Senin, 02 November 2026

Ulva sp Si Selada Hijau

 

Video 1. Wawancara dengan Ibu Penjemur Ulva di Gilimanuk. Doc. TNBB - Juli 2026

SI HIJAU SELADA AIR (ULVA SP) DARI TELUK GILIMANUK

Oleh : Isai Yusidarta dan Nanang

 

Taman Nasional adalah Kawasan Pelestarian Alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi, serta dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, penunjang budi daya, dan pemanfaatan kondisi lingkungan.

 

Berbicara tentang Teluk Gilimanuk, Taman Nasional Bali Barat (TNBB) tidak hanya ikan, kerang, mangrove, lamun dan sun rise. Alga (ganggang hijau) keberadaannya melimpah, terutama  ketika musim kemarau panjang. Tersedia bahan baku yang dapat diusahakan untuk dijual, ketika hasil pertanian dan kebun tidak optimal diusahakan. Alam perairan dangkal Teluk Gilimanuk menyediakan Ulva sp yang dapat menambah pendapatan masyarakat.

Ulva sp sering disebut dengan selada laut (dengan bentuk pipih tipis dan lebar), termasuk kelompok makro alga hijau. Di pasar Gilimanuk sering dijual ulva mentah segar yang sudah dicuci sebagai sayuran dari laut. Masyarakat Gilimanuk sering memanfaatkan ulva untuk sayur urap yang dapat dimakan mentah setelah dicuci dengan menambahkan sambal kelapa dan kemudian dicampur. Selanjutnya dimakan dengan nasi dan dilengkapi dengan lauk berupa ikan asin. Ulva juga sering dimasak tumis oleh masyarakat Gilimanuk

Gambar 1. Pakaging rengginang dan stick ulva. Doc. TNBB - Oktober 2026

Klasifikasi Ulva sp

Berdasarkan kajian ilmiah (Scientific base) taksonomi Ulva sp dapat digambarkan dengan urutan seabgai berikut :

·      Kingdom/Regnum: Plantae (atau Protista/Chromista dalam beberapa taksonomi modern)

·      Divisi/Filum : Chlorophyta (Ganggang hijau)

·      Kelas/Class: Ulvophyceae

·      Ordo/Order: Ulvales

·      Famili/Keluarga: Ulvaceae

·      Marga: Ulva

·      Spesies: Ulva sp. (salah satu spesies yang paling umum adalah Ulva Lactuca)

Hasil penelitian (febriyanti., dkk, 2026) Ulva di perairan Pulau Kalong adalah talus berbentuk pipih, bermembran, seperti selaput tipis, mudah robek/rapuh, transparan, tidak memiliki gerigi pada tepiannya. Ukuran panjang dan lebar talus 100-300 cm. Warna hijau pucat hingga terang. Warga lokal sering menyebutnya dengan Ulva seprei atau Ulva gorden. Ulva ini hidup menempel pada pasir padat atau batu karang dengan talus yang melayang-layang. Pulau Kalong merupakan daratan berupa hutan mangrove dan cukup jauh dari area pemukiman ataupun aktivitas warga sehari - hari. Hasil pengecekan kualitas air, mendapatkan hasil kandungan oksigen terlarut cukup tinggi yaitu 10,2-11,4 mg/l. Sementara kandungan oksigen terlarut ideal pertumbuhan makroalga yaitu 6,1 – 8,0 mg/l.

Di Takad Burung, Teluk Gilimanuk dan Selat Bali, TNBB, diketemukan Ulva dengan talus pipih, kaku, berbuku-buku atau berumpun, tepian talus sedikit bergerigi atau bergelombang. dan berwarna hijau metalik yang kuat keperakan (glossy) dengan ukuran panjang dan lebar talus 10 – 25 cm. Kandungan oksigen terlarut di Takad Burung yaitu 7,7-7,8 mg/l.

Gambar 2. Ulva yang dipanen dari Perairan Pulau kalong dan Takad Burung. Doc. TNBB - Juli 2026

Lokasi Tumbuh Ulva di Teluk Gilimanuk

Jenis substrat di Takad Burung adalah pasir berbatu (pecahan karang) sedang di Pulau Kalong adalah pasir. Pada umumnya di perairan substrat berpasir, berbatu dan berbatu karang merupakan lokasi pertumbuhan ulva yang cocok. Rhizoma dari Ulva memerlukan substrat keras untuk menempel dan kemudian berkembang menumbuhkan rhizoma yang baru.

Lokasi Pulau Kalong merupakan kawasan Taman Nasional Bali Barat di dalam sistem zonasi taman nasional termasuk ke dalam zona tradisonal. Sedangkan Takad Burung terletak di pintu masuk Teluk Gilimanuk merupakan area lalu lintas perahu nelayan dan berdampingan (dekat) dengan aktivitas Pelabuhan GIlimanuk dan penambatan kapal nelayan di Waterbe dan base camp kelompok nelayan Teluk Asri.

Perkembangan Ulva di Teluk Gilimanuk sangat bergantung pada musim. Musim kemarau Ulva tersedia melimpah untuk dipanen nelayan. Setelah musim hujan berhenti, Ulva yang berkembang di perairan Pulau Kalong dan Takad (Gosong) Burung, Teluk Gilimanuk mulai dipanen oleh masyarakat. Masyarakat mulai memanen ulva pada bulan Mei walaupun masih terbatas dan berakhir mulai datangnya musim hujan di bulan Oktober bahkan jika kemarau panjang bisa mencapai bulan Nopember. Masyarakat mengatakan bahwa ketika air hujan (tawar masuk ke perairan Gilimanuk, maka ulva tidak dapat tumbuh optimal dan pada musim hujan puncak berarti ulva tidak dapat diketemukan di Teluk Gilimanuk.

Pemanfaatan Ulva Sebagai Bahan Mentah

Masyarakat yang menetap di Gilimanuk dan masyarakat transit memanen ulva dari wilayah Teluk Gilimanuk, TNBB terutama di titik Pulau Kalong dan Takad Burung (Gosong Pulau Burung). Memanen ulva sangat mudah. Masyarakt memanen ulva dengan peralatan sederhana yaitu serok jaring dan perahu jukung. Mengapa perahu jukung? Memudahkan mencapai lokasi di perairan dangkal.

Gambar 3. Nelayan memanen ulva menggunakan perahu kecil dan serok. Doc. TNBB - September 2026

Nelayan memanen ulva sebanyak 1 – 2 kali sehari. Ada sepasang suami isteri yang ulet yang saya saksikan. Pagi hari si isteri menjemur ulva yang diambil kemarin sore. Pagi ini si suami pergi ke Pulau Kalong untuk memanen ulva. Sehingga dari 2 kali pemanenan, maka bia mendapatkan hasil. Keterangan masyarakat sekali mengambil ulva basah, mereka dapat menaikkan ke jukung sebanyak 1 – 2 ton. Waktu yang diperlukan hanya beberapa jam.

Ulva kemudian dijemur dibawah terik matahari selama 1 siang penuh (± 10 jam). Berat basah sekitar 1 ton setelah kering menjadi 1 kuintal. Harga Ulva kering adalah Rp 2.000,00 per kg. Jadi dengan 1 kuintal ulva kering, maka didapatkan uang Rp 200.000,00. Jika ada yang memanen ulva pagi dan sore hari maka akan mendapatkan hasil Rp 400.000,00. Tidak setiap hari nelayan memanen ulva. Ada yang 3 hari memanen ulva, kemudian sehari libur. Ada yang memanen dari Senin – Kamis, Jum’at libur dan Sabtu – Minggu memanen kembali. Bahkan ada yang memanen Sabtu – Kamis dengan hari Jum’at libur. Rata – rata hari Jum’at banyak yang libur memanen ulva, kemungkinan karena sebagian besar nelayan nelayan di Teluk Gilimanuk memeluk Islam. Jadi kita ambil rata -rata bahwa seminggu mereka mengolah  ulva (panen – kering) selama 5 hari. Maka penghasilan mereka berkisar Rp 1.000.000,00 sampai dengan Rp 2.000.000,- per minggu. Sebulan bisa mencapai Rp 4.000.000,00 sampai dengan Rp 8.000.000,00.

Gambar 4. Penjemuran ulva di Gilimanuk. Doc. TNBB - Juli 2026

Nelayan yang terlibat dalam pemanenan ulva yang memegang KTP Kelurahan Gilimanuk sekitar 20 orang. Mereka menetap di Gilimanuk dengan profesi murni nelayan. Memanen ulva terutama pada musim kemaru sebenarnya sebagai usaha sampingan. Pekerjaan pokok adalah meangkap ikan di Teluk Gilimanuk dan perairan Selat Bali.

Namun ada juga orang yang memanen Ulva tetapi  tidak berKTP Gilimanuk. Saya menjumpai seseorang yang memanen ulva dan mengeringkan ulva, yang saya sebut sebagai nelayan transit. Orang tersebut berasal dari Makasar dan bersuku Bugis. Menurut keterangannya, ia memanfaatkan waktu memanen dan mengeringkan ulva sambil menunggu kapal “perintis” yang akan mendarat di pelabuhan Gilimanuk untuk menuju ke Kalimantan atau kembali ke Sulawesi Selatan (Makasar). Ia memang sengaja berangkat dari Makasar ke Gilimanuk dengan kapal ”perintis” karena ia tahu di Teluk Gilimanuk bisa mendapatkan uang dengan memanen ulva dan mengeringkannya. Di Gilimanuk, ia menumpang tidur di rumah kerabatnya, atau tidur di sigepat sekitar tempat mengeringkan ulva jika tidak mempunyai atau sungkan tidur di saudara. Ia mengenal pula pengepul yang akan mengambil ulva kering miliknya. Ketika musim hujam tiba ia sudah kembali ke Makasar di rumah tempat tinggalnya untuk menjalankan profesi nelayan.

Video 2. Seorang pemanen dan penjemur ulva yang berasal dari Makasar. Mengisi waktu sambil menunggu kapal perintis kembali ke Makasar. Bukan warga berKTP Gilimanuk. Doc. TNBB - September 2026.

Nelayan Ulva Sebagai Buruh Pekerja

Menurut keterangan nelayan, Ulva kering sehari akan diambil oleh pengepul di Gilimanuk. Oleh pengepul akan dikirimkan ke pedagang besar (exportir) Surabaya. Oleh pedagang besar pada umunya akan di ekxpor ke Tiongkok dan Taiwan. Jika dilihat dari upah yang diterima masyarakat maka, masyarakat bisa disandingkan sebagai buruh kerja. Mengapa? Masyarakat tidak perlu mengeluarkan effort untuk menanam, dan memelihara ulva. Masyarakat hanya memanen dan mengeringkan ulva serta mengemas kedalam kantong – kantong pengepakan. Artinya nelayan tidak memproduksi ulva apalagi mengolah ulva menjadi barang jadi. Nelayan hanya mengeluarkan tenaga dan bahan bakar untuk memanen ulva dan mengeringkan. Upah Rp 200.000,- hanya lebih sedikit dibandingkan upah pekerja tukang bangunan di Gilimanuk.

Pemanfaatan Ulva Sebagai Hasil Olahan

Beberapa masyarakat yang tergabung dalam kelompok Srikandi dibawah arahan penyuluh Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Jembrana, Balai TNBB dengan supporting dari manajemen Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) Gilimanuk melakukan pengolahan ulva menjadi produk jadi siap makan. Produk jadi tersebut berupa stick ulva dan rengginang ulva.

Pemasaran produk ini baru pada pemenuhan event – event pameran, pemesanan yang sudah pasti diambil (dibayar) dan souvenir camping di Karangsewu. Belum berani memproduksi dalam skala produk edar memenuhi dan bersaing dengan pasar produk yang sama tetapi bahan baku lain. Sekali memproduksi rengginang ulva hanya menghasilkan dibawah 100 kg rengginang kering. Sedangkan stick ulva sekali produksi masih dibawah 25 kg. Kondisi ini mengingat bahan baku lainnya seperti beras ketan dan tepung lebih dominan, sedangkan ulva digunakan sebagai pembeda dari produk rengginang dan stick sejenis. Bumbu dan rempah – rempah lainnya sama dengan produk yang sejenis.

Harga yang ditawarkan masih terjangkau sebagai makanan camilan yaitu Rp 10.000,00 perbungkus dengan berat @250 gram. Kelompok pengolah ulva yaitu Srikandi beranggotakan wanita yang merupakan isteri nelayan di Teluk Gilimanuk.

Gambar 5. Pembuatan rengginang ulava oleh kelompok Srikandi. Doc. TNBB - Juli 2026

PEKERJAAN RUMAH PENGELOLAAN ULVA

Hasil berbagai penilitian menunjukkan bahwa ulva mempunyai banyak manfaat di bidang kesehatan, pangan, kosmetik, bioremediator, energi terbarukan dan industri pertanian dan perikanan. Secara  lebih rinci ulva di Teluk Gilimanuk berpotensi sebagai antihipertensi, pembentuk antibodi, sumber energi, mencegah penyakit kardiovaskular, anti obesitas, anti hiperlipidemia, kekebalan tubuh, antioksidan, antimikrobia, antirematik, anti virus, suplemen, antiinflamasi, antikanker, industri kosmetik, antiaging dan moisturizing, pupuk organik, biostimulan tanaman, pakan segar hewan akutik, dan bioenergi.

Pemanfaatan Ulva sp. di Teluk Gilimanuk an Pulau Bali pada umumnya masih sangat minim. Ketersediaan Ulva sp. yang sangat bergantung musim yaitu musim kemarau. Kemampuan pengetahuan serta keterampilan masyarakat dalam melakukan pemanfaatan Ulva sp. menjadi penyebab masih belum optimalnya pemanfaatan Ulva secara ekonomis. Masyarakat tidak memiliki akses pasar untuk menjual langsung ke industri dan eksportir. Penentuan harga jual Ulva sepenuhnya ditentukan oleh tengkulak sehingga tergambar nelayan hanya sebagai tenaga kerja.

Upaya pemerintah dalam hal ini KKP bersama introsea pernah memberikan pelatihan pengelolaan dan pengolahan hasil panen Ulva kepada nelayan di Gilimanuk. Hasilnya berupa pengolahan ulva menjadi stick ulva dan rengginang ulva. Juga memberikan bantuan berupa peralatan untuk memisahkan butiran pasir yang masih menempel di ulva. Dengan peralatan ini maka berat murni hanya ulva dan bisa meningkatkan harga menjadi Rp 5.000,00 per kilogram ulva kering. Namun hanya digunakan beberapa kali. Masyarakat lebih memilih tahapan memanen, mengeringkan dan mengepak ke karaung tanpa memisahkan butiran pasir dengan ulva. Saya pernah mendengar dari suara beberapa orang bahwa lebih simpel begini dan tidak nambah kegiatan dengan memisahkan butiran pasir yang menempel di ulva.

Pemanfaatan ulva hanya sebatas digunakan sebagai sayur urap, pembuatan stick ulva dan rengginang ulva. Belum dimanfaatkan sebagai bahan campuran seperti mie ulva yang kemungkinan dengan manajemen yang baik akan menjadi bahan makanan favorit mengingat potensi kandungan ulva yang samat banyak, bahkan menjadi bioprospecting unggulan berdasarkan hasil penelitian

Gambar 6. Pembuatan stick ulva oleh kelompok Srikandi. Doc. TNBB - Juli 2026

PEKERJAAN RUMAH BAGI BTNBB

Selada air atau ulva yang bernilai tinggi tumbuh dan berkembang di perairan Teluk Gilimanuk dan terletak di zona tradisional terutama Pulau Kalong, menjadi kekayaan keanekaragaman hayati yang bisa langsung dimanfaatkan masyarakat bahkan menjadi bahan baku bioprospecting, maka TNBB dapat mencoba mengambil langkah – langkah sebagai berikut :

1.       Melaksanakan survei potensi lestari keberadaan ulva di lawasan Teluk Gilimanuk baik dilaksanakan sendiri maupun menggandeng pihak akademisi terdekat dibidang biologi laut bidang seaweed. Potensi lestari ini penting mengingat ulva sudah menjadi matapencaharian penduduk gilimanuk terutama pada musim kemarau.

2.       Membuka komunikasi dengan introsea (yang peran masuk dan memberikan pendampingan, bantuan dan pelatihan kepada masyarakat) dan UPT Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terutama BPSPL (Balai Pengelolaan Sumberdaya Perairan Laut) Denpasar untuk tukar informasi terkait pemanfaatan Ulva dan melakukan penyuluhan bersama penyuluh SPTN Wilayah I Jembrana, BTNBB untuk meningkatkan nilai ulva dalam pengolahan oleh masyarakat.

Video 2. Promosi Olahan Ulva oleh Kelompok Ekowisata Alam Karangsewu. Doc. TNBB - September 2026