samar-samar ada pembicaraan memungkinkan penyu
mendarat dan bertelur. Bahkan searching media sosial yang memasang penyu
mendarat dan bertelur belum menghasilkan informasi valid (belum ada bukti
dokementasi). Artinya dapat diduga penyu menjadikan perairan terumbu karang
Pulau Menjangan sebagai tempat bermain dan tempat tinggal dan pesisir Pulau
Menjangan tidak (belum) sebagai tempat
bersarang – bertelur – menetas. Tim Monitoring Sebaran Penyu tidak mendapatkan
informasi, bahkan tidak menjumpai langsung penyu bertelur di pesisir Pulau
Menjangan.
Pusat Wisata Penyu.
Pendapat saya
bahwa perairan Pulau Menjangan sebagai pusat wisata penyu, sebenarnya
didasarkan mudahnya diver dan snorkler bertemu penyu. Saya sendiri setiap ke
Pulau menjangan ketika snorkling dan diving selalu bertemu penyu tiap sesi
terjun ke perairan Pulau Menjangan. Pernah saya snorkling selama 1 jam pada
pukul 06.00 – 07.00 wita bertemu 5 individu penyu.
Cek dengan cermat di medsos yang bercerita perjumpaan dengan penyu. Tidak perlu di kolom perairan, di permukaan perairan rombongan wisatawan dari Banyuwangi mengabadikan sepasang penyu yang sedang kawin. Bahkan medsos Indonesia_traveler, sering menampilkan perjumpaan penyu. Mencermati akun instagram yang berkaitan lokasi Pulau Menjangan, Bali banyak yang meng-upload perjumpaan penyu.
Gambar 1. Biro perjalanan menjadikan perjumpaan wisatawan dan penyu di perairan Pulau Menjangan, TNBB sebagai branding pemasaran di media sosial.
Hasil
pengamanan medsos dan monitoring dapat diduga bahwa perairan Pulau Menjangan
merupakan habitat penyu khususnya penyu sisik dan penyu hijau. Ini valid karena
tingkat kunjungan wisatawan terpusat di perairan Pulau Menjangan, sehingga
laporan perjumpaan penyu adalah linier.
Apakah Penyu Menetap?
Penyu
termasuk satwa dengan daya jelajah tinggi. Mampu berkelana dengan berenang ke
laut luas dan berumur panjang. Apakah penyu juga bisa menetap di area tertentu?
Pengalaman
saya di perairan TN kepulauan Seribu khususnya Pulau Kelapa Dua selama 3 tahun
lebih, menjumpai 1 ekor penyu yang menetap di rongga di bawah batu penunggul (karang
massive besar) di sisi kanan dermaga SPTN Wilayah I Pulau Kelapa. Diving
siang hari di tempat itu tidak diketemukan penyu tersebut. Night dive menemukan
penyu tersebut. Hal ini terjadi berkali-kali. Selama bertugas disini, seminggu melaksanakan night 3 dive kali dengan
hari yang berbeda di sekitar area tersebut sambil sekedar mencari lauk untuk
makan. Hal ini bisa dilihat di IG saya : yusidartaisai.
Keberadaan
PT. Lucky Samudra dengan usaha budidaya utama Marukoban (Ikan Bawal
Bintang sirip pendek), menjadi tempat perjumpaan penyu yang sangat mudah. Pagi,
siang dan sore mudah menjumpai (penyu di areal budidaya tersebut. Semakin mudah
ketika waktu pemberian pakan. Penyu mengelilingi karamba, dan memakan pakan
yang keluar dari karamba. Pemberian pakan ini berlangsung terus menerus setiap
hari (2 kali sehari).
Artinya? Penyu pun bisa menetap (settlement) pada malam hari dan berkelana di area sekitar yang dapat dijangkau pada saat matahari terbit, serta kembali untuk tinggal pada malam hari. Hal ini didukung sumber pakan yang mudah di dapatkan dan melimpah.
Apakah Penyu Menetap di
Perairan Pulau Menjangan?
Pertanyaan
diatas, pastinya banyak berharap dijawab secara ilmiah melalui penelitian oleh
ahli, pakar, dan peneliti baik dari akademisi maupun lembaga penelitian pemerintah
dan independen. Sebelum itu tersedia, saya selaku personil dari management authority
(BTNBB) memberikan pertimbangan pemikiran analogi bahwa mahluk hidup
mempunyai insting menuju dan menetap di suatu daerah jika kebutuhan hidupnya
terpenuhi (secara keseluruhan animal welfare-nya didapatkan penyu),
terutama pakan. Pun demikian, manusia jika kebutuhan hidupnya terpenuhi di
suatu daerah, pasti akan menetap di daerah tersebut. Rusa di musim kemarau,
mendekati area kubangan air yang tersisa dan masih menyediakan rumput (tidak
harus hijau segar) atau pohon tingkat semai dan pancang yang masih bisa
dijangkau daunnya.
Saya dapat
memberikan keterangan bahwa ada 3 kunci pengelolaan yang dilaksanakan BTNBB
yang memberikan kenyamanan penyu untuk menjadikan perairan Pulau Menjangan
sebagai habitatnya dan menempatkan spesies penyu sebagai salah satu nice
(relung hidup) dalam rantai makanannya di perairan Pulau Menjangan. Ketiga kunci adalah:
1.
Pengelolaan Wilayah
2.
Pengelolaan Zona
3.
Kegiatan Tapak
Pengelolan
wilayah telah menempatkan Pulau Menjangan dan
perairannya pada resor wilayah tersendiri dan terpisah dari daratan utama.
Kajian resort konservasi yang telah disusun sebagai dokumen pengelolaan yang
akan diajukan di tahun 2026 pun semakin menempatkan Pulau Menjangan dan
perairannya lebih spesifik dengan mengurangi beban perairan di Teluk
Banyuwedang yang terletak di pulau utama (daratan Pulau Bali). Kondisi ini
menempatkan personil resor, fokus pada Pulau Menjangan dan perairannya.
Pengelolaan wilayah ini menjadikan resor Pulau Menjangan berbasis tipologi
resor perairan dan pulau mikro.
Pembagian
wilayah pengelolaan ini, mendukung personil resor wilayah Pulau Menjangan untuk
berkonsentrasi dalam lingkup yang terpusat pengelolaan keanekaragaman hanyati perairan
dan pulau mikro dalam pilar perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan. Personil
dapat memastikan pengawasan secara menyeluruh dalam jangkauan panca indera
manusia (petugas) untuk memastikan kondisi resor wilayah yang dipangkunya
berjalan dalam dinamika alam. Personil resor wilayah akan dengan cepat, efektif
dan efisien dalam menggagalkan dan mengeliminasi intervensi manusia yang dapat
merusak dinamika alam perairan Pulau Menjangan.
Pengelolaan
Zona dalam sistem zonasi menempatkan perairan Pulau
Menjangan sebagai zona pemanfaatan. Perairan yang berada
di dalam garis pangkal daratan Pulau Menjangan di masukkan ke dalam zona
pemanfaatan terkhusus wisata bahari. Perairan yang di luar dari garis pangkal
Pulau Menjangan sebagai area di luar kawasan TNBB (Peta zonasi terlampir) yang hanya berjarak tempuh 5 menit dari dari Pulau Menjangan. Zona pemanfaatan terkhusus pariwisata
membantu pencegahan eksploitasi sumber daya ikan dan perairan lainnya di dalam
garis pangkal Pulau Menjangan.
Membandingkan peta kawasan TNBB dengan peta kawasan Taman Nasional Karimunjawa (TNKj) dan Peta Taman Nasional Kepulauan Seribu (TNKpS) sangat berbeda dasar pemikirannya. Peta kawasan TNBB pada kawasan perairan sepertinya menggunakan prinsip garis pangkal pulau (mirip peta Kepulauan Negara Kesatuan Republik Indonesia), sehingga menyusuri garis pangkal pulau sehingga tidak garis lurus seperti di TNKj dan TNKpS. Perairan di luar garis pangkal (di luar kawasan TNBB) pun tidak jauh dari pulau Menjangan dan tidak jauh juga dari Teluk Kotal. Rata-rata 5 menit jarak tempuh lurus dari daratan Pulau Menjangan mapun Tanjung Kotal.
Gambar 3. Posisi Pulau Menjangan dengan zona pemanfaatan (di dalam garis pangkal perarian) dan perairan di luar kawasan TNBB (diluar garis pangkal perairan)
Area perairan yang berada di luar garis pangkal Pulau Menjangan memberikan ruang
nelayan masyarakat sekitar kawasan untuk dapat mengambil hasil laut tanpa harus
mendekati habitat penyu di perarian Pulau Menjangan. Penangkapan hasil laut di
area ini dengan menggunakan peralatan tradisional yang legal diharapkan
dapat mencegah eksploitasi berlebih dan masih mampu menyediakan pendapatan
bagi masyarakat sekitar kawasan TNBB. Artinya diharapakan terjadi keseimbangan
kelestarian alam dan pemenuhan kebutuhan masyarakat pesisir.
Kegiatan
Tapak yang dilaksanakan telah mendukung pengelolaan
wilayah dan zona. Kantor Resor Wilayah di Pulau Menjangan yang sekaligus
sebagai pos pengamanan telah didukung personil dalam kesiapsiagaan 24 jam.
Patroli malam rutin dilakukan, mengingat aktivitas nelayan berlangsung pada
malam hari. Belum pernah nelayan mendekati area habitat penyu di malam hari.
Nelayan selalu terpantau dari pos pengamanan ketika mendekati zona pemanfaatan
pariwisata. Patroli malam selalu berhasil melakukan penindakan secara tegas dan
humanis. Nelayan diberikan penyadartahuan area tangkap yang diperbolehkan
dengan peralatan tradisional yaitu di luar garis pangkal perairan Pulau Menjangan atau diluar kawasan TNBB yang hanya berjarak 5 menit lurus. Acapkali nelayan yang
“sedikit” melanggar membuat surat pernyataan untuk tidak lagi menagkap hasil
laut di zona pemanfaatan wisata dan biota yang dilindungi. Hasil patroli malam
ini pun diintegrasikan sebagai kegiatan smart patrol. Kegiatan tapak ini sudah
berjalan otomatis diantara personil Resor Wilayah Pulau Menjangan.
Gambar 5. Patroli malam secara humanis untuk penyadartahuan kepada nelayan untuk tidak menangkap cumi-cumi dan ikan di dalam zona pemanfaatan di dalam garis pangkal kawasan TNBB
Selain
patroli malam, patroli pengawasan pengunjung wisatawan menjadi urat nadi
kelestarian penyu. Pengunjung dihimbau untuk tidak menginjak karang, dan
mengambil biota laut (menyelamatkan ikan dari tenggelam di air laut).
Pengunjung hanya diperbolehkan mengambil foto/ video tanpa harus menyentuh
bahkan memindahkan biota laut. Termasuk tidak boleh menyentuh penyu serta
menghalangi jalan penyu menuju ke permukaan untuk mengambil udara memenuhi paru
– parunya.
Penebalan
kegiatan di atas merupakan reaksi dasar essensial dalam rangka menerapakan prinsip 3
pilar konservasi yaitu perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan dengan strategi
pemanfaatan yang mendukung usaha-usaha perlindungan dan pengawetan alam. Mengapa?
1) Perlindungan yang ketat memberikan ruang rantai
makanan dan jaring – jaring makanan terpelihara di perairan di dalam garis
pangkal Pulau Menjangan. Schooling fish masih sering terjadi bahkan
menjadi tontonan dan obyek daya tarik wisatawan. Schooling fish bahkan
terjadi di area dermaga pos 1. Daerah yang ketika pasang tertinggi hanya
kedalaman 5 meter. Fenomena shooling fish merupakan bukti rantai makanan
masih terpelihara (foto dan video di awal blog terlampir). Ubur-ubur kecil yang merupakan
makanan penyu mulai dari tukik tersedia melimpah dan sering kali dapat dijumpai
oleh wisatawan diving maupun snorkling.
Gambar 6. Schooling fish pun bisa menjadi background foto bawah air yang stylish di media sosial
2) Upaya pengawetan dengan memberikan
kesempatan nelayan dari masyarakat setempat untuk dapat mengambil hasil laut di
luar garis pangkal (luar kawasan TNBB) perairan Pulau Menjangan yang merupakan upaya
menyeimbangkan kebutuhan pendapatan masyarakat dan kelestarian di dalam garis
pangkal (zona pemanfaatan pariwisata) Pulau Menjangan. Kebutuhan manusia masih
terpenuhi tanpa mengganggu keseimbangan alam di dalam garis pangkal perairan
Pulau Menjangan. Bahkan ikan dan biota lainnya dapat berkembang di area di
dalam garis pangkal perairan Pulau Menjangan dan dapat spill over (merembet
keluar) ke luar garis pangkal perairan Pulau Menjangan. Sehingga populasi dan
jenis biota dalam tiap tingkatan rantai makanan dapat terjaga dengan baik.
Bahkan efek negatif kegiatan wisata di dalam garis pangkal perairan Pulau
Menjangan (kerusakan karang) telah dilakukan dengan melaksanakan pemulihan
ekosistem terumbu karang melalui transplantasi.
Gambar 7. Ikan kuwe yang difoto bersamaan schoolong fish di Pos 1 Pulau Menjangan (Gambar 5) merupakan ikan predator yang punya daya jelajah tinggi. Menjadikan ikan schooling fish kecil sebagai buruan. Jika ikan buruannya melimpah (tidak ditangkap nelayan) di zona pemanfaatan TNBB, ikan kuwe pun akan berkembang biak dan melimpah, akhirnya bisa spill over keluar kawasan TNBB
3) Pemanfaatan perairan di dalam garis pangkal
perarian (zona pemanfaatan pariwisata) Pulau Menjangan bertujuan untuk
memberikan pengetahuan, dan pendidikan kepada masyarakat (definisi taman
nasional menurut UU 32 Tahun 2024 atas perubahan UU Nomor 5 Tahun 1990) melalui
kegiatan wisata berbasis alam. Juga memberitahu dan membuktikan kepada
masyarakat dunia bahwa salah satu titik perairan di Indonesia tetap lestari
sejajar pembangunan masyarakat dan mengajak warga dunia agar dapat datang dan
menyaksikan bukti yang ada. Sekaligus mendapatkan pembiayaan untuk mengerakkan upaya
perlindungan dan pengawetan ibaratnya seperti menghidupkan mesin. Harus ada
bahan bakar dan biaya pemeliharaan dari mesin untuk dapat terus hidup dan tidak
ada kata berhenti (mati). Patroli sebagai esensi dasar perlindungan kawasan
TNBB (habitat – spesies – genetik), dan pengawasan penggunaan wilayah di luar kawasan yang dapat digunakan untuk pengambilan sumber daya perikanan sekaligus
penyadartahuan kepada masyarakat serta pemulihan ekosistem perarian sebagai
upaya pengawetan yang dilakukan. Berhentinya upaya perlindungan dan pengawetan
mengancam keberlangsungan kehidupan perairan Pulau Menjangan.
Gambar 8. Sikap humanis dalam pelaksanaan patroli ditunjukkan dengan tetap senyum dan pengajarkan aplikasi avenza dengan peta dasar kawasan TNBB untuk menunjukkan posisi stakeholder dalam beraktivitas di perairan Pulau Menjangan.
Kesimpulan
Kunci
utama penyu masih ada di Taman Nasional Bali Barat adalah personil dari management
authority telah melaksanakan tugas pokok dan fungsi yang membuat rantai
makanan di dalam garis pangkal perairan (zona pemanfaatan pariwisata) Pulau
Menjangan tetap terjaga dan pemenuhan kebutuhan sumber daya perikanan untuk
masyarakat di luar garis pangkal perairan Pulau Menjangan pun
terpenuhi.
Bergandengan
tangan dengan scientific authority (perguruan tinggi dan lembaga
penelitian) yang mempunyai tugas pokok dan fungsi untuk melakukan penelitian
tentang penyu di perairan Pulau Menjangan, Bali. Pencarian hasil-hasil
penelitian penyu di perairan Pulau Menjangan dan Taman Nasional Bali Barat
secara keseluruhan sangat minim bahkan boleh dikatakan belum pernah dilakukan.