Kamis, 17 September 2026

Cattle in the Karangsewu Savana - West Bali National Park (Part 1)

 SAPI DAN POHON WARU SAVANA KARANGSEWU

Isai Yusidarta dan Hery Kusumanegara

 

Kawasan Taman Nasional Bali Barat (TNBB) mempunyai beberapa titik area yang langsung berbatasan dengan rumah penduduk. Tidak lagi ada jalur batas kawasan yang memisahkannya dengan area hutan konservasi. Musim kemarau ini terlihat daun yang menghijau selebar 10 meter sejajar dengan rumah penduduk, memisahkan padang savana  yang kering pada musim kemarua ini.


Posisi Savana Karangsewu

Savana Karangsewu adalah satu-satunya savana (padang rumput) TNBB yang terletak berdampingan sejajar garis batas dengan rumah penduduk. Satu-satunya savana di area perkotaan, mengingat status administrasi kepemerintahan Gilimanuk adalah kelurahan di Kabupaten Jembrana.

Ada cerita, seseorang pernah memiliki kambing sampai 100 ekor diumbar (dibiarkan bebas) di savana Karangsewu. Ada yang memelihara sapi sampai 20 ekor diikat dan dikandangkan di savana Karangsewu. Pernah adanya pelarangan penggembalaan ternak di savana Karangsewu karena berbenturan dengan tempat bermain sepakbola anak-anak.

Gambar 1. Peternak mengikat induk sapi di savan Karangsewu dekat area mangrove, dimana masih ada rumput hijau walaupun lebar beberapa meter. Foto 18 September 2026 – Dokumen TNBB.


Pintu masuk nelayan sebelum menangkap ikan di perairan Karangsewu, Teluk Gilimanuk. Tempat nelayan memarkirkan dan menyimpan kapal. Tempat kelompok nelayan Teluk Asri, Karangsewu dan Segara Mertha mendapatkan akses di zona tradisional

Savana Karangsewu sekarang menjadi tempat wisata berbasis masyarakat yang sedang berkembang dengan camping dan campervan, area outbond dan bird watching khususnya Curik Bali atau Bali Mina.

Ternak di Karangsewu

Sebagian masyarakat Gilimanuk menganggap, Savana Karangsewu adalah padang gembalaan yang disediakan oleh Tuhan Allah. Hijaunya rumput terbuka sebelum musim kemarau adalah “rupiah berdaging” melalui sapi dan kambing. Dominasi sekarang ini adalah ternak sapi.




Ternak di Karangsewu

Sebagian masyarakat Gilimanuk menganggap, Savana Karangsewu adalah padang gembalaan yang disediakan oleh Tuhan Allah. Hijaunya rumput terbuka sebelum musim kemarau adalah “rupiah berdaging” melalui sapi dan kambing. Dominasi sekarang ini adalah ternak sapi.

Melihat hal ini, masyarakat Gilimanuk yang tinggal di sekitar savana Karangsewu, mengusahakan kegiatan peternakan. Mengapa kata “mengusahakan”? Fakta di lapangan menunjukkan bahwa ternak bukan mata pencaharian pokok, tetapi sampingan. Jika diperhatikan, maka :

1.       Selama matahari bersinar tidak menggunakan waktunya 100% merawat ternak.

2.       Mereka mempunyai pekerjaan lainnya, terutama untuk memenuhi kebutuhan harian.

3.       Ternak peliharaan tidak 100% milik mereka. Ada yang memelihara ternak orang lain (sistem gaduh).

4.       Mereka tidak punya kandang ternak di lahan milik sendiri, apalagi lahan penggembalaan pribadi.

5.       Tidak memungkinkan lagi memelihara ternak dalam jumlah masif. Berbenturan dengan lokasi sebagai bagian kawasan konservasi Taman Nasional Bali Barat.

6.       Ternak untuk pemenuhan jangka menengah, atau jika ternak milik sendiri adalah untuk pemenuhan insidental (mendadak waktunya)

Gambar 2. Lokasi penanaman waru di pinggir kawasan Karangsewu TNBB yang berbatasan dengan rumah penduduk. Foto 14 September 2026 – Dokumen BTNBB.


Hijauan Ternak

Musim kemarau padang rumput Karangsewu menguning dan kering. Rumput yang dekat sepanjang pantai Karangsewu dan mangrove yang masih menghijau dengan lebar beberapa meter (mengapa?). Ada kemungkinan evaporasi pada siang hari dan mengalami kondensasi pada malam hari. Jika diperhatikan dengan seksama di pagi hari area ini lebih basah. Ketika rumput dijilat rasanya tawar.

Musim kemarau menjadi tantangan menyediakan pakan. Sapi tidak lagi merumput (grazing) untuk memamahbiak. Peternak harus mencarikan hijauan daun agar perut sapi terisi. Kambingpun tidak bisa lagi meramban (browsing), vegetasi tingkat semai dan pancang harus menunggu musim hujan untuk tumbuh dari biji yang jatuh dari pohon. Akhirnya, sapi dan kambing berebut hijaun daun dari vegetasi yang “ada” (mengapa tanda kutip?). Pilihannya adalah mencari ramban daun dari vegetasi asli pohon yang dapat dimakan ternak atau menanam pohon pakan ternak. Kalau pilihannya menanam, berarti ditanam dimana? Mereka tidak punya lahan pribadi.

 Cerita Hibiscus tilliaceus

Tanggal 11 September 2026, gotong royong dengan KEAK (Kelompok Ekowisata Alam Karangsewu) memasang pipa PVC untuk mengalirkan air olahan bekas pendingin mesin PLTG Gilimanuk untuk menyiram savana dan pembibitan, saya bertanya : “Apakah pohon waru (Hibiscus tilliaceus) ini sudah ada sejak awal rumput savana tumbuh?”.

Gambar 3. Pohon waru yang ditanam terlihat sebagian telah dipangkas untuk pakan ternak. Tampak batang dan ranting yang menjulang tanpa daun. Foto tanggal 15 September 2026 – Dokumen TNBB.

Ternyata, pohon waru itu ditanam seseorang. Sejak awal yang ada hanya padang rumput, pohon bekul dan mangrove. Waru ditanam untuk menyediakan pakan sapi dan kambing pada musim kemarau. Waru dapat menaungi sapi yang dikandangkan ketika terik matahari dan hujan. Waru memberikan warna hijau ketika musim kemarau. Waru saat ini seperti menutupi rumah penduduk ketika memandangnya dari savana Karangsewu.

Gambar 4. Peternak meramban daun waru dari pohon yang ditanam di pinggir kawasan TNBB yang berbatasan dengan rumah penduduk. Foto 14 September 2026 – Dokumen TNBB.

Politis Pohon Waru

Tujuan utama penanaman waru adalah  untuk mencegah peternak mengambil hijauan daun dari vegetasi di kawasan hutan konservasi TNBB pada musim kemarau. Bisa dibayangkan ketika peternak meramban daun di kawasan TNBB, bisa mengakibatkan kematian vegetasi dan tanah menjadi kering pecah-pecah terpapar matahari langsung. Ketika hujan turun lebat tidak ada struktur daun bertingkat yang mengurangi energi kinetik air hujan sebelum mengenai tanah. Hal ini menyebabkan tanah dihantam energi kinetik air hujan secara langsung. Akibatnya tanah mengalami terkikis – erosi dan terbawa aliran air permukaan.

Keberadaan pohon waru bisa menjadi posisi tawar antara peternak dan BTNBB yaitu penyedia hijauan ternak dan menghindari pemangkasan daun pada pohon di TNBB.

Gambar 5. Motor dengan kondisi berbeda yang sama-sama untuk mengangkut ramban di tepi kawasan TNBB. Foto 17 dan 18 September 2025 – Dokumen TNBB


Apakah sapi-kambing bisa memiliki ruang legal

di kawasan konservasi savana karangsewu?


Tidak ada komentar: