Rabu, 28 Oktober 2026

Jerat Satwa Liar di Taman Nasional Bali Barat

 

JERAT SATWA DI TAMAN NASIONAL BALI BARAT

Isai Yusidarta, Ketut Widiantara, Apapanto Dwi dan Tim Smart Patrol SPTN Wilayah I Jembrana

Video 1. Tim Smart Patrol SPTN Wilayah I Jembrana menghancurkan jerat satwa. Dokementasi TNBB - Juli 2026


 Taman nasional adalah Kawasan Pelestarian Alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi, serta dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, penunjang budi daya, dan pemanfaatan kondisi lingkungan.


Berburu satwa adalah mata pencarian pada saat manusia hidup berpindah – pindah (nomaden) mengikuti ketersediaan hewan dan air, karena untuk memenuhi kebutuhan hidup. Manusia jaman batu tua mengandalkan berburu dan meramu untuk hidup adalah 100%. Senjata berburu terbuat dari batu, kayu, dan tulang binatang untuk berburu satwa dan mempertahankan diri.

Pada jaman manusia menetap saat ini, dapat diduga tujuan dari berburu 100% bukan untuk pemenuhan hidup, tetapi untuk hobi dan cenderung ada keinginan memuaskan keinginan diri sendiri. Kecenderungan menggunakan perangkat jerat satwa. Jerat satwa adalah alat untuk menangkap satwa melalui usaha tipu daya, jebakan, atau perangkap.

Alasan menjerat satwa

Penemuan jerat satwa di dalam dan di luar pinggiran (garis batas) kawasan Taman Nasional Bali Barat (TNBB) bermunculan dan semakin meningkat ketika mulai musim kemarau. Hasil smart patrol yang dilaksanakan personil TNBB menunjukkan bahwa pada saat musim penghujan sangat minim ditemukan pemasangan jerat.

Musim kemarau aktivitas pertanian musiman, perkebunan di area (desa) penyangga terganggu dengan ketersediaan air. Aliran dan sumber air berkurang hingga mengering. Hasil jagung yang melimpah pada musim penghujan, banyak ditunda penanamannya di musim kemarau. Artinya tanaman semusim tidak ditanam pada musim kemarau. Kalaupun ada yang menanam itu menggunakan sumur bor untuk mendapatkan air. Warga menjadi pengangguran tersembunyi. Ada juga yang berpindah profesi pekerjaan.

Beberapa oknum warga masyarakat mengusahakan pendapatan atau kebutuhan dapur dengan cara melakukan penangkapan satwa liar. Rusa, kijang, babi hutan, ayam hutan dan juga burung menjadi obyek yang ditangkap. Satwa yang ditangkap dijual dan ada yang dikonsumsi untuk kebutuhan rumah tangga.

Penggunaan jerat satwa juga meminimalkan, pemburu untuk tertangkap. Pemasangan jerat satwa , sangat jarang tertangkap tangan. Selain mengetahui dengan baik loasi pemasangan jerat, sudah pasti mereka tahu situasi dan kondisi area kawasan hutan sehingga memudahkan mereka memindah – mindahkan peralatan jerat satwa. Ketika mereka akan mengambil satwa hasil jerat, mereka menyamarkan diri sebagai pengambil madu hutan. Ketika bertemu petugas, mereka tidak jadi menengok jerat atau mengambil satwa hasil jerat dan ketika diperiksa hanya membawa perlengkapan berburu madu.

Di mana memasang jerat satwa

Jerat satwa dipasang di sekitar kubangan satwa, tempat ngasin satwa (mangrove) dan dekat lahan pertanian. Beberapa alasan lokasi tersebut dipasang jerat satwa, yaitu :

1.          Kubangan satwa merupakan tempat terakhir yang kemungkinan masih ada air. Walaupun kapasitas volume air menurun. Ketika air sudah mengering total tapi tanah masih lembab, biasanya ditumbuhi rumput. satwa liar seperti rusa dan kijang memanfaatkan rumput sebagian pakan.

2.          Area pinggir mangrove biasanya menjadi tempat ngasin rusa untuk memenuhi kebutuhan mineral esensial di dalam tubuhnya. Mamalia besar memerlukan garam untuk memenuhi unsur natrium dan essensial lainnya. Mengingat daun yang dimakan mengandung kalium yang sangat tinggi tapi rendah natrium.

Gambar 1. Pemasangan jerat satwa di alur jalan satwa ngasin di mangrove. Dokumen TNBB - Juli 2026


3.          Area menuju lahan pertanian sering diketemukan jerat satwa. Pada musim kemarau ketika lahan pertanian tanaman semusim menghijau berarti dilengkapi sistem pengairan melalui sumur bor. Hal ini menarik satwa babi hutan, rusa dan kijang untuk mencoba makan.

4.          Jalan yang diduga sebagai alur koridor satwa. Jalan ini merupakan koridor satwa untuk melakukan berbagai aktivitas seperti jam – jam mencari makan, kembali ke sarang ataupun tempat bermain. Atau bagi rusa dan menjangan adalah jalan masuk – keluar ke padang savana.

Gambar 2. Pemasangan jerat satwa di alur jalan koridor satwa liar. Dokumentasi - TNBB Juli 2026


Teknik Menangkap satwa dengan jerat.

Pemburu membuat alur jalan satwa yang diarahkan ke kubangan air, mangrove dan lahan pertanian. Alur jalan satwa sering disebut dengan koridor satwa. Satwa memiliki jalur pergerakan spesifik di dalam hutan yang terbentuk berdasarkan kebiasaan untuk mencari makan, ngasin dan daerah jelajah. Pemburu pasti akan memusatkan pemasangan jerat pada alur yang paling memungkinkan dilalui satwa. Pemburu pasti berusaha memodifikasi bahkan menutup area yang jalur jalan satwa liannya, agar dapat memungkinkan peluang (prosentase) satwa terjerat semakin besar.

Pada bagian tertentu dari jalur jalan satwa dipasang jerat satwa. Pada umumnya jerat satwa dipasang pada ujung alur jalan.  Tetapi bisa juga jerat dipasang pada bagian tengah jalur satwa. Untuk memperbesar peluang satwa terjerat biasaya satu alur jalur jalan satwa bisa dipasang jerat lebih dari satu buah.

Jerat satwa terbuat dari material kawat sling dan nylonyang ditunjang kayu yang lentur tapi kuat. Kawat sling atau Sling baja merupakan material baja bekas  rem atau kopling dari kendaraan bermotor yang mudah didapatkan di bengkel-bengkel perbaikan motor.

Kawat sling diikatkan pada batang kayu yang masih hidup tapi lentur dan kuat yang mampu menahan bobot satwa mamalia besar. Batang kayu tersebut sedikit dilengkukan, agar ketika jerat kawat sling diinjak dan mengikat kaki satwa maka batang pohon kembali tegak lurus dan mengikat kuat satwa yang terjerat. Satwa tidak bisa melepaskan diri.

Tali nylon biasanya untuk mengikat unggas seperti ayam hutan. Prinsip kerjanya sama dengan jerat dari kawat sling. Satu perangkat tali nylon bisa dibuat untuk memperangkap beberapa satwa.

Tindakan Taman Nasional Bali Barat

Sejak pelaksanaan smart patrol tahun 2026 dari bulan Januari sampai sekarang, TNBB melakukan langkah – langkah antisipasi perburuan satwa dan penggunaan jerat satwa untuk menangkap satwa.

1.    Menggelar smart patrol dengan pembiayaan DIPA, PKS ataupun mandiri secara intensif untuk mendapatkan data – data khususnya fitur alam berupa kubangan dan sumber air yang tersedia, serta jalur koridor satwa liar.

2.    Mempertebal patroli pembersihan jerat satwa, terutama sekitar kubangan air, area ngasin satwa dan perbatasan lahan pertanian masyarakat.

3.    Melakukan sosialisasi melalui anjangsana ke kelompok – kelompok tani hutan yang mengelola lahan perhutanan sosial di area KPH Bali Barat dan pengelolaan hutan adat untuk membantu memberikan informasi aktivitas illegal hunting (perburuan) di dalam kawasan dan perbatasan hutan.

4.    Membentuk agen – agen (informan) terkait perencanaan dan tindakan pelaksanaan perburuan dan perangkap jerat di sekitar kawasan hutan TNBB.

5.    Selalu berusaha berkoordinasi dengan stakeholder untuk mencegah perburuan liar, apalagi sudah ada bukti penggunakan senapan angin yang sudah dimodifikasi dengan kaliber yang lebih besar dan dapat membunuh satwa mamalia besar bahkan manusia.


 
Gambar 3. Jerat satwa untuk Aves yaitu ayam hutan berbahan tali nylon. Dokumentasi TNBB - Juli 2026

Tidak ada komentar: