Minggu, 13 September 2026

RUSA LESTARI DI PULAU MENJANGAN

 MENGAPA RUSA MAMPU BERTAHAN HIDUP DI PULAU MENJANGAN

Isai Yusidarta, Sugiarto dan Noorman - BTNBB

 

Keberadaan Rusa (Cervus timorensis) di Pulau Menjangan, menggambar homogenitas satwa di suatu pulau yang terletak di area khatulistiwa. Seratus delapan puluh derajat, berbeda dengan fakta bahwa di lintasan khatulistiwa terletak biodiversitas tinggi.


Rusa di Pulau Menjangan

Monitoring Rusa oleh petugas Balai Taman Nasional Bali Barat, pernah tercatat 286 ekor di Pulau Menjangan. Musim kemarau, Rusa yang minum di kolam minum buatan antara 80 – 120 ekor.


Gambar 1.  Rusa di Pulau Menjangan pada musim penghujan menikmati hijau savana. Diambil                                 Februari  2026 – Dokumen BTNBB.

Keberadaan Rusa di pulau seluas 175 hektar, merupakan mamalia herbivora satu-satunya yang merumput dan meramban. Jenis rumput yang di savana Pulau Menjangan adalah Teki (Cyperus brevifolius), Jampang (Themedia villosa), Lamuran (Cyperus sp), Jarum (Digitaria ciliaris), Duri (Bulbostylis puberula) dan Alang-Alang (Imperata cylindrica).

Daun-daun yang diramban berasal dari vegetasi Pilang, Walikukun, Kedondongan Hutan, Kalici dan Intaran. Acacia leucophloea  di Indonesia dikenal dengan nama pohon pilang atau kabesak menjadi penyelamat bagi Rusa disaat rumput mengering. Rusa memakan daun pilang baik langsung dari pohon yang masih rendah (semak) maupun dari ranting-ranting rendah yang bisa mereka jangkau. Daun ini mengandung protein kasar yang baik untuk menunjang nutrisi rusa. Spondias pinnata (yang dikenal sebagai kedondong hutan atau kecemcem) menyediakan sumber pakan dan cairan tambahan saat rumput alami di pulau berkurang. Schoutenia ovata (Walikukun atau Luhu) diramban oleh Rusa terutama pada tingkat semai atau pancang. Kalici (Caesalpinia bonduc) ramban alternatif Rusa pada tingkat semai (bibit/ anakan) dan daun-daun mudanya. Intaran (Azadirachta indica) dikenal juga sdengan nama Mimba diramban  terutama musim kemarau.

Vegetasi Pilang, Walikukun, Kedondongan Hutan, Kalici dan Intaran ketika sudah pada tingkatan pohon memberikan manfaat bagi Rusa untuk berteduh. Biji dari pohon-pohon di atas ketika jatuh di atas tanah dapat berkecambah dan tumbuh, sehingga menjadi  ramban ketika tingkat semai dan pancang bagi rusa.

Di pesisir Pulau Menjangan terdapat lamun yang seringkali dimakan oleh rusa. Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, dan Halophila ovalis, umum dijumpai sebagai tumbuhan sejati di wetland pesisir tersebut.

Kompetitor Rusa

Kompetisi memperebutkan sumber bahan makanan, selama ini belum terjadi. Rumput dan dedaunan yang dapat dijangkau hanya untuk memenuhi kebutuhan spesies Cervus timorensis.

Ruang hidup pun tidak memiliki saingan (kompetitor) sesama mamalia di daratan Pulau Menjangan. Predasi oleh karnivora tidak pernah diketemukan kasusnya. Petugas pernah menemukan beberapa ular Sanca Bodo di Pulau Menjangan dalam kegiatan monitoring satwa. Namun, belum pernah menyaksikan Rusa dimangsa Sanca. Informasi petugas, Sanca lebih memilih memangsa tikus.

Biawak merupakan predator yang dijumpai di Pulau Menjangan. Tidak pernah menjadi predator Rusa sekalipun anak rusa. Biawak menempati ruang mangrove dan pesisir pantai. Tidak pernah dijumpai di area savana terutama musim kemarau.

Warna vegetasi hijau (ketika musim kemarau) diperankan oleh daun dari mangrove yang tumbuh di beberapa area pesisir pantai Pulau Menjangan.

Ruang hidup Rusa di Pulau Menjangan dikurangi oleh bangunan tempat ibadah, perkantoran dan sarana wisata. Koridor laut menuju juga terganggu oleh lalu lalang kapal wisata, terutama setelah matahari bersinar hingga tenggelam.

Peran Rusa Timor

Cervus timorensis di Pulau Menjangan berperan sebagai pengendali tanaman permukaan dan vegetasi tumbuh di daratan savana.

Mereka meramban dedaunan sejak dari tingkat semai vegetasi yang ada. Aktivis ini, membantu mempertahankan luasan padang savana yang ada. Vegetasi yang ada dominan tingkat pohon. Keberadaan vegetasi tingkat pancang dan tiang saya sulit ditemukan, kecuali untuk kelompok mangrove.

Kotoran (feces) Rusa yang menyebar di atas permukaan tanah Pulau Menjangan dapat diduga menjadi pupuk dan membantu rumput dan vegetasi pohon untuk hidup. Rumput dan vegetasi pohon pun menjadi sumber makanan bagi Rusa.

Rantai makanan terbentuk secara sederhana dengan melibatkan Rusa, rumput-vegetasi pohon, dan dekomposer. Faktor rantai makan ini yang menjadikan rusa masih bertahan di Pulau Menjangan.

Peran Manusia

Penetapan Taman Nasional Bali Barat sebagai kawasan pelestarian alam, maka Pulau Menjangan dan perairan di sekitarnya menjadi Resor Wilayah Pulau Menjangan dengan penempatan bangunan kantor resor dan keberadaan personil (pegawai/asn). Penjagaan 24 jam di Pulau Menjangan menghilangkan gangguan perburuan rusa dan mencegah kebakaran hutan dan lahan. Ketersediaan air minum bagi rusa pada musim kemarau pun terpenuhi di tempat minum satwa, walaupun terbatas.

Penetapan zona pemanfaatan di Pulau Menjangan memberikan konsekuensi menjadi destinasi wisata. Pada musim kemarau hanya khusus musim kemarau, para guide juga membantu memberikan air tawar untuk minum rusa di bak minum satwa. Rusa menjadi bagian obyek daya tarik wisata alam di Pulau Menjangan. Wisatawan menginginkan perjumpaan rusa ketika mulai menginjakkan kaki di pesisir pantai. Pemberian air tawar memberikan rasa nyaman rusa dan salah satu faktor mencegah rusa melakukan migrasi ke daerah Brumbun.


Gambar 2.       Rusa di Pulau Menjangan pada musim kemarau minum air tawar di bak minum satwa.                              Diambil September 2026 – Dokumen BTNBB.



 Gambar 3 .        Pemberian minum untuk Rusa di Pulau Menjangan pada musim kemarau oleh                                           pemandu wisata. Foto diambil September 2026 – Dokumen BTNBB




























































2 komentar:

Anonim mengatakan...

Nama ilmiah rusa timur berubah dari _Cervus timorensis_ menjadi _Rusa timorensis_ karena perubahan klasifikasi genus berdasarkan bukti genetik dan taksonomi modern.

*Intinya: dipindah genus, bukan spesiesnya*

1. *Dulu digabung ke _Cervus*_
Dahulu rusa-rusa Asia Selatan termasuk rusa timur, rusa sambar, dll dimasukkan semua ke dalam genus _Cervus_ yang isinya rusa-rusa tipe "rusa merah" dari Eropa/Asia Utara.

2. *Bukti genetik memisahkannya*
Penelitian filogeni dan DNA menunjukkan bahwa kelompok rusa Asia Selatan ini punya hubungan kekerabatan yang berbeda dan lebih cocok ditempatkan di genusnya sendiri.
Genus _Rusa_ sebenarnya sudah diusulkan sejak 1827 oleh C. H. Smith, dan kata "Rusa" sendiri berasal dari bahasa Melayu yang artinya "rusa".

3. *Kapan mulai dipakai luas*
IUCN mulai resmi menggunakan nama _Rusa timorensis_ pada tahun 2018. Sekarang nama itu yang dipakai di literatur ilmiah, Wikipedia, dan daftar IUCN. 9064a4c5cad407a2

*Jadi perubahannya:*
- Nama lama: _Cervus timorensis_ Blainville, 1822 → masih tercantum sebagai sinonim
- Nama baru: _Rusa timorensis_ (Blainville, 1822) a160

Spesiesnya tetap sama, cuma "marga"-nya dipindah dari _Cervus_ ke _Rusa_. Di dalam genus _Rusa_ sekarang ada 4 spesies: _R. timorensis_, _R. unicolor_ sambar, _R. marianna_, dan _R. alfredi_. 9064

Singkatnya, perubahan ini biar klasifikasinya lebih sesuai dengan pohon kekerabatan aslinya, bukan cuma berdasarkan bentuk fisik luar.

Anonim mengatakan...

Terima kasih telah berbagi informasi perubahan nama ilmiah dari Rusa ini